1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pendekatan Baru AS dan Cina

29 Juli 2009

AS dan Cina saling tergantung satu dengan yang lainnya. Cina kini harus berperan sebagai lokomotif penghela ekonomi AS yang lumpuh dilanda krisis.



Pendekatan antara AS dan Cina yang ditandai dengan konferensi ekonomi di Washington, menjadi tema komentar harian internasional.

Harian konservatif Norwegia Aften Posten yang terbit di Oslo dalam tajuknya berkomentar : Utang piutang mewarnai hubungan kedua negara, sebagai pemberi dan penerima kredit. Pinjaman sebesar 800 milyar Dolar yang diberikan Cina kepada AS menciptakan kekuasaan dan ketidak berdayaan di kedua belah pihak. Utang menciptakan pengaruh Beijing terhadap Washington. Di sisi lainnya, Cina tidak boleh melancarkan tekanan terlalu berat, karena hal itu akan membahayakan klaimnya sendiri. Sementara, AS juga tidak boleh terlalu menekan Cina, misalnya dalam tema hak asasi manusia. Presiden Barack Obama mengatakan, hubungan antara AS dan Cina akan membentuk sosok abad ke 21. Pernyataan itu memang tidak berlebihan.

Harian Perancis Le Figaro yang terbit di Paris berkomentar : Arti penting forum pertemuan dua hari AS-Cina di Washington itu tidak boleh diremehkan. Negara adidaya saat ini AS dan negara adidaya masa depan Cina, dapat mencapai berbagai kesepakatan, untuk merancang masa depan planet kita ini. Gambaran ini sebagian memang masih berupa fantasi, karena belum semua hal disepakati oleh Washington dan Beijing. Juga pada dasarnya, AS dan Cina tidak akan dapat sepakat dalam semua hal. Tapi, paling tidak ini adalah pertemuan dalam lingkaran kecil antara AS dan Cina, yang dapat memutuskan berbagai masalah penting. Sementara negara-negara lainnya hanya melakukan omong kosong.

Harian Jerman Süddeutsche Zeitung yang terbit di München berkomentar : Sudah lewat masa-masa dimana tokoh politik AS menjual tema pelanggaran hak asasi manusia di Cina. Sebab, utang Washington sebesar 800 milyar Dolar kepada Beijing, menjadikan negara adidaya itu terpuruk posisinya. Tidak mengherankan, jika menteri luar negeri Hillary Clinton memuji dialog Cina-AS sebagai sebuah awal baru yang positif. Dan Barack Obama menyatakan, kedua negara akan menentukan sosok abad ke 21. Tapi perimbangan apa yang akhirnya akan dicapai kedua negara adidaya itu, sejauh ini belum diketahui. Yang sudah jelas, Amerika maupun Cina cukup percaya diri, dan tidak mempedulikan pihak ketiga. Tidak ada yang menyinggung Eropa dalam pertemuan puncak itu.

Dan terakhir harian Jerman Neue Osnabrücker Zeitung yang terbit di Osnabrück berkomentar : Presiden Obama mengatakan, dalam jangka pendek Cina memiliki kewajiban menjadi lokomotif penghela ekonomi AS yang saat ini lumpuh. Dengan itu, Obama sekaligus juga mengingatkan Cina, bahwa dalam jangka panjang negara ini memiliki tanggung jawab terhadap politik dunia. Sebab, Cina memainkan peran besar dalam sejumlah konflik aktual, dari ambisi atom Iran dan Korea Utara hingga krisis di Afghanistan dan di Myanmar. Semua kecaman dari luar sejauh ini ibaratnya membentur tembok besar Cina. Kini Obama berusaha dengan taktik mengelus untuk mendekati Beijing. Eropa akan menjadi figuran dalam permainan politik dunia, jika tidak mampu tampil kompak dan kuat.


AS/dpa/afpd

Editor : Asril Ridwan