1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kemenangan Kubu Kiri di Serbia dan Brasil Rugikan Trump

2 November 2026

Flávio Bolsonaro gagal berkuasa di Brasil, Aleksandar Vučić tersingkir di pemilu Serbia, dan posisi Benjamin Netanyahu melemah di Israel. Trump pun menuding adanya kecurangan pemilu.

Kerumunan orang, yang difoto dari atas, sedang mengibarkan bendera Brasil dan Amerika. Di tengah-tengah, sejumlah orang mengangkat potongan gambar Donald Trump yang berukuran sangat besar.
Para pendukung Flavio Bolsonaro menunjukkan dukungan mereka terhadap Donald Trump selama kampanye pemilihan umum di BrasilFoto: Alexandre Meneghini/REUTERS

Pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikatakan segera berlangsung. Pada Selasa, 3 November, warga AS akan memilih wakil mereka di Kongres. Partai Republik yang berhaluan konservatif-kanan dan dipimpin Presiden Donald Trump saat ini menguasai mayoritas kursi di kedua kamar Kongres.

Namun, hasil pemilu di sejumlah negara lain sudah diketahui. Mayoritas pemilih di Serbia dan Brasilmemberikan suara kepada kubu kiri. Hasil tersebut tidak akan memengaruhi pemilu paruh waktu di AS. Meski demikian, kemenangan gerakan Student List di Serbia dan presiden petahana Luiz Inácio "Lula" da Silva di Brasil menjadi kabar buruk bagi Trump.

Di Serbia, Trump kehilangan sekutu pentingnya di Eropa, yakni Presiden Aleksandar Vučić yang akan segera mengakhiri masa jabatannya. Sementara itu, di Brasil, kubu Trump sebelumnya berharap Flávio Bolsonaro dapat meraih kemenangan.

Sekutu Trump sekaligus mantan presiden Aleksandar Vucic mengalami kekalahan dalam pemilihan parlemen Serbia pada tanggal 25 OktoberFoto: Darko Vojinovic/AP Photo/picture alliance

"Trump merupakan pendukung kuat Jair Bolsonaro, sosok yang mirip dengannya dan menjabat sebagai presiden sebelum dikalahkan Lula pada 2022, serta putranya, Flávio," kata Lawrence J. Haas, peneliti senior kebijakan luar negeri AS di American Foreign Policy Council. Pada 1990-an, Haas menjabat sebagai direktur komunikasi Al Gore, wakil presiden AS di era Bill Clinton.

"Trump tidak senang dengan kekalahan kedua Bolsonaro dan tidak memiliki hubungan yang hangat dengan Lula. Karena itu, hubungan kedua negara kemungkinan akan tetap dingin, paling tidak," lanjutnya.

Trump sebut pemilu Brasil "curang"

Flávio Bolsonaro tengah diselidiki di Brasil atas dugaan korupsi dan pencucian uang. Setelah kalah dalam pemilu, ia meninggalkan Brasil dan pergi ke Florida, Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri AS memberikan visa masuk kepada Flávio dan keluarganya meski proses hukum terhadapnya masih berlangsung.

Bolsonaro menolak mengakui kekalahannya. Sebaliknya, ia mengeklaim terdapat kecurangan dalam pemungutan suara. Sikap ini mengingatkan pada Trump, yang hingga kini masih secara keliru mengeklaim bahwa Joe Biden dan Partai Demokrat "mencuri" kemenangan dalam pemilu AS 2020.

Pernyataan Trump mengenai kekalahan Bolsonaro pun terdengar serupa.

"Sejujurnya, pemilu itu tampak seperti pemilu lain yang dicurangi," kata Trump pada Senin. "Pemilu harus berlangsung tanpa menyisakan keraguan, dan menurut saya, pemilu itu terlihat sangat buruk."

Rusia serang fasilitas energi Ukraina

01:10

This browser does not support the video element.

Hubungan baik dengan Vučić, sekutu Putin

Aleksandar Vučić memimpin Serbia sebagai presiden dengan tangan besi sejak 2017. Ia mengundurkan diri menjelang pemilu kali ini untuk maju sebagai perdana menteri, jabatan yang pernah diembannya pada 2014 hingga 2017.

Vučić pernah mengatakan bahwa ia dan Presiden Trump memiliki pandangan yang serupa. Putra sulung Trump, Donald Jr., mengunjungi Vučić di Beograd menjelang pemilihan presiden AS pada November 2024, lalu kembali beberapa bulan kemudian.

Konferensi Aksi Politik Konservatif AS (Conservative Political Action Conference atau CPAC), yang memiliki hubungan erat dengan gerakan MAGA (Make America Great Again) pendukung Trump, baru-baru ini mengumumkan rencana penyelenggaraan pertemuan di Beograd pada November. Vučić dijadwalkan menjadi pembicara utama. Namun, belum jelas apakah rencana tersebut masih akan dilanjutkan.

Kesamaan lain antara Vučić dan Trump adalah sikap mereka terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Serbia yang akan segera mengakhiri masa jabatannya itu memiliki pandangan yang jauh lebih positif terhadap Putin dibandingkan sebagian besar pemimpin negara Eropa lainnya.

Vučić tidak mengikuti langkah negara-negara Uni Eropa dalam menjatuhkan sanksi kepada Rusia setelah negara itu melancarkan perang agresi terhadap Ukraina. Beograd masih membeli bahan mentah dari Rusia. Di bawah pemerintahan Vučić, media pemerintah Serbia juga menggambarkan Rusia secara lebih positif dibandingkan Uni Eropa.

Trump juga tampak semakin condong ke Moskow. Utusan khususnya, Steve Witkoff, baru-baru ini menyebut Putin sebagai sosok yang "berjiwa kemanusiaan". Dalam sebuah wawancara, Trump sendiri secara terbuka mengakui bahwa hubungannya dengan Putin lebih baik dibandingkan hubungannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Berakhirnya pemerintahan Vučić kini berarti Trump kehilangan salah satu dari sedikit sekutunya di Eropa yang memiliki pandangan serupa dengannya.

Rusia Serang Kyiv saat Kanselir Jerman Berkunjung

00:51

This browser does not support the video element.

Israel: Hasil akhir belum jelas

Hasil pemilu diIsrael masih berpotensi menguntungkan Trump. Dengan lebih dari 96 persen suara telah dihitung, blok sayap kanan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu unggul. Namun, Netanyahu yang merupakan sekutu Trump telah kehilangan mayoritas kursinya, sehingga negosiasi untuk membentuk koalisi pemerintahan diperkirakan akan berlangsung sulit.

Trump dan Netanyahu telah menjalin hubungan erat jauh sebelum Februari tahun ini, ketika keduanya bekerja sama melancarkan perang terhadap Iran. Pada 2018, saat menjalani masa jabatan pertamanya, Trump memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan ini menuai kontroversi karena Israel dan Palestina sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka. Langkah tersebut disambut baik oleh kubu Netanyahu.

Hingga kini, Amerika Serikat masih menjadi mitra terpenting Israel, sementara Israel merupakan sekutu penting AS di kawasan tersebut. Namun, belum jelas bagaimana hubungan kedua negara akan berkembang jika Israel dipimpin oleh pemerintahan yang berbeda.

Jika Netanyahu tetap berkuasa, kemungkinan hanya sedikit perubahan yang akan terjadi, atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali.

Pemimpin sayap kanan Israel, Benjamin Netanyahu, menonjolkan kedekatannya dengan Trump dalam kampanye pemilihannyaFoto: Oded Balilty/AP Photo/picture alliance

Peluang Trump tak cerah dalam pemilu paruh waktu

Kekalahan Vučić membuat Trump kehilangan sekutu setianya. Sementara itu, kemenangan Lula berarti presiden yang tidak disukainya tetap berkuasa di Brasil. Kedua hasil ini bukan kabar baik bagi Trump. Namun, analis kebijakan luar negeri Haas menilai, hasil pemilu di kedua negara tersebut tidak akan memengaruhi pemilu paruh waktu yang akan berlangsung di AS.

"Warga Amerika akan memberikan suara berdasarkan isu-isu yang memengaruhi kehidupan mereka dan bagaimana mereka menilai partai yang sedang berkuasa," kata Haas.

Namun, situasi di dalam negeri juga tidak memberikan prospek cerah bagi Trump. "Menjelang pemilu paruh waktu, tingkat persetujuan terhadap Trump merupakan yang terendah dibandingkan presiden AS mana pun sejak Harry Truman pada 1946," ujar Haas.

"Warga Amerika sangat khawatir dengan biaya hidup dan sangat menentang perang AS terhadap Iran," lanjutnya.

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Ayu Pruwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait