Penggantian nama sebuah jalan di Berlin dari sebelumnya bermakna rasis menjadi nama seorang cendekiawan kelahiran Afrika pertama di Jerman jadi cerminan perjuangan panjang menghapus jejak kolonialisme di negara tersebut.
Perjuangan aktivis untuk mengubah nama jalan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahunFoto: Initiative Schwarze Menschen in Deutschland
Iklan
"Dekolonisasi tidak akan terjadi hanya dengan mengganti nama jalan,” kata Joshua Kwesi Aikins, ilmuwan politik dan aktivis hak asasi manusia. Pernyataan itu diungkap beberapa saat setelah pengumuman penggantian nama Jalan Moor (biasa disebut M-Strasse) menjadi Anton Wilhelm Amo.
Dalam bahasa Yunani, moor berarti gelap atau hitam. Menurut Aikins, secara konotatif kata moor juga bermakna "bodoh dan primitif”.
Sementara Anton Wilhelm Amo adalah filsuf abad pencerahan di Jerman. Amo adalah orang keturunan Afrika pertama yang meraih gelar doktor dari universitas di Eropa.
Pada 2020, dewan Distrik Berlin-Mitte sejatinya telah menyetujui penggantian nama jalan. Namun, sejumlah warga menggugatnya. Hingga pada akhirnya, Pengadilan Administratif Tinggi Berlin–Brandenburg muncul dengan sebuah keputusan yang menguatkan keputusan Pengadilan Administratif Berlin sebelumnya dan menyatakan bahwa warga tidak memiliki alasan yang kuat untuk menggugat keputusan perubahan nama jalan.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Usulan penggantian nama Jalan Moor telah diupayakan oleh sejumlah kelompok masyarakat sipil selama beberapa dekade belakangan.
Melawan Rasisme Lewat Kartun
Dari Turki, Iran hingga Belgia, kartunis dari seluruh dunia menjadikan karyanya sebagai sikap menentang diskriminasi ras.
Foto: -
Dunia penuh warna bagi semua
Dalam dunia penuh warna, beberapa orang selalu kalah. Ini yang digambarkan oleh kartunis Korea Selatan Young Sik Oh. Manusia belum berhasil memberantas rasisme yang merajalela. Diskriminasi tak hanya bagi orang berkulit gelap saja, namun kaum homoseksual, wanita atau pemeluk agama lain mengalaminya, tergantung lingkungan Anda di dunia.
Kamu bisa menggunakan lebih banyak warna
Kartun karya German Peer Wedderwille menampilkan dua burung hitam bertengger di dahan pohon, di atas lanskap hitam-putih yang suram. Sambil mengamati burung warna-warni di dahan seberangnya, burung hitam mengatakan pada burung pendatang dari visualnya saja sudah tidak sesuai.
Foto: -
Komponis rasis
“Ebony dan Ivory hidup bersama dalam harmoni yang sempurna, berdampingan di tuts pianoku, Ya Tuhan, kenapa kita tidak?” menirukan mantan personel The Beatle Paul McCartney dalam lagu terkenal “Ebony dan Ivory.” Kim Duchateau asal Belgia tentunya menanyakan hal yang sama pada dirinya saat menggambar kartun ini. Seorang pianis harus tahu, tanpa harmoni tuts hitam dan putih, hanya ada hiruk pikuk.
Ironi lagu kebangsaan Eropa
Lagu “Ode to Joy” dikenal di seluruh dunia: ditulis oleh penyair Friedrich Shciller, 1785, lalu Ludwig van Beethoven membuatnya jadi musik simfoni ke-9-nya. Telah jadi lagu resmi Uni Eropa sejak 1985. Kartun buronan yang terjebak dalam bar lagu menyerupai kawat berduri, kontras dengan kalimat “semua orang akan menjadi saudara,” menggambarkan perlakuan pengungsi di perbatasan Eropa.
Penyambutan bersyarat
Banyak alasan orang meninggalkan negaranya: perang, penindasan dan kemiskinan. Namun, pengungsi ini jarang diterima di negara lain. Mereka berusaha menuju “tanah yang menjanjikan” secara ilegal, berjalan kaki atau menggunakan perahu karet. Kartun Jan Tomaschoff menggambarkan negara yang katanya terbuka menerima pengungsi tetapi memilih-milih siapa yang layak datang.
Fasad sipil
Masyarakat demokratis dilarang bertindak rasis atau diskriminatif dalam konstitusi. Namun, beberapa orang yang terlihat “terhormat” menyembunyikan ide-ide sayap kanan di balik fasad manusia biasa, tergambar dalam kartun Bern Phlenz. Terlihat dalam kepala seorang peria berjas, ada pria lebih kecil dengan gaya skinhead, memegang tongkat bisbol, mengintip, seolah-olah matanya adalah lubang intip.
Foto: -
Kelompok rahasia yang rasis
Kartun karya Saaed Sadeghi, Iran, tampikan jejeran pensil, namun ada satu yang bertudung putih runcing lengkap dengan mata: merupakan pakaian Ku Klux Klan. Kelompok rahasia ini tidak terima kenyataan bahwa sistem perbudakan dihapuskan di AS setelah Perang Saudara Amerika (1861-1865). Anggotanya secara terencana memburu orang kulit hitam, yahudi, komunis dan homoseksual.
Penghormatan untuk Rosa Parks
Seniman AS Loren Fishman hormati ikon kulit hitam Amerika, Rosa Parks, dalam melawan segregasi ras. Dia ditangkap karena menolak menyerahkan kursinya di bus untuk penumpang kulit putih. Hampir 70 tahun, rasisme jadi isu utama di AS. Kartun ini, seorang perempuan kulit hitam berdiri di depan mesin cuci dengan pilihan mencuci warna dan putih, serta berpikir: “Persetan dengan ini…”
Hidup ini penuh warna
Keberagaman membuat hidup penuh warna. Kartunis Guido Kühn mengilustrasikan ini dalam “Gadis dengan Anting Mutiara” dari lukisan terkenal Johannes Vermeer. Di gambar ini, kecantikan “Mona Lisa dari Utara” terlihat dengan tiga perempuan lainnya tersenyum dengan warna kulit yang berbeda. Tulisan di bawahnya menjelaskan semuanya.
Foto: -
Pelukan yang utopis
Kartunis Turki, Burak Eergin, serukan toleransi yang lebih besar di masyarakat. Sementara rekaman polisi memukuli demonstran sering jadi berita utama. Dalam kartun ini, petugas polisi dan demonstran membawa bunga dan saling berpelukan. Namun, kenyataannya berbeda, kartun ini hanya keinginan utopis untuk keharmonisan.
Warna di dunia
Di Brasil, negara asal kartunis Freelah, ada istilah “warna etno”, begitu sebutnya. Orang dari berbagai negara telah menikah dengan penduduk asli di sini, dan orang Brasil dengan berbagai warna kulit merupakan kekayaan budaya negara itu. Namun rasisme terhadap orang kulit hitam atau gelap menjadi kebiasaan di sini.
Yin dan Yang
Rasisme mungkin tidak akan jadi masalah jika masyarakat menghayati prinsip Cina, yin dan yang: dua kekuatan berlawanan yang saling tarik menarik, namun tak ada yang lebih unggul satu sama lain. Mereka seimbang dan tidak terpisahkan sebagai dua bagian dari satu kesatuan, bersatu dalam harmoni. Kartunis Kuba, Miguel Moraloes dengan jelas menyerukan “katakan tidak pada rasisme.” (mh/hp)
12 foto1 | 12
Kolonialisme Afrika di Berlin
M-Strasse membentang di kota tua bekas kawasan Prusia. Letaknya hanya beberapa langkah dari Istana Berlin yang dulu merupakan pusat pemantauan kolonial terhadap Afrika. Jalan tersebut juga berada dekat dengan kediaman kanselir Jerman pada masa itu dan jadi tempat berlangsungnya Konferensi Berlinpada 1884.
Iklan
Musa Okwonga, penulis asal Inggris-Uganda yang tinggal di Berlin, berkata bahwa Konferensi Berlin 1884 melambangkan kekuatan kolonial Eropa. Salah satu bahasannya adalah "bagaimana mereka dapat membagi-bagi wilayah Afrika.”
Konferensi Berlin 1884 adalah cikal bakal genosida dan kolonialisme Jerman di Namibia.
Konotasi rasis moor atau M-Strasse menguat ketika orang-orang Jerman memperbudak orang Afrika pada abad 18. Mereka menyebut orang Afrika sebagai "court moors” dan meminta mereka menjadi pelayan dan penghibur raja-raja Prusia.
"Nama jalan moors membangkitkan memori kekerasan terhadap orang kulit hitam di Berlin,” kata Christian Kopp, sejarawan.
Sebagian besar orang Afrika yang diperbudak pada masa itu berasal dari koloni Brandenburg-Prusia. Kini terletak di wilayah Ghana.
Anton Wilhelm Amo diperkirakan pernah diperbudak ketika masih anak-anak di Ghana sebelum "diberikan” kepada Adipati Braunschweig-Wolfenbüttel pada 1707. Berbarengan dengan tahun di mana nama jalan M-Strasse ditetapkan. Amo memutuskan tetap mengakui identitas Jermannya tanpa melupakan darah Afrika yang ada dalam dirinya. Karya-karya akademiknya menyuarakan keberpihakan terhadap asal usulnya sebagai orang kulit hitam.
Tesis Amo berjudul 'Hak Orang Kulit Hitam di Eropa'. Sayangnya, tesis tersebut telah hilang. Sementara disertasi Amo membahas dualisme antara tubuh dan pikiran. Karya tersebut terinspirasi dari filsuf Rene Descartes. Amo juga menguasai enam bahasa. Namun, kisah Amo bagai terhapus dari sejarah kelompok intelektual di Eropa.
Selama lebih dari satu dekade, para aktivis dekolonial secara simbolis menambahkan umlaut pada huruf 'o' di M-Strasse, sehingga menjadi Möhren, atau Jalan Wortel.Foto: Imago/Bernd Friedel
Lika-liku nama Jalan Anton Wilhelm Amo
Sebetulnya, nama stasiun M-Strasse juga merupakan hasil perubahan nama. Sebelumnya M-Strasse bernama Otto Grotewohl Strasse yang merupakan politisi Jerman Timur. Setelah Jerman melakukan reunifikasi, nama tersebut berubah menjadi M-Strasse pada 1991.
Waktu itu, May Ayim, seorang aktivis dan penulis 'Showing Our Colors: Afro-German Women Speak Out', memprotes penggunaan nama jalan yang rasis.
Ayim (kanan) bersama penyair dan aktivis asal Amerika, Audre Lorde. Keduanya bekerja sama membangun identitas Kulit Hitam Jerman di Berlin pada 1980-an hingga awal 1990-anFoto: Dagmar Schultz
Perempuan yang juga membentuk gerakan Initiative of Black People in Germany ini terus berupaya menghentikan berbagai bentuk rasisme terselubung setelah reunifikasi Jerman. Pada 1990an, Ayim secara vokal menyampaikan perspektifnya terkait nama jalan yang rasis. Pada momen tersebut ia juga tak segan menyuarakan bahwa komunitas kulit hitam di Jerman tidak pernah dilibatkan dalam proses reunifikasi usai hancurnya tembok Berlin.
Pada 2010, nama Ayim ditetapkan sebagai nama kawasan di tepi Sungai Kreuzberg. Aksi ini menjadi titik awal proses dekolonisasi. Nama Ayim menggantikan Otto Friedrich von der Groeben, pendiri koloni Brandenburg-Prusia di Ghana pada akhir abad 17.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris