1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
BencanaNepal

Seluk-beluk Banjir Bandang Mematikan di Nepal

28 Agustus 2026

Banjir bandang menerjang Nepal, menewaskan ratusan orang dan membuat lebih dari seribu lainnya hilang. Mengapa air bisa datang begitu cepat dan berubah menjadi bencana mematikan dalam hitungan menit?

Sebuah tayangan drone menunjukkan lumpur menutupi bangunan dan properti setelah banjir dahsyat di Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal
Para pejabat Nepal mengatakan puluhan jembatan telah hanyut akibat banjirFoto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Banjir bandang menerjang wilayah utara Nepal pada Rabu (26/08), menewaskan ratusan orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Dengan jumlah korban tewas masih terus bertambah, skala kehancuran yang sebenarnya masih belum diketahui.

Namun, bukan hanya besarnya volume air yang membuat bencana ini mematikan. Dalam waktu sekitar 10 menit, air bercampur es, lumpur, dan material bebatuan bergerak hingga 20 kilometer ke arah hilir. 

Bagi warga yang berada di jalurnya, hampir tidak ada waktu untuk menyelamatkan diri. Akibat lainnya, sejumlah akses seperti jalan, jembatan, dan sejumlah fasilitas pembangkit listrik ikut rusak.

Korban banjir terisolasi dari bantuan

Di sejumlah desa yang terdampak, bencana tidak hanya memisahkan warga dari keluarga mereka, tetapi juga dari dunia luar. Bidhya Rajput, seorang jurnalis di Kathmandu, mengatakan rumah keluarganya di Desa Sole, Distrik Nuwakot, tersapu Sungai Trishuli.

Menurutnya, hanya empat atau lima warga yang berhasil menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke perbukitan. "Yang lain tidak sempat, karena banjir datang tiba-tiba,” katanya kepada DW.

Mertua Rajput juga masih hilang. Ayah mertuanya, seorang guru, diduga terseret banjir saat pulang kerja, menurut kepala sekolah tempatnya mengajar.

Suami Rajput telah berangkat ke desa untuk mencari kabar keluarganya, meski banyak jalan rusak dan tersapu banjir. Sementara itu, tidak ada kabar terbaru dari desa sejak Kamis (27/08) pagi karena listrik dan jaringan telepon terputus.

"Bantuan pemerintah belum sampai ke Sole, upaya penyelamatan dan bantuan pemerintah mayoritas terpusat di kota-kota besar,” kata Rajput. 

Warga mengatakan wilayah tersebut juga terdampak banjir tahun lalu. Namun saat itu, banyak warga masih sempat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi dan air tidak mencapai ketinggian seperti kali ini.

Ia mengakui, kali ini tidak ada peringatan dini yang diterima sehingga warga tidak bisa mengungsi ke tempat aman seperti tahun lalu.

Namun, Usha Kiran Timsena, politikus oposisi asal Nuwakot, mengatakan polisi dan pejabat setempat sebenarnya telah memberikan peringatan bahwa banjir besar akan datang. Meski begitu, warga tidak memperkirakan skala dan kecepatan air yang datang.

"Banyak warga yang tinggal agak jauh dari tepi sungai menganggapnya sepele. Mereka akhirnya tidak sempat menyelamatkan diri ketika banjir mencapai permukiman mereka,” katanya kepada DW.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa banjir lebih lanjut mungkin terjadi dalam beberapa hari mendatangFoto: Niranjan Shrestha/AP Photo/picture alliance

Sementara itu, Sujan Lohani, warga Dhading, mengatakan ia tidak pernah membayangkan banjir dan kerusakan yang ditimbulkan Sungai Trisuli akan begitu besar dan meluas.

Jembatan utama di atas Sungai Trisuli, yang menghubungkan pusat pemerintahan distriknya dengan Kathmandu, ikut tersapu banjir.

"Saya khawatir sepupu saya sekarang berada di desa,” katanya kepada DW. "Kami terputus dari Kathmandu.”

Pihak berwenang mengatakan lebih dari 30 jembatan, termasuk jembatan kendaraan dan jembatan gantung, serta sekitar 12 bendungan pembangkit listrik tenaga air hancur akibat banjir.

Pemerintah menetapkan Nuwakot, bersama Distrik Rasuwa dan Dhading, sebagai wilayah yang paling terdampak banjir mematikan tersebut.

Ratusan korban dievakuasi lewat udara

Otoritas Nepal berpacu dengan waktu untuk menjangkau para penyintas di wilayah terdampak. 

Hingga Kamis (27/08), lebih dari 1.300 orang masih dilaporkan hilang, termasuk ratusan warga negara asing. Negara tetangga, India dan Cina, turut berkoordinasi dengan Kathmandu dalam penanganan bencana.

Tim penyelamat mengevakuasi warga yang terjebak dan terluka menggunakan helikopter ke Kathmandu. Polisi, militer, dan warga juga mendirikan tempat penampungan sementara bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Tim penyelamat berupaya keras menjangkau para korban selamat di tengah kehancuran total seluruh desaFoto: Navesh Chitrakar/REUTERS

 "Kami mengerahkan seluruh upaya untuk menyelamatkan warga yang masih hidup,” kata Menteri Informasi dan Komunikasi Nepal, Bikram Timilsina, kepada DW. 

Ia berada di wilayah terdampak dan menggambarkan kerusakan yang terjadi sangat besar, "seluruh desa tersapu. Banyak yang kehilangan nyawa secara tragis. Banyak lainnya tidak bisa dihubungi,” jelasnya.

Timilsina mengatakan pemerintah Nepal tidak pernah membayangkan banjir dan bencana dengan skala sebesar ini.

Analisis pakar soal banjir bandang Nepal

Para ilmuwan masih memperdebatkan penyebab pasti dari bencana ini. Data ilmiah menunjukkan bencana bermula dari runtuhnya gletser di bagian utara Pegunungan Langtang, dekat perbatasan Nepal-Cina. Hanya dalam kurun waktu 10 menit, air dan material dalam jumlah besar menyapu hingga 20 kilometer ke hilir.

"Banjir bandang merupakan kejadian yang cukup sering terjadi di Himalaya,” kata Niels Hovius, ahli geomorfologi dari GFZ Helmholtz Centre for Geosciences di Potsdam. 

Ia menjelaskan bahwa runtuhnya gletser ini mengirimkan es dalam jumlah besar dan dengan cepat menuruni lereng.

"Gesekan kemudian mencairkan sebagian es menjadi air, yang membawa lumpur dan material lainnya. Aliran tersebut bergerak dengan kecepatan seperti mobil di jalan tol Jerman.”

Kenapa banjir bandang di Himalaya sangat mematikan? 

Banjir bandang di Himalaya dapat dipicu oleh runtuhnya gletser, jebolnya danau glasial (Glacial Lake Outburst Flood atau GLOF), maupun longsor. Namun, Hovius menegaskan bencana kali ini bukan GLOF.

Dibandingkan Pegunungan Alpen, kondisi geografis Himalaya juga memperparah dampaknya. Lembah-lembahnya relatif sempit sehingga air dan lumpur tidak punya banyak ruang untuk menyebar. Akibatnya, aliran menjadi lebih dalam dan lebih cepat.

Selain kecepatan air dan material yang terbawa, tingkat kehancuran akibat banjir bandang juga bergantung pada seberapa jauh permukiman warga dari sumber banjir.

Nepal Berjuang Lawan Bencana Akibat Ulah Manusia

06:56

This browser does not support the video element.

Tantangan Nepal adalah banyak warga tinggal di sepanjang sungai di lembah yang rawan banjir, sementara sistem peringatan dini masih sangat terbatas.

Bahkan dengan peringatan tepat waktu, banjir kali ini mungkin hanya bisa memberi warga beberapa menit untuk menyelamatkan diri. Tahun lalu, banjir di wilayah yang sama membutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai permukiman.

Nepal telah mulai mengembangkan sistem peringatan dini berbasis suara, tetapi cakupannya masih sangat kecil. Hovius juga mendorong penggunaan notifikasi ponsel untuk memperingatkan warga.

Selain itu, ia menilai penataan permukiman perlu dievaluasi karena banyak infrastruktur kini terkonsentrasi di sepanjang sungai. "Mungkin kini lebih baik untuk kembali ke wilayah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Apakah krisis iklim berperan besar dalam bencana ini?

 "Sulit untuk mengaitkan setiap kejadian dengan krisis iklim,” kata Hovius. Namun, gletser di pegunungan tinggi semakin tidak stabil seiring kenaikan suhu, sementara volume air di danau glasial juga meningkat, sehingga risiko GLOF bertambah.

 Untuk banjir kali ini, masih terlalu dini menyimpulkan bahwa kenaikan suhu menyebabkan gletser runtuh. Banjir bandang memang sudah lama menjadi kejadian yang kerap terjadi di Himalaya.

 "Tapi saya pikir kita kemungkinan akan melihat semakin banyak kejadian seperti ini,” ujar Hovius. Ia memperingatkan, bencana di masa depan bahkan bisa lebih parah.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Adelia Dinda Sani

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya