Menguasai Beragam Bahasa, Apa Dampaknya untuk Otak?
6 Mei 2025
Ada banyak alasan mempelajari bahasa baru, mungkin untuk pekerjaan hingga ketertarikan pribadi pada seseorang atau budaya yang berasal dari daerah lain.
Penelitian menunjukkan bahwa belajar bahasa bermanfaat bagi kesehatan otak kamu secara keseluruhan.
Mempelajari bahasa baru artinya sama dengan melatih otak . Sama seperti otot yang menjadi lebih kuat dengan latihan fisik, jalur saraf di otak akan terbentuk kembali saat kamu belajar bahasa baru.
Itulah yang dimaksud oleh para ahli saraf ketika mereka mengatakan bahwa orang yang berbicara beberapa bahasa memproses informasi secara berbeda dari mereka yang berbicara satu bahasa. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di otak ketika kamu mempelajaribahasa baru, dan apakah belajar bahasa baru membuat kamu lebih pintar?
Area bahasa di otak
Sebelum kita membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, berikut adalah beberapa hal mendasar tentang bagaimana bahasa melibatkan banyak bagian otak untuk bekerja.
Pemrosesan bahasa melibatkan dua sirkuit utama - satu sirkuit untuk memahami dan memproduksi suara - inilah yang kemudian membentuk fondasi bahasa. Sirkuit lainnya adalah untuk memilih bunyi bahasa mana yang akan digunakan, jelas Arturo Hernandez, seorang ahli saraf di University of California San Diego, Amerika Serikat.
"Sirkuit ini akan terhubung kembali saat kita belajar dan beralih dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Ini adalah tentang pemetaan suara dan memutuskan bahasa mana yang akan digunakan," kata Hernandez kepada DW.
Kita membutuhkan area sensorik seperti korteks pendengaran untuk memproses bunyi ujaran, dan kita membutuhkan jaringan motorik otak yang luas untuk mengoordinasikan otot-otot yang terlibat untuk berbicara, seperti otot-otot yang mengendalikan lidah, bibir, dan pita suara.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Hal ini berlaku untuk semua bahasa, tetapi perubahan pada area "pemrossan tingkat tinggi" di otak diperlukan saat mempelajari bahasa baru
Sebagai contoh, area Broca yang terletak di lobus frontal berperan dalam sintaksis atau cara kita menyusun kalimat. Area Broca membantu menyusun kalimat yang benar secara tata bahasa dan juga membantu kita memahami struktur kalimat.
Area Broca juga penting untuk produksi ujaran dan memfasilitasi kontrol motorik yang diperlukan untuk mengartikulasikan kata-kata.
Area otak lainnya seperti area Wernicke memainkan peran penting dalam pemahaman kosakata dan pemilihan kata. Area ini membantu kita dalam memahami arti kata serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
Belajar bahasa baru mengubah bentuk otak
Sebuah penelitian di Jerman pada tahun 2024 mengukur aktivitas otak para pengungsi Suriah sebelum, selama, dan setelah mereka belajar bahasa Jerman.
Penelitian tersebut menemukan bahwa otak mereka mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya kemampuan mereka dalam berbahasa Jerman.
"Punghubungan ulang" kedua struktur otak berarti bahwa struktur saraf otak berubah asecara fisik. Proses ini - yang disebut neuroplastisitas - adalah mekanisme yang mendasari proses belajar.
Oleh karena itu, belajar bahasa baru memerlukan cara baru bagi otak untuk menyandikan, menyimpan, dan mengambil informasi linguistik baru.
"Secara struktural, (membelajar bahasa) meningkatkan struktur materi abu-abu otak di area yang terkait dengan pemrosesan bahasa dan fungsi eksekutif (red. fungsi kognitif untuk merencanakan, memecahkan masalah, menyimpan informasi, serta mengatur diri),” kata Jennifer Wittmeyer, seorang ahli saraf kognitif di Elizabethtown College di Pennsylvania, Amerika Serikat.
Perubahan struktural di otak juga mengubah cara otak berfungsi karena secara fisik mengubah cara neuron berkomunikasi. Apa yang disebut ‘plastisitas saraf' ini membantu kamu mengingat kata-kata dengan lebih cepat, mengenali suara-suara baru dengan lebih baik, dan meningkatkan pengucapan dengan mengendalikan otot-otot mulut kamu.
"Secara fungsional, [pembelajaran bahasa] meningkatkan konektivitas antara wilayah otak, memungkinkan komunikasi yang lebih efisien antara jaringan yang terlibat dalam perhatian, ingatan, dan kontrol kognitif," kata Wittmeyer kepada DW.
Keuntungan belajar banyak bahasa sejak kecil
Studi menunjukkan bahwa kita menggunakan jaringan otak yang sama untuk semua bahasa, tetapi otak merespons bahasa ibu secara berbeda. Satu studi menemukan bahwa aktivitas otak dalam jaringan bahasa sebenarnya menurun saat mendengarkan bahasa ibu.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa pertama yang kamu pelajari diproses secara berbeda di dalam otak dengan upaya minimal, kata para peneliti.
Penelitian juga menunjukkan bahwa anak kecil jauh lebih mudah mempelajari bahasa baru daripada orang dewasa.
Otak anak kecil masih dalam tahap perkembangan dan lebih mudah beradaptasi dengan plastisitas saraf dan pembelajaran. Tidak seperti orang dewasa, mereka tidak perlu menerjemahkan kata-kata dari bahasa pertama mereka, mereka dapat menangkap suara, tata bahasa, dan kata-kata dengan lebih mudah.
"Pada usia dini, tidak banyak kekakuan di otak. Otak orang dewasa sudah terstruktur di sekitar bahasa pertama mereka, sehingga bahasa kedua harus beradaptasi dengan pengetahuan yang ada, bukan berkembang secara mandiri karena bergantung pada jaringan saraf yang sudah terbentuk sebelumnya," kata Hernandez.
Apakah belajar bahasa membuat kamu lebih pintar?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan multibahasa meningkatkan kemampuan kognitif seperti daya ingat dan kemampuan memecahkan masalah. Namun, apakah berarti poliglot lebih pintar?
Ini rumit, tapi mungkin tidak, kata Hernandez.
"Jika seseorang berbicara lebih dari satu bahasa, maka hal itu akan meningkatkan perbendaharaan kata mereka. Mereka memiliki lebih banyak kosakata dan hal-hal dari ragam bahasa serta memiliki lebih banyak konsep," kata Hernandez.
Namun, tidak jelas apakah memiliki kosakata yang lebih banyak ini dikarenakan cadangan kognitif yang lebih besar atau karena lebih banyak kata yang tersimpan di bank memori otak. Ini tidak sama dengan kecerdasan.
Untuk benar-benar menguji apakah poliglot lebih cerdas, para ilmuwan perlu "memberikan tugas yang tidak terkait dengan bahasa,” kata Hernandez. Sejauh ini, bukti-bukti yang ada tidak begitu jelas menggambarkan apakah poliglot memiliki kinerja yang lebih baik dalam tugas-tugas lain yang tidak berhubungan dengan bahasa.
Para ilmuwan pun tidak yakin apakah perubahan keterampilan kognitif pada seseorang dengan kemampuan multibahasa disebabkan oleh pembelajaran bahasa, atau karena faktor lain seperti pendidikan atau lingkungan tempat mereka dibesarkan. Pembelajaran bahasa hanyalah satu dari banyak faktor yang membentuk keterampilan kognitif, menurut para peneliti.
Terlepas dari pertanyaan apakah keterampilan kognitif yang lebih baik berarti lebih pintar, belajar bahasa baru membuka pengalaman akan budaya baru dalam hidup.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
Sumber:
White matter plasticity during second language learning within and across hemispheres