1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Lindungi Alam, Penenun India Beralih ke Alat Tradisional

Catherine Gilon
21 Februari 2021

Industri kapas India mencemari sungai dan lingkungan, dan para pekerja sering kali dibayar rendah. Tenun tangan tradisional, cabai, dan pewarna alami diharapkan bisa membawa perubahan.

Penenun tradisional di India
Penenun tradisional di IndiaFoto: Vikram Venkatraman/DW

Di desa Chithode di wilayah Tamil Nadu, India, udara dipenuhi cericit nyanyian burung dan bunyi klik-klak yang teratur dari alat tenun tradisional. Dua perempuan dalam balutan kain sari menggunakan charka (roda) untuk mengatur tegangan benang, yang kemudian digulung menjadi gelondong kecil. Sementara tujuh pria secara sinkron menekan pedal dengan kaki mereka.

Di antara mereka ada Thamaraikannan. Lelaki berusia 23 tahun ini tengah menenun benang berwarna biru langit dengan ketepatan yang tinggi. "Saya berasal dari keluarga penenun di Erode, jadi saya tumbuh besar di tengah-tengah benang dan alat tenun," ujarnya.

Seperti kebanyakan rumah di daerah itu, keluarganya memiliki tharikuzhi, atau alat tenun lubang, yang dipasang di lantai, tempat mereka menenun sari sutra. Tetapi pandemi telah berdampak buruk bagi bisnis mereka. Karena itu, Thamaraikannan lalu bekerja di Oshadi, sebuah inisiatif berkelanjutan yang mengusung prinsip "dari benih ke lemari" di Erode, wilayah pusat tekstil di India selatan.

Dia tidak sendiri yang mengalami pukulan pandemi. Thamaraikannan mengatakan telah terjadi eksodus massal dari operasi industri rumahan ke pabrik tekstil komersial dan industri penyamakan kulit di Erode. Penenun rumahan, yang sebagian besar adalah perempuan yang lebih tua, tidak cukup menghasilkan pendapatan untuk bertahan hidup. 

Nishanth Chopra, 26, adalah pengusaha di balik inisiatif Oshadi. Ia dibesarkan di Erode, "di antara tekstil, kulit, dan rempah-rempah." Saat memulai produksi merek pakaian wanita pada tahun 2016, dia mulai mempertanyakan bagaimana industri ini memperlakukan pengrajin dan lingkungannya. Pekerja tekstil India sering dibayar rendah. Pertanian kapas di negara ini pun mengonsumsi air dalam jumlah besar dengan sistem monokultur. Pewarna kimia mencemari sungai dan air tanah.

Selain itu, di India, meski lahan pertaniannya yang ditanami kapas hanya 5%, segmen lahan tersebut menyerap 55% pestisida yang dipakai untuk pertanian. Jadi, Chopra mulai memeriksa ulang seluruh rantai produksi, selangkah demi selangkah.

Thamaraikannan bekerja untuk Oshadi dan merupakan salah satu penenun termuda yang melakukan alat tenun tradisional di distrik tersebut.Foto: Vikram Venkatraman/DW

Pertanian kapas organik

Awalnya, Chopra bekerja dengan koperasi penenun kain tenun, tetapi menemukan bahwa para penenun hanya menerima kurang dari setengah harga yang dia bayarkan untuk kain. Jadi, dia mulai bekerja dengan penenun secara langsung dan mendukung para pengrajin dengan berinvestasi di alat tenun mereka.

Langkah selanjutnya adalah membuat pewarna alami untuk tekstil yang dia bagikan sendiri kepada pencelup, dengan jaminan bahwa dia akan membeli kembali hasilnya dengan harga premium. Oshadi membantu juga membantu para petani kapas untuk beralih dari sistem pertanian tunggal ke pertanian organik regeneratif, yang menurut Chopra berarti kembali ke bagaimana pertanian dilakukan secara tradisional di India.

Salah satu pertanian mitranya ada di Kaanchi Kovil, tidak jauh dari tempat kapas yang dihasilkan akan ditenun di Erode. Di pertanian itu, gram hijau dan urad dal ditanam di antara tanaman kapas untuk menyuburkan tanah. Tumbuhan jarak ditanam di perbatasan. "Kami menggunakan ini sebagai sistem peringatan hama," direktur pertanian Sivashankar menjelaskan.

"Biasanya hama kapas menyerang daun jarak lebih dulu. Ini menandakan sudah waktunya kita menggunakan pestisida organik." 

Tamil Selvi, seorang petani berpengalaman yang menerima pelatihan dari Oshadi untuk beralih ke metode organik, mengatakan formula "3G" dari ekstrak jahe, bawang putih dan cabai hijau mencegah kutu tepung dan hama lainnya, sambil melakukan tumpangsari dengan tanaman pedas atau pahit seperti nimba atau neem, erukku atau adhatoda untuk mencegah ternak merumput di tempat yang tidak semestinya.

Jejak khadi dari masa Mahatma Gandhi

Ananthoo adalah seorang pengusaha yang telah berkecimpung dalam bisnis makanan organik di India selatan selama beberapa waktu. Saat terjadi tingkat bunuh diri yang mengkhawatirkan di kalangan petani kapas, ia termotivasi mendirikan merek pakaian katun organik Tula pada tahun 2014.

Namun, pertama-tama, dia ingin mencari tahu lebih banyak tentang industri ini. "Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan dengan kapas, jadi langkah pertama yang kami lakukan adalah pergi ke 'jalur khadi' di seluruh negeri."

Selama perjuangan kemerdekaan India, para pemimpin seperti Mahatma Gandhi mempromosikan khadi - kain tenun India yang dipintal dengan tangan - sebagai alternatif untuk mengimpor kain dari penguasa Inggris dan sebagai sarana kemandirian ekonomi yang akan membantu menyatukan desa-desa India melawan pemerintahan kolonial.

Tetapi bahkan pada tahun 1908, ketika Gandhi mengusulkan khadi sebagai "obat mujarab untuk pengatasi penigkatan kemiskinan di India," dia mengaku kesulitan menemukan pengrajin yang tahu bagaimana menggunakan alat tenun tradisional dan roda pemintalnya. 

Nishanth Chopra, pendiri Oshadi, ingin membersihkan industri tekstil India dan memastikan para pekerjanya dibayar lebih baik.Foto: Vikram Venkatraman/DW

Dalam perjalanannya, Ananthoo menemukan bahwa pabrik komersial hampir membuat industri tenun tradisional gulung tikar, mendorong pengrajin ke jurang kemiskinan. "Ke mana pun kami pergi, pengrajin memberi tahu kami bahwa mereka adalah yang terakhir di keluarga mereka yang mengerjakan tenunan tradisional," katanya.

"Alih-alih mendirikan unit sendiri, kami memutuskan untuk bekerja dengan lembaga khadi yang gagal ini dan memberi mereka bayaran yang lebih baik."

Seperti Oshadi, Tula mendukung petani untuk beralih ke kapas organik asli, yang menurut Ananthoo dianggap lebih tahan terhadap perubahan kondisi iklim, dapat bertahan dari kekeringan dan hujan di luar musim.

"Kami sekarang menciptakan hampir 100 mata pencaharian dalam rantai nilai berkelanjutan kami, dari benih hingga kain," kata Ananthoo.

Menghidupkan kembali tradisi demi sungai

C Sivagurunathan dulunya adalah seorang pekerja IT di Bengaluru. "Dulu keinginan terbesar saya adalah membeli mobil BMW," kenangnya. Tetapi membaca esai tentang air virtual - biaya tersembunyi dalam air komoditas - mengingatkannya pada Sungai Noyyal yang mengalir melalui desanya dan kini tengah sekarat.

Sungai Noyyal mengalir melalui distrik Tiruppur, Erode dan Karur, yang semuanya memiliki kelompok industri tekstil yang memompa limbah yang mengandung bahan kimia beracun ke dalam air. Sivagurunathan mengatakan dia menyaksikan sungai yang dipenuhi buih dan lahan pertanian sekitarnya menjadi tandus.

Berasal dari keluarga penenun, ia memutuskan untuk mendirikan sebuah perkumpulan tenun tradisional, bernama Nurpu, untuk menunjukkan bagaimana tekstil dapat diproduksi tanpa menimbulkan kerusakan sedamikian rupa.

Sivagurunathan mulai dengan menjual kain tanpa pewarna dan tanpa pemutih, tetapi tidak berhasil. Sekarang dia mencoba pewarna alami pada kapas organik dan mempromosikan kain tanpa pemutih untuk barang seperti handuk. Seperti Tula, Nurpu berfokus pada pasar India, dan menjual ke segmen premium untuk membantu membayar pengrajin dengan lebih baik.

Suatu hari, Sivagurunathan ingin mendanai museum tempat "di mana seorang anak dapat melihat proses dari benih menjadi kain." Dan dia tidak lagi merindukan BMW yang boros bahan bakar itu.

Dengan perubahan iklim yang telah menekan para petani India, dia yakin menghidupkan kembali teknologi sebelum era revolusi industri adalah jalan bagi masa depan.

(ae/yp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait