1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pengadilan di Iran

10 Agustus 2009

Pengadilan massal di Iran dinilai dapat memicu konflik dengan Uni Eropa

Terkait pengadilan massal terhadap pihak oposisi di Iran, harian Perancis LIBÉRATION di Paris menulis:

"Penguasa di Teheran semakin menunjukkan wajah sebenarnya. Mula-mula manipulasi pemilu, kemudian menindas para penentangnya, memenjarakan, menyiksa dan melukai mereka. Sidang pengadilan yang ibaratnya 'show' itu mengingatkan orang akan masa komunisme. Itu hanya merupakan sarana penguasa yang sudah kehilangan legitimasinya dan mencari-cari kambing hitam. Badan peradilan mencela semua yang merupakan ciri demokrasi dan sebuah negara modern, seperti internet, telepon selular, twitter, televisi kabel, e-mail dan pers. Clotilde Reiss dan sejumlah warga bi-nasional menjadi korban kebencian itu. Kesalahan mereka hanyalah karena hendak membuat negara mereka dipahami oleh luar negeri. Rejim yang berkuasa memicu kebencian terhadap warga asing, guna memulihkan legalitas yang terpuruk."

Harian konservatif Austria DIE PRESSE menilai, kubu konservatif Iran meningkatkan tekanan terhadap pihak oposisi:

'Yang baru saja buka suara adalah Jadullah Jawani, seorang komandan tinggi satuan elit Pasdaran. Dia menuntut agar calon presiden yang kalah Mir Hussein Mousavi dan mantan ketua parlemen Mehdi Karoubi serta mantan Presiden Mohammad Khatami dijebloskan ke penjara. Yang jelas penguasa di Teheran tidak hendak berdialog. Dan karena pihak oposisi secara terbuka berbicara tentang kudeta militer, semakin marahlah kelompok garda revolusi. Oleh sebab itulah pula mereka menginginkan agar Khatami dan Karoubi dipenjarakan."

Sedangkan harian Jerman SÜDDEUTSCHE ZEITUNG di München mengemukakan pengamatan sbb:

"Antara yang dikemukakan di ruang sidang dan fakta, tidak ada kaitannya lagi. Yang penting adalah tujuan memantapkan kekuasaan baru. Tercorengnya citra negeri itu tidak terlalu penting. Kekuatan pemicu proses pengadilan itu, bukan lagi kelompok masa pemerintahan pertama Ahmadinejad. Yang kini menonjol adalah aparat Pasdaran dan dinas rahasia Iran. Bagi mereka hanya ada dua kelompok: yaitu pembela revolusi, yakni mereka sendiri, dan musuh-musuh mereka. "

Topik lain yang banyak disoroti adalah rangkaian ledakan bom untuk kedua kalinya di pulau wisata Spanyol, Mallorca. Harian ABC yang terbit di Madrid menekankan, Spanyol harus bereaksi terhadap teror gerakan ETA. Dikemukakan:

"Yang buruk dari serangan ETA di Mallorca bukanlah kerusakan benda yang tidak seberapa, dan tidak mencederai seorang pun, melainkan karena serangan terjadi walaupun pulau itu telah dijaga ketat oleh polisi dan telah pula dilakukan pelacakan besar-besaran. Mallorca kini jadi sorotan Eropa dan timbul keresahan mengenai keamanan di pulau wisata internasional itu. Sudah sangat mendesak bahwa politik dan polisi mengambil langkah yang ampuh. PM José Luis Rodríguez Zapatero harus menunjukkan kekuatan kepemimpinannya, walaupun sekarang adalah musim liburan."

Harian WESTDEUTSCHE ZEITUNG yang terbit di Düsseldorf menanggapi serangan terbaru ETA di pulau wisata warga Jerman sbb:

"Selama ETA meledakkan bom di wilayah Baskia, itu dirasakan jauh. Sekarang, karena di Baskia sendiri dukungan bagi ETA sudah jauh berkurang, mereka melakukan teror di pulau Mallorca. Tidak ada yang tahu apakah ini merupakan upaya terakhir sebelum lenyap, ataukah pertanda menguatnya kembali mereka. Tiap ledakan baru membuat wisatawan berpikir, setia pada pulau kesayangan mereka, berarti juga mempertaruhkan nyawa. Tetapi menjauhi pulau itu berarti pula memperkuat para teroris."

dpa/afpd/ DGL
Editor: Ayu Purwaningsih