Pemilu Sela AS: Momentum Kebangkitan Partai Demokrat
4 November 2026
Dalam pemilu selaatau paruh waktu (midterm elections) 2026, warga Amerika Serikat (AS) memberikan suara untuk memilih seluruh 435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan 35 anggota Senat. Sebelum hari pemungutan suara, Partai Republik masih menguasai mayoritas di kedua kamar Kongres atau DPR AS, meski dengan keunggulan tipis.
Pemilu sela digelar setiap empat tahun. Hasilnya akan memengaruhi arah politik AS dalam beberapa tahun ke depan. Meski Konstitusi AS memberikan kewenangan eksekutif yang besar kepada presiden, sebagian besar keputusan politik di tingkat federal harus mendapat persetujuan Kongres sebelum dapat diberlakukan.
Hasil pemilu sela AS: Demokrat raih mayoritas di Kongres dan Senat
Untuk mengikuti perkembangan terbaru, simak laporan langsung pemilu sela AS kami.
Di Senat AS, Partai Demokrat berhasil merebut sejumlah kursi yang sebelumnya dikuasai Partai Republik. Mereka memenangkan persaingan di sejumlah negara bagian yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik, seperti North Carolina, South Carolina, Kansas, Texas, dan Iowa.
Dengan hasil tersebut, Demokrat berhasil melampaui ambang batas mayoritas, yakni 51 dari total kursi Senat.
Sementara itu, seluruh 435 kursi di Kongres AS diperebutkan dalam pemilu kali ini. Demokrat berhasil melampaui ambang batas 218 kursi yang diperlukan untuk menguasai mayoritas.
Artinya, Demokrat berhasil mengambil alih kendali atas kedua kamar Kongres AS.
Bagaimana warga AS memberikan suara? Melihat demografi dan sikap pemilih
Data mengenai demografi dan sikap pemilih berasal dari survei representatif terhadap hampir 80.000 pemilih terverifikasi. Survei ini dilakukan oleh lembaga riset pasar dan opini publik SSRS atas nama Associated Press (AP) dan sejumlah organisasi media lainnya.
Data tersebut dihimpun melalui wawancara dengan pemilih yang menggunakan hak suara lebih awal maupun melalui surat, serta exit poll terhadap pemilih yang datang langsung ke tempat pemungutan suara pada hari pemilu.
Jika persentase pemilih Partai Republik dan Demokrat tidak mencapai 100%, sisanya merupakan pemilih yang memberikan suara kepada kandidat dari partai ketiga.
Republik Unggul di kalangan pria kulit putih, demokrat dominasi pemilih muda
Partai Republik masih memperoleh dukungan mayoritas dari pemilih pria kulit putih. Sebanyak 55% pria kulit putih yang disurvei memilih kandidat Partai Republik.
Sebaliknya, dukungan terbesar bagi Partai Demokrat datang dari perempuan kulit hitam. Sebanyak 92% dari kelompok ini memilih Demokrat.
Hal yang cukup mencolok, mayoritas pemilih pria maupun perempuan latino juga memberikan suara kepada Partai Demokrat. Padahal, dua tahun lalu, pemilih latino menjadi salah satu kelompok penting yang membantu mengantarkan Donald Trump kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan keduanya.
Pemilih latino beralih meninggalkan Partai Republik
Data menunjukkan Partai Republik kehilangan dukungan di seluruh kelompok demografi dibandingkan pemilu sela sebelumnya pada November 2022.
Bahkan di kalangan pria kulit putih, persentase pemilih Partai Republik turun dari 60% menjadi 55%.
Di kalangan perempuan kulit putih, dukungan terhadap Partai Republik merosot dari 56% menjadi 47%. Persentase pemilih latino yang memilih Partai Republik juga mengalami penurunan.
Demokrat unggul di Kalangan pemilih muda, masyarakat perkotaan, dan lulusan perguruan tinggi
Berdasarkan kelompok usia, dukungan terhadap Partai Demokrat paling kuat datang dari pemilih muda. Sebanyak tiga perempat pemilih berusia 18 hingga 24 tahun memberikan suara kepada Demokrat.
Sebaliknya, Partai Republik unggul di kalangan pemilih berusia 65 tahun ke atas dengan perolehan 51%.
Kesenjangan pilihan politik antara masyarakat perkotaan dan pedesaan yang selama bertahun-tahun mewarnai politik AS juga masih terlihat. Sebanyak 71% pemilih di wilayah perkotaan memilih Demokrat. Di kawasan pinggiran kota, angkanya mencapai 58%.
Sebaliknya, hampir 60% pemilih di wilayah pedesaan dan kota-kota kecil memberikan suara kepada Partai Republik.
Di kalangan pemilih yang memiliki gelar sarjana, sebanyak 62% memilih Demokrat. Sementara itu, pilihan politik pemilih tanpa gelar sarjana cenderung lebih berimbang. Sebanyak 47% memilih Demokrat dan 51% memilih Republik.
Ekonomi jadi penentu
Salah satu faktor terpenting yang memengaruhi hasil pemilu sela tahun ini adalah kondisi ekonomi.
Harga bahan bakar minyak (BBM) meningkat tajam sejak perang Iran dimulai. Di berbagai wilayah AS, harga barang kebutuhan sehari-hari juga terus mengalami kenaikan.
Hampir separuh warga AS mengatakan kondisi keuangan keluarga mereka saat ini lebih buruk dibandingkan dua tahun lalu.
Namun, persepsi tersebut berbeda di setiap kelompok pemilih. Di antara mereka yang menilai kondisi keuangan keluarganya lebih baik dibandingkan dua tahun lalu, sebanyak 75% memilih Partai Republik dan 24% memilih Demokrat.
Sebaliknya, dari kelompok yang merasa kondisi keuangan keluarganya memburuk, hanya 24% yang memilih Republik, sementara 74% memberikan suara kepada Demokrat.
Presiden Donald Trump selama ini berulang kali menyatakan bahwa kondisi ekonomi AS sedang menunjukkan perbaikan.
Imigrasi, ekonomi, atau kondisi demokrasi: Apa isu terpenting bagi pemilih?
Pandangan pemilih mengenai persoalan paling mendesak yang dihadapi AS menunjukkan perbedaan tajam berdasarkan afiliasi politik.
Di antara pemilih yang menganggap imigrasi sebagai persoalan paling penting, sebanyak 89% memilih Partai Republik dan hanya 10% memilih Demokrat.
Retorika anti-imigran menjadi salah satu tema utama dalam pidato-pidato Trump. Pada awal masa jabatan keduanya, ia berjanji meningkatkan jumlah deportasi imigran.
Sejumlah negara bagian juga mengalami peningkatan tajam aktivitas lembaga imigrasi federal. Petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) menangkap para imigran di jalanan, termasuk mereka yang masih menjalani proses pengajuan suaka.
Trump dan para pendukungnya menilai langkah-langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan keamanan AS.
Sementara itu, di antara pemilih yang menganggap kondisi demokrasi sebagai persoalan paling mendesak, sebanyak 78% memberikan suara kepada Demokrat.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat dan para pendukungnya menyatakan kekhawatiran atas tindakan Trump yang dinilai mengabaikan perintah langsung pengadilan, misalnya perintah untuk menghentikan deportasi, maupun resolusi Kongres.
Adapun di kalangan pemilih yang menganggap ekonomi sebagai persoalan paling penting, dukungan terhadap Partai Republik dan Demokrat relatif berimbang.
Kebijakan AS terhadap Iran dan Israel
Pemilih AS terbelah dalam menyikapi sejumlah keputusan penting kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.
Di antara mereka yang menilai perang gabungan AS-Israel terhadap Iran sebagai keputusan yang tepat, sebanyak 91% merupakan pemilih Partai Republik dan hanya 7% pemilih Demokrat.
Sebaliknya, dari kelompok yang menganggap serangan terhadap Iran sebagai keputusan yang keliru, 82% merupakan pemilih Demokrat dan 16% pemilih Republik.
Dukungan AS terhadap Israel telah menjadi isu yang sangat kontroversial sejak Israel melancarkan serangan ke Jalur Gaza sebagai balasan atas serangan teror Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Kedua negara telah lama menjalin kemitraan strategis. AS merupakan sekutu terpenting Israel, sementara pemilih Yahudi menjadi salah satu kelompok demografi penting dalam politik Amerika.
Namun, seiring memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, dukungan masyarakat AS terhadap Israel mulai mengalami perubahan, terutama di kalangan generasi muda dan kelompok liberal.
Di antara pemilih yang menilai dukungan AS terhadap Israel terlalu besar, sebanyak 78% merupakan pemilih Demokrat dan 20% pemilih Republik.
Sementara itu, di antara mereka yang menganggap tingkat dukungan AS terhadap Israel sudah tepat, hanya seperempat yang merupakan pemilih Demokrat.
Kebijakan domestik: Ketidakpuasan terhadap Kongres dan arah negara
Di antara pemilih yang tidak puas dengan kinerja Kongres dan Senat AS, sepertiganya merupakan pemilih Partai Republik.
Polarisasi politik yang semakin tajam di AS membuat upaya mencapai kompromi untuk mengesahkan undang-undang maupun menyetujui anggaran negara di Kongres semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut kemungkinan turut memicu ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja lembaga legislatif.
Di antara pemilih yang menilai AS sedang bergerak ke arah yang benar, hanya 4% merupakan pemilih Demokrat.
Sebaliknya, dari kelompok yang menyatakan tidak puas atau bahkan marah terhadap arah kebijakan AS saat ini, sebanyak 70% merupakan pemilih Demokrat dan 27% pemilih Republik.
Sementara itu, sebanyak 92% pemilih yang menyatakan mendukung tindakan ICE merupakan pendukung Partai Republik. Sebaliknya, di antara mereka yang tidak menyetujui tindakan lembaga tersebut, 86% merupakan pemilih Demokrat.
Pandangan pemilih terhadap kebijakan tarif Trump juga terbelah berdasarkan garis partai. Sebagian besar pemilih Republik menilai kebijakan tersebut membantu perekonomian AS.
Trump sebelumnya memberlakukan kenaikan tarif impor secara tajam terhadap barang-barang dari sejumlah besar mitra dagang AS. Ia menyatakan kebijakan tersebut bertujuan memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan yang dinilai tidak adil sekaligus melindungi industri manufaktur dalam negeri.
Trump juga menggunakan tarif untuk menghukum negara-negara yang dianggap bertindak bertentangan dengan kepentingan politiknya.
Namun, kebijakan perdagangan tersebut turut membuat harga berbagai barang di AS semakin mahal.
Tingkat kepuasan terhadap Trump merosot
Nama Donald Trump memang tidak tercantum dalam surat suara pemilu sela. Namun, hasil pemilu ini dipandang sebagai referendum terhadap kinerja Trump dan Partai Republik dalam memerintah AS selama dua tahun terakhir.
Dalam beberapa waktu terakhir, tingkat kepuasan publik terhadap Trump merosot ke titik terendah sepanjang masa kepresidenannya. Kurang dari 30% warga AS menyatakan menilai kinerjanya sebagai presiden baik.
Dalam sejarah politik AS belakangan ini, hanya George W. Bush yang mencatat tingkat kepuasan lebih rendah, yakni 25% menjelang akhir masa jabatan keduanya.
Pada pemilu sela 2006, Partai Republik yang dipimpin Bush juga kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres AS.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi dari oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha