1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KriminalitasTurki

Turki: Ratusan Ditangkap Setelah Penembakan di Dua Sekolah

Patrick Große
16 April 2026

Dalam waktu 48 jam, dua aksi penembakan terjadi di dua sekolah di Turki. Sembilan orang dilaporkan tewas dan banyak yang terluka. Pihak berwenang memantau reaksi atas insiden tersebut di ranah digital.

Kahramanmaras, Turki 2026 | Petugas medis di lokasi penembakan di sebuah sekolah.
Petugas medis di lokasi penembakan di sebuah sekolah di Kahramanmaras, TurkiFoto: Orhan Erkilic/AFP

Pihak berwenang Turki telah menahan lebih dari 160 orang terkait dengan dua serangan senjata api mematikan di sekolah, yang terjadi dua hari berturut-turut.

Para tersangka dituduh telah menyebarkan informasi menyesatkan dan memuji penembakan di sekolah yang terjadi minggu ini. Demikian disampaikan oleh Menteri Kehakiman Turki, Akin Gürlek, melalui platform X.

Gürlek menjelaskan bahwa 95 orang ditahan karena telah menyebarkan gambar dan video terkait insiden tersebut. Konten-konten tersebut berpotensi memicu "ketakutan dan kepanikan” di kalangan masyarakat. Pemblokiran informasi telah diberlakukan.

Selain itu, 35 tersangka lainnya masih dalam pencarian. Akses ke 1.104 akun media sosial pun telah diblokir, jelas Gürlek.

Penyidik pun telah mengidentifikasi akun-akun yang secara khusus menargetkan sekolah-sekolah dan mengisyaratkan kemungkinan serangan. 67 pengguna akun terkait dengan postingan tersebut telah ditangkap.

Pelaku diduga memperoleh senjata dari sang ayah

Pada hari Rabu (15/4), seorang remaja berusia 14 tahun menembak mati delapan siswa dan seorang guru di kota Kahramanmaras, Turki selatan, 13 lainnya terluka. Beberapa korban harus dirawat di unit perawatan intensif, tiga di antaranya sempat berada dalam kondisi kritis.

Menurut otoritas berwenang, remaja tersebut membawa beberapa senjata api dan tujuh tabung berisi peluru ke sekolah dalam sebuah ransel. Siswa tersebut menerobos masuk ke dua ruang kelas dan menggencarkan tembakan secara membabi buta. Senjata-senjata tersebut diduga milik ayahnya, seorang mantan polisi, yang kini telah ditangkap bersama ibu pelaku.

Dalam sebuah video yang direkam oleh seorang warga dan diverifikasi oleh kantor berita AFP, terlihat anak-anak melompat dari jendela lantai satu dalam keadaan panik sedang yang lainnya melarikan diri melintasi halaman sekolah. Dalam rekaman berdurasi sekitar satu setengah menit itu, terdengar teriakan serta 15 kali tembakan.

Pihak berwenang memberlakukan larangan pemberitaan detail kasus

Saksi mata juga menggambarkan adegan-adegan dramatis. "Anak saya menjadi saksi,” kata Ömer Erdag kepada AFP. "Dia berkata, ‘Ayah, teman saya terluka'. Ia tidak melihat anak-anak lainnya. Ada banyak darah di dalam.”

Rekaman dari kantor berita IHA juga menunjukkan bagaimana sebuah jenazah yang ditutupi dibawa ke ambulans. Di depan sekolah, banyak orang tua yang menangis menunggu.

Pelaku sendiri tewas. Menurut pihak berwenang, belum jelas apakah pelaku bunuh diri atau telah terjadi kekacauan yang menewaskannya, kata Gubernur Kahramanmaras, Mükerrem Ünlüer. Kejaksaan Agung telah memulai penyelidikan, sementara itu diberlakukan larangan pemberitaan mengenai detail kasus ini.

16 orang terluka dalam serangan di sekolah lain

Jejak digital dari aksi penembakan tersebut menjadi fokus utama. Pada profil WhatsApp-nya, remaja pelaku penembakan tersebut merujuk pada Elliot Rodger, pelaku penyerangan asal AS di tahun 2014 yang membunuh enam orang di California dan kemudian bunuh diri.

Sebelumnya, pelaku telah mengungkapkan rasa frustrasi atas keperjakaannya dan penolakan dari para perempuan. Pihak berwenang kini menyelidiki kemungkinan hubungan antara konten online dengan tindakan kekerasan serta secara khusus menindak komentar-komentar terkait melalui surat perintah penangkapan.

Pada hari Selasa (14/4), seorang mantan siswa di kota Siverek, bagian tenggara, telah melepaskan tembakan di sekolah lamanya dan melukai 16 orang. Di antara korban terdapat sepuluh siswa, empat guru, seorang polisi, dan seorang pegawai kantin. Pelaku kemudian bunuh diri.

Orang tua yang cemas menunggu di depan gedung setelah aksi penembakan di sebuah sekolah di KahramanmarasFoto: Orhan Erkilic/AFP

Guru-guru berdemonstrasi, menuntut keamanan yang lebih baik di sekolah-sekolah

Rangkaian kekerasan ini telah memicu kekhawatiran di seluruh negeri. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebutnya sebagai "serangan tragis” dan berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh.

Ketua Parlemen Numan Kurtulmus menyatakan, "Hati kami hancur. Kami menyampaikan belasungkawa kepada seluruh bangsa.” Di Kahramanmaras, sekolah-sekolah ditutup sementara.

Tekanan terhadap pemerintah juga semakin meningkat. Di Ibu Kota Ankara, lebih dari 3.500 guru berdemonstrasi dan menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan. "Darah telah menodai profesi saya” dan "Di manakah kalian saat anak-anak tewas?” teriak para demonstran.

Serangan senjata api relatif jarang terjadi di Turki. Pada Mei 2023, seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah menembak mati kepala sekolah berusia 74 tahun di sekolah lamanya. Setelah melarikan diri, pelaku ditangkap. Tindakan kekerasan tersebut memicu perdebatan di seluruh negeri.

Ribuan guru saat itu merespon dengan berdemonstrasi di Istanbul, menuntut pengamanan yang lebih baik di sekolah-sekolah.

Para guru melakukan aksi protes di Ankara, menuntut peningkatan keamanan di sekolah-sekolahFoto: Adem Altan/AFP

Di Turki, kepemilikan senjata api diatur secara ketat. Kepemilikan senjata api memerlukan pendaftaran dan izin khusus, termasuk bukti kelayakan psikologis serta pemeriksaan riwayat kriminal.

Kepemilikan senjata api ilegal dikenakan hukuman berat. Namun, menurut perkiraan sebuah yayasan Turki, masih banyak senjata api yang beredar di Turki, sebagian besar di antaranya ilegal.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih