Pengusiran Duta PBB oleh Sudan
25 Oktober 2006
Pemulangan paksa Duta Perserikatan Bangsa Bangsa Jan Pronk keluar dari Sudan menjadi tema tajuk rencana harian Belanda de Volksrant. Dari Den Haag ditulis:
“Mengingat tanggung jawabnya yang sangat besar, apalagi isinya adalah laporan yang sedikit lebih obyektif tentang kejadian di Sudan, apakah penulisan catatan harian di internet yang dilakukan Pronk sudah dipertimbangkan secara bijaksana? Mungkin harusnya dia lebih berhati-hati. Belum lagi langkanya laporan yang lebih dapat dipercaya tentang kejadian yang bisa dianggap bencana humanisme terbesar abad ini di Darfur. Pronk sudah sepatutnya mendapat pujian karena tujuannya, yaitu menginformasikan dunia luar, sudah tercapai.
Pengusiran Pronk harus dikecam tajam. Tindakan terbaik adalah mengembalikan Pronk ke posnya semula. Tapi hal itu tak mungkin dapat diharapkan secara realistis, jika Kofi Annan mau mengeluarkan energi untuk melakukan tindakan prestise terhadap pemerintahan Khartum. Yang lebih penting adalah PBB harus terwakili secara lebih berarti, supaya setidaknya ada usaha diplomatik untuk warga yang terancam di Darfur.
Dari Madrid, harian sayap kiri liberal El Pais pun mengangkat tema pengusiran Duta PBB Jan Pronk sebagai tema tajuk rencana.
“Pengusiran Duta PBB menunjukkan tindakan rezim Sudan sudah melangkahi wewenang PBB tanpa takut sanksi. Pemerintah Khartum menentang kehadiran tentara helm biru PBB di Darfur. Mereka kuatir akan terjadi penjajahan. Argumen ini tentu saja tak beralasan.
Daftar panjang kejahatan keji di Darfur diartikan sebagai kekalahan PBB. Di satu sisi, Dewan Keamanan PBB sebenarnya bertanggung jawab dalam konflik ini. Dewan Keamanan PBB telah memutuskan penempatan tentara helm biru di Darfur harus seizin Khartum. Rezim akan tetap diabaikan, selama dipastikan tindakan kekerasan tidak akan berlanjut."
Sementara harian Nord Éclair terbitan Roubaix, Prancis Utara, menulis tentang peringatan Revolusi Hongaria yang terjadi pada tahun 1956:
“Rakyat Hongaria yang hampir 50 tahun menderita di bawah rezim komunis Uni Soviet tidak begitu saja pasrah dan bungkam. Hari ini merupakan peringatan hari kebangkitan bangsa Hongaria dan perayaan kemenangan tahun 1956. Sudah sepantasnya hari ini diingat sebagai hari perlawanan para pembebas terhadap pemimpin partai komunis Hongaria dan tiranisasi sistem politik Kremlin antara 1945 dan 1989. Para pembebas inilah yang semestinya dilindungi republik rakyat dan partai-partai rekan buruh.“
Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung yang terbit di Jenewa juga mengangkat tema Revolusi Hongaria 1956 sebagai tema tajuk rencana mereka.
“Bisa dibilang, Hongaria memenangkan perang dingin yang terjadi di dalam negaranya. Bangsa Hongaria merupakan satu-satunya bangsa di Eropa yang terpecah belah sampai ke akar-akarnya. Siapakah yang sebenarnya penanggung jawab idealis Revolusi 1956 menjadi sumber sengketa yang sangat menggigit? Di sana sini terdapat kekurangsiapan mereka sebagai rekan yang demokratis.
Saat ini terlihat kesan, Hongaria tengah berjalan menuju proses balkanisasi yang menyedihkan dan berbahaya. Selama sebagian besar masyarakat tidak memandang Revolusi 1956 dan runtuhnya komunis di tahun 1989 sebagai proses kemerdekaaan dan demokratisasi negeri, maka kebangkitan jiwa rakyat yang damai tidak akan terwujud. Hal yang paling menyedihkan adalah konflik yang terjadi saat ini menutupi peringatan terhadap pahlawan Revolusi 1956.“