1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemogokan KA di Jerman dan Perancis

15 November 2007

Gelombang globalisasi dan reformasi yang amat menggebu-gebu, kini mulai mendapat perlawanan.

Stasiun yang biasanya hiruk pikuk kini kosong akibat pemogokan masinis KA di Jerman.
Stasiun yang biasanya hiruk pikuk kini kosong akibat pemogokan masinis KA di Jerman.Foto: AP

Pemogokan massal serikat buruh kereta api di Perancis dan para masinis di Jerman menjadi tema komentar dalam tajuk sejumlah harian terkemuka di Eropa. Harian Swiss Tages-Anzeiger yang terbit di Zürich dalam tajuknya mengomentari pemogokan serikat masinis kereta api di Jerman : Pemogokannya justru dilancarkan sekarang ini, di saat Eropa dalam kondisi mampu melewati posisi AS sebagai lokomotiv pertumbuhan dunia, dimana konjunktur itu seharusnya menambah isi dompet pegawai kecil. Namun di sinilah terletak masalahnya. Pemogokan para masinis kereta api terbesar sepanjang sejarah Jerman itu merupakan luapan rasa frustrasi yang tersumbat cukup lama. Bertahun-tahun lamanya mereka harus rela tidak naik gaji, untuk memberikan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Perlawanan para masinis kereta api di Jerman tsb, merupakan sinyal peringatan kepada sektor ekonomi dan politik, untuk sedikit menurunkan kecepatan perubahan yang dipicu globalisasi. Barangsiapa seperti direktur utama perusahaan kereta api Jerman-Deutsche Bahn, Hartmut Mehdorn, yang tidak mau mendengar tuntutan karyawannya, jangan heran jika haluan globalisasinya mendapat perlawanan keras.

Harian Jerman Rhein-Neckar Zeitung yang terbit di Heidelberg berkomentar : Apakah nantinya para masinis naik gaji 30 persen, atau direktur utama Deutsche Bahn, Hartmut Mehdorn yang harus mundur, hanya satu pihak yang tetap menjadi pemenang, yakni para politisi. Mehdorn diangkat oleh kanselir sebelumnya, Schröder dengan tugas utama melakukan swastanisasi bergaya buldozer. Sejak saat itu daftar perjalanan perusahaan kereta api hanya punya satu tujuan, yakni masuk ke bursa. Jika direktur utama Deutsche Bahn mampu menunjukan potensi keuntungan milyaran Euro, dan membungkam tuntutan naik gaji para masinis, berarti ia melakukan tugasnya dengan baik. Tapi, semua iming-iming keuntungan itu tidak mampu melindunginya dari ancaman pemecatan. Sebab jika situasi bertambah gawat, para politisi hanya punya satu sasaran, yakni keluar harus tetap bercitra bersih.

Sementara harian Italia Corriere della Sera yang terbit di Milano dalam tajuknya mengomentari pemogokan buruh kereta api di Perancis : Untuk pertama kalinya alasan untuk melancarkan pemogokan umum, yakni reformasi peraturan pensiun dini buruh kereta api, tidak dapat diterima mayoritas publik. Warga Perancis kini merasa sebagai sandera dari serikat buruh kereta api. Menimbang pendapat umum yang mendukung keseragaman aturan, hal itu mendorong presiden Nicolas Sarkozy dan pemerintahannya untuk melakukan ujicoba kekuatan.

Terakhir harian Spanyol El Mundo yang terbit di Madrid juga menyoroti pemogokan buruh kereta api di Perancis. Juga jika pemogokan tanpa batasan waktu dilanjutkan, serikat buruh kereta api Perancis sudah menunjukan pertanda pertama dari kelemahannya. Mereka menyatakan siap berunding dengan pemerintah, yang pada prinsipnya sebuah penerimaan atas rencana reformasi sistem pensiun. Presiden Nicolas Sarkozy memang berbeda dengan para pendahulunya. Ia tetap mempertahankan haluan reformasinya walaupun dilawan dengan aksi pemogokan umum. Keberuntungan berada di pihak Sarkozy, karena mayoritas rakyat Perancis mendukung kebijakan reformasinya. Sarkozy menjadikan reformasi sistem pensiun sebagai sebuah pertaruhan gengsi, dimana ia tetap bersikap keras.