1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Penerbit Indonesia di Pentas Dunia

Anton Kurnia20 Juni 2016

Setelah lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka, bagaimanakah situasi dunia penerbitan nasional kita? Berikut ulasan Anton Kurnia.

Foto: DW/R. Nugraha

Secara umum, harus diakui kita masih ketinggalan dari banyak negara lain. Dari sisi produktivitas menerbitkan buku, angka 30.000 judul setahun jelas sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk kita yang 240 juta jiwa.

Bandingkan dengan tetangga kita Malaysia yang populasinya jauh lebih sedikit, tapi produksi bukunya kurang lebih sama dengan kita.

Dalam hal minat baca yang erat kaitannya dengan perkembangan dunia perbukuan, situasinya juga memprihatinkan.

Menurut data Biro Pusat Statistik pada 2010, persentase penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun yang melek huruf cukup tinggi, yakni 96,07 %. Namun, data UNESCO 2012 menunjukkan angka minat baca di Indonesia adalah 0,001.

Artinya hanya ada 1 dari 1.000 penduduk Indonesia yang memiliki minat baca serius. Itu artinya hanya sekitar 240.000 orang. Angka tersebut jauh dari angka kelas menengah Indonesia yang diperkirakan mencapai 150 juta jiwa.

Penulis opini: Anton KurniaFoto: privat

Itu tercermin dari jumlah penjualan buku nasional yang hanya sekitar 33 juta eksemplar setahun. Artinya, bisa digambarkan secara kasar bahwa dalam setahun hanya ada satu dari tujuh orang Indonesia yang membeli buku. Itu pun hanya satu eksemplar!

Namun, industri penerbitan kita mendapatkan momentum luar biasa setelah Indonesia menuai sukses sebagai Tamu Kehormatan di Pekan Buku Frankfurt (PBF) 2015. Keberhasilan itu antara lain ditandai dengan ketertarikan penerbit-penerbit asing untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku terbitan penerbit Indonesia.

Selama pameran internasional tersebut, lebih dari 400 judul buku terbitan penerbit Indonesia telah diminati oleh penerbit asing untuk dipertimbangkan pembelian hak terjemahannya. Jenis buku yang diminati pun beragam, dari buku anak, karya sastra, kamus, buku akademik, buku agama, biografi, buku sosial politik, buku lingkungan hidup, buku arsitektur, buku wisata, buku hobi, buku kuliner, dan komik.

Sastrawan Eka KurniawanFoto: Getty Images/AFP/Goh Chai Hin

Unjuk prestasi internasional

Selain itu, tahun ini para penulis kita mulai unjuk gigi dengan meraih berbagai penghargaan internasional, di antaranya Eka Kurniawan yang meraih World Readers Award lewat Beauty Is A Wound (terjemahan dari novelnya yang telah diterjemahkan ke 25 bahasa, Cantik Itu Luka) dan mendapat nomine Man Booker International Prize sebagai novel terjemahan terbaik untuk Man Tiger (terjemahan Labodalih Sembiring dari Lelaki Harimau), sejajar dengan novel karya para pemenang Nobel Sastra seperti Kenzaburo Oe dan Orhan Pamuk.

Perlu disebut juga Laksmi Pamuntjak yang menyabet Liberaturprise untuk novel Amba dalam edisi terjemahan bahasa Jerman. Hal ini menunjukkan besarnya potensi dan daya saing industri perbukuan Indonesia di kancah internasional.

Buku Laksmi Pamuntjak dalam edisi Jerman: Alle Farben RotFoto: DW/H. Pasuhuk

Baru sebuah awal

Angin segar ini harus dijadikan awal kebangkitan dunia perbukuan Indonesia di mata dunia. Pada masa lalu, penerbit Indonesia menghadiri pameran hanya sebagai konsumen dengan agenda utama membeli hak terjemahan.

Kini, penjualan hak cipta kepada penerbit asing menjadi fokus kegiatan para penerbit Indonesia. Kehadiran stan Indonesia yang dikelola Komite Buku Nasional (KBN) di Pekan Buku Anak Bologna dan Pekan Buku London pada awal 2016, misalnya, ditandai tumbuhnya minat penerbit asing terhadap karya Indonesia.

Di kedua acara itu terdapat lebih dari 50 pertemuan dengan penerbit dan agen buku asing serta terjadi pembelian hak terjemahan secara langsung di stan Indonesia.

Di sisi lain, kehadiran penerbit Indonesia di pentas dunia ini juga menyisakan pekerjaan rumah terkait peningkatan daya saing penerbit Indonesia dalam memasuki pasar internasional.

Dalam dunia penerbitan yang terus berubah pesat, penerbit kita harus senantiasa membuka diri terhadap perkembangan baru dalam teknologi media seraya terus mengasah kemampuan dalam soal-soal mendasar di dunia penerbitan seperti pengemasan konten, strategi editorial, persaingan mendapatkan hak cipta, serta kiat-kiat promosi dan pemasaran.

Sebagai upaya peningkatan daya saing penerbit nasional di pentas dunia, KBN bekerja sama dengan IKAPI, Frankfurt Buch Messe, dan Goethe Institute Jakarta menyelenggarakan pelatihan untuk penerbit pada 1-4 Juni 2016 di Aula Graha Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta.

KBN sebagai inisiator acara ini merupakan lembaga independen yang mendapat dukungan penuh dari Kemendikbud serta melibatkan kalangan profesional dari industri perbukuan, sastrawan, dan orang-orang yang kompeten di bidang literasi dan industri kreatif Indonesia. Lembaga ini berfokus pada promosi literasi Indonesia di panggung internasional melalui penerjemahan karya, pameran buku, festival sastra, dan program residensi penulis.

Menyalakan Lilin, Menaklukkan Tantangan

Pelatihan untuk penerbit yang berlangsung selama 4 hari ini mengusung tema besar “Conquering the Challenges: Spotlight on Modern Book Publishing for Southeast Asia and the World” dengan narasumber para praktisi dan profesional penerbitan berpengalaman dari Jerman dan Indonesia.

Mereka adalah Andrea Luck, Direktur Marketing di penerbit Harper Collins Jerman; Jan Karsten, CEO penerbit CulturBooks yang bermarkas di Hamburg sekaligus editor majalah sastra daring CulturMag; Manuel Quirin, Rights Manager di Suhrkamp Verlag; Sabine Schubert, Senior Consultant Kirchner + Robrecht, sebuah lembaga konsultan yang berfokus pada bidang media; Putut Widjanarko, Vice President Mizan Publika; Salman Faridi, CEO Penerbit Bentang, Yogyakarta; dan Yosef Adityo, Corporate Secretary kelompok penerbit Gramedia.

Secara ringkas, pelatihan ini berupaya menjawab berbagai pertanyaan penting di dunia penerbitan. Tema spesifik membentang dari strategi mempromosikan dan memasarkan buku di pentas dunia, cara menjual dan mendapatkan rights buku, memanfaatkan peluang di dunia penerbitan internasional, hingga bagaimana mengembangkan potensi penerbitan buku digital.

Melalui kegiatan ini, insan penerbitan Indonesia mendapatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan wawasan, dan berbagi pengalaman dari para praktisi penerbitan yang amat berpengalaman di bidangnya.

Menurut catatan panitia, ada 60 peserta yang hadir sebagai peserta dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan ada pula yang berasal dari luar negeri, yakni Malaysia, Singapura, Papua Nugini, dan Brunei.

Ajang ini menjadi kesempatan bagi insan penerbitan kita untuk belajar dan bersiap menaklukkan tantangan global di dunia penerbitan. Akan lebih baik lagi jika kegiatan semacam ini bisa dilaksanakan secara reguler dan berkesinambungan untuk meningkatkan daya saing pelaku industri perbukuan kita dan menjalin jaringan dengan insan perbukuan di pelbagai negara.

Seperti kata sebuah kalimat bijak, ketimbang mengutuk kegelapan lebih baik kita menyalakan lilin. Pelatihan internasional ini adalah salah satu lilin yang menyala itu.

Penulis:

Anton Kurnia, penulis dan pegiat perbukuan, Direktur Penerbit Baca.

@AntonKurnia9

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait