Sebentar-sebentar kita mengaku siap berperang dan membela NKRI. Sebenarnya apakah ada sebuah peradaban yang hidup tanpa sejarah peperangan atau kekerasan? Berikut perspektif Geger Riyanto.
Foto: public domain
Iklan
Satu topik yang menjadi tajuk majalah New Scientist bulan September 2016 adalah peradaban Lembah Sungai Indus. Terdengar asing? Mungkin tidak. Anda mungkin pernah mendapati nama ini sekilas dari pelajaran IPS sewaktu SMU kendati, saya duga, tak mengingat apa-apa yang berkesan darinya.
Namun, setelah nyaris seabad diekskavasi para arkeolog, peradaban ini terungkap sebagai temuan yang menakjubkan dan tak semata bagi ilmuwan saja. New Scientists melaporkan, Lembah Sungai Indus hanya memiliki satu artefak yang menggambarkan tidak adanya pertikaian antara manusia di masa itu. Kota-kota utamanya tak dibentengi. Tidak ditemukan baju zirah maupun persenjataan militer. Artinya? Artinya, boleh jadi kita akhirnya menemukan satu peradaban yang tak mengenal perang. Satu peradaban yang juga langgeng sepanjang tujuh ratus tahun tanpa mengandalkan invasi atau aksi polisional.
Dan, tak berhenti di sana. Arkeolog juga tak menemukan reruntuhan istana maupun artefak yang mengelu-elukan raja secara spektakuler. Analisis tulang-belulang tak menunjukkan adanya ketimpangan gizi di antara para penduduknya. Rumah orang kaya dan orang miskin tak menunjukkan perbedaan yang berarti. Dan tidak bukti adanya perbudakan. Lembah Sungai Indus, artinya, juga sebuah peradaban yang absen dari kesenjangan yang berarti.
Sebuah utopia yang nyata, cetus sang penulis artikel, Andrew Robinson.
Penulis: Geger RiyantoFoto: Privat
Hanya saja pertanyaan selanjutnya, seperti pertanyaan yang jamak diajukan kepada semua orang:... utopia, mungkinkah?
Mungkinkah ada satu saja peradaban yang utuh sepanjang berabad-abad tanpa melewati peperangan? Tanpa mensyaratkan adanya hierarki kedudukan yang membedakan antara pemimpin dan yang dipimpin, kelas yang memerintah dan yang diperintah? Apabila pertanyaan ini Anda ajukan kepada seorang sosiolog, besar kemungkinan ia akan memulai jawabannya dengan sepatah tanggapan irit. Tidak.
Kekuatan perang
Logikanya biasanya begini. Ketika Anda mau mempersatukan sangat banyak orang di bawah satu raja, dewa, panji, bendera, atau apa pun itu, Anda jelas tak bisa membujuk semuanya secara baik-baik. Anda perlu meyakinkan orang-orang yang keras kepala dengan perbuatan, bukan kata-kata, dan perbuatan yang paling tepat tak lain adalah memerangi mereka dan, tentu saja, Anda harus menang. Ini akan menyadarkan bahwa pilihan terbaik bagi mereka bukanlah hidup di atas kaki mereka sendiri melainkan bersama Anda.
Lantas, dari waktu ke waktu, Anda perlu mengingatkan mereka dengan kedigdayaan Anda yang mengesankan Anda berhak menentukan kehidupan mereka. Hal yang paling jelas adalah Anda perlu membedakan diri Anda dari manusia biasa. Anda perlu tinggal di istana megah Anda sendiri. Menyelenggarakan ritual serta menggarap hikayat yang menabalkan kebesaran Anda. Dan, jangan lupa, agar orang-orang tidak khilaf, Anda perlu menunjukkan bahwa di belakang Anda selalu berdiri kekuatan perang yang siap siaga mengoreksi mereka.
Negara ini lahir dari perjuangan dan pengorbanan. Menjelang akhir perang pun Indonesia bahkan masih menghadapi serbuan sekutu. Simak perjalanan panjang nusantara hingga merengkuh kedaulatannya.
Foto: public domain
Dari Portugis ke VOC
Awal abad ke 16 Portugis memasuki nusantara, berdagang dan mencoba menguasainya. Rakyat di beberapa wilayah melakukan perlawanan. Awal abad ke-17 giliran perusahaan Belanda, VOC yang mencari peruntungan di nusantara. Nusantarapun jatuh ke tangan Belanda, sempat direbutkan Perancis dan Inggris, lalu kembali dalam genggaman negeri kincir angin itu.
Foto: public domain
Pecah belah dan jajahlah
Untuk menguasai nusantara, Belanda memanfaatkan persaingan di antara kerajaan-kerajaan kecil. Berbagai pertempuran terjadi di bumi nusantara. Di Jawa, Perang Diponegoro (1825-1830) menjadi salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda selama pendudukannya di bumi Nusantara. Jendral de Kock memanfaatkan suku-suku lain berusaha menaklukan Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
Foto: public domain
Pengorbanan darah dan nyawa
Wilayah-wilayah di luar Jawa pun tak ketinggalan mengalami berbagai pertempuran sengit. Salah satunya pertempuran di Bali tahun 1846 yang tergambar dalam lukisan ini, dimana Belanda mengerahkan batalyonnya dalam upaya menaklukan pulau Dewata tersebut.
Foto: public domain
Bersatu melawan penjajahan
Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia didirikan September 1926 oleh para mahasiswa. Organisasi ini bermaksud untuk menyatukan organisasi –organisasi pemuda yang tadinya terpecah-pecah dan dari berbagai perguruan tinggi seperti Stovia dan THS dan RHS. Perhimbunan besar ini memiliki pemikiran bahwa persatuan Indonesia merupakan senjata paling ampuh dalam melawan penjajahan.
Foto: public domain
Dijajah saudara tua
Dalam perang dunia ke-2, Jepang memerangi Tiongkok dan mulai menaklukan Asia Tenggara, termasuk Indonesia tahun 1941. Peperangan juga terjadi di berbagai belahan dunia. Ketika Jepang kalah dalam PD II, tokoh nasional merencanakan kemerdekaan Indonesia.
Foto: Imago
Teks bersejarah bagi bangsa Indonesia
Teks Proklamasi dipersiapkan. Dirumuskan oleh Tadashi Maeda, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo, dll. Teks tersebut digubah oleh Mohammad Hatta dan RM. Achmad Soebardjo Djodjodisoerjo dan ditulis tangan oleh Soekarno. Teks Proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal dengan sebutan naskah "Proklamasi Otentik", diketik Sayuti Melik.
Foto: public domain
Proklamasi di Pegangsaan
Dengan didampingi Drs. Mohammad Hatta, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pembacaan naskah proklamasi dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur no 56. Jakarta, pada pukul 10.00 pagi.
Foto: public domain
Sang Saka Merah Putih berkibar
Sesaat setelah teks proklamasi diumumkan, bendera Sang Saka Merah Putih pun di kibarkan di halaman Pegangsaan Timur 56. Bendera bersejarah ini dijahit oleh istri Bung Karno, Fatmawati Soekarno. Kini tiap tanggal 17 Agustus, bendera Merah Putih berkibar dan menjadi bagian dari peringatan detik-detik kemerdekaanj Indonesia.
Foto: public domain
Dari Sabang sampai Merauke
Perang terus berkobar. 10 November 1945 di Surabaya, rakyat melawan sekutu. Di penghujung tahun yang sama, sekutu menyerbu Medan. Hampir semua wilayah Sumatera, berperang melawan Jepang, sekutu dan Belanda. Mulai dari Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua, para pejuang mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan.
Foto: picture alliance/Everett Collection
Perjanjian Renville
Peperangan terus berkobar di berbagai wilayah di tanah air. berbagai diplomasi digelar. Perjanjian Renville disepakati Januari 1948, di atas kapal Amerika, USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok. Indonesia diwakili PM. Amir Syarifuddin. Saat itu, dissetujui garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan wilayah pendudukan Belanda.
Foto: en.wikipedia.org/Indonesia/Public Domain
Penyerahan kedaulatan
Tak semua mematuhi perjanjian Renville. Perlawanan terhadap Belanda terus berlanjut. Politik Indonesia terus bergejolak. usaha Belanda meredam kemerdekaan Indonesia dikecam masyarakat internasional. Akhirnya penyerahan kedaulatan Indonesia dtandatangani di Belanda, tanggal 27 Desember 1949. Tampak pada gambar, Ratu Belanda, Juliana tengah menandatangani dokumen tersebut.
Foto: public domain
Peta Hindia Belanda dan sekitarnya
Peta Pinkerton untuk Hindia Timur: Mencakup dari Burma selatan ke Jawa, dari Andaman ke Filipina & New Guinea. Peta ini mencatat kota-kota, rawa-rawa, pegunungan, dan sistem sungai. Digambar oleh L. Herbert dan digravir oleh Samuel Neele di bawah arahan John Pinkerton. Sumber gambar: Pinkerton’s Modern Atlas, yang diterbitkan oleh Thomas Dobson & Co di Philadelphia pada tahun 1818.
Foto: public domain
Mencari makna kemerdekaan
Kini lebih dari 70 tahun merdeka, Indonesia memasuki tantangan baru: Memerdekaan diri dari berbagai belenggu penjajahan atas hak asasi manusia,pola pikir dan berekspresi serta memperjuangkan demokrasi.
Foto: picture-alliance/dpa/D. Husni
13 foto1 | 13
Teori "sosiologi peradaban” ini pun seharusnya tak terlalu asing bagi kita. Peradaban modern, toh, kalau tak mau terlalu terperinci menyebut nama negara-negara tertentu, membenarkan kekerasan yang dilancarkannya dengan teori ini. Perang, kendati disadari ini sebuah kelaliman, tapi kelaliman ini mau tak mau dilakoninya untuk menghalau hal yang lebih buruk terjadi. Negara adalah pahlawan tragis yang, betapapun mencintai rakyatnya, harus berlaku keji kepada mereka agar kesatuannya tidak pecah dan kedaulatannya terjaga.
Percaya pada utopia?
Namun, saya memilih percaya dengan utopia ini. Utopia ini boleh jadi memang nyata. Dan alasannya bukan hanya karena bukti-bukti dari peradaban Lembah Sungai Indus yang nyaris tak bisa ditampik. Perang, pemusatan kekuasaan, aksi polisional pun, saya curiga, merupakan teknik "teruk" mempersatukan masyarakat yang dibuat pada satu periode sejarah tertentu. Tak ada alasan untuk percaya bahwa ia berakar dan sekaligus menunjukkan sifat alami manusia untuk mempertahankan dan merebut kepemilikan dari yang lain.
Saya bukan ahli sejarah peradaban kuno. Tetapi, ada satu-dua sejarah perubahan mekanisme kekuasaan dalam masyarakat yang bisa saya paparkan sebagai bahan argumentasi saya.
Di Maluku, contoh pertama kita, pada awal abad ke-16 seorang sultan tak bisa dikatakan lebih dari pemimpin klan. Ia adalah sosok yang dihormati, mempunyai keunggulan spiritual, namun tak mempunyai otoritas apa pun untuk memerintah di luar komunitas kecilnya. Agar dianggap di komunitas lain, ia harus menikahi perempuan dari komunitas tersebut atau mengikat mereka menjadi saudari susu dengan mempersilakan mereka menyusui bayinya. Itu pun ia tetap tak bisa memerintah mereka sekehendaknya dan harus patuh dengan kesepakatan dengan para sultan lain. Lantas, seorang sultan juga tak dengan sendirinya lebih kaya ketimbang warga desa. Setiap warga pasalnya dapat menghasilkan dan menjual rempah-rempahnya sendiri kepada para pedagang.
Ribuan orang harus melepas nyawa demi mempertahankan atau berebut sepetak tanah di Bumi. Inilah konflik perbatasan paling mematikan di dunia saat ini.
Foto: Marco Longari/AFP/Getty Images
Laut Cina Selatan
Enam negara berebut dua gugusan pulau di Laut Cina Selatan: Cina, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Taiwan. Konflik seputar salah satu jalur dagang paling gemuk di dunia ini belakangan semakin memanas. Kepulauan Spratly pernah dua kali menjadi medan pertempuran antara Cina dan Vietnam, yakni tahun 1974 dan 1988. Terakhir kali kedua negara bertempur, Vietnam kehilangan 64 serdadunya.
Foto: imago/Westend61
Nagorno Karabakh
Sejak Perang Dunia I Armenia dan Azerbaidjan sudah saling bermusuhan. Perseteruan itu berlanjut saat kedua negara berebut Nagorno Karabakh, wilayah subur seluas pulau Bali. Antara 1988 dan 1992, Armenia dan Azerbaidjan terlibat konflik yang menewaskan lebih dari 35.000 serdadu dan warga sipil. April 2016 perang kembali berkecamuk selama empat hari. Lebih dari 100 orang dinyatakan tewas
Foto: Getty Images/B. Hoffman
Kashmir
Sejak 1989 India berperang melawan kelompok bersenjata yang disokong Pakistan di Jammu Kashmir. Sejak saat itu lebih dari 21.000 gerilayawan tewas dan sekitar 5000 pasukan India gugur dalam tugas. Perang di Jammu Kashmir merefeleksikan konflik wilayah antara India dan Pakistan yang sebagiannya juga direcoki oleh Cina. Hingga kini konflik Kashmir masih berlanjut tanpa jalan keluar
Foto: picture-alliance/dpa/J. Singh
Semenanjung Krimea
Semenanjung di Laut Hitam ini sebenarnya kenyang konflik. Kekaisaran Rusia pernah bertempur melawan koalisi Kesultanan Usmaniyah yang didukung Inggris dan Perancis di abad ke19. Pada 2014 silam Rusia kembali unjuk gigi dengan menyokong pemberontakan melawan Ukraina. Kini Krimea menyatakan diri merdeka dan menjadi negara boneka Moskow.
Foto: picture-alliance/ITAR-TASS
Preah Vihear
Kamboja dan Thailand saling serang berebut kawasan Preah Vihear antara 2008 hingga 2011. Lebih dari 40 orang tewas, termasuk warga sipil. Wilayah di sekitar candi Preah Vihear ini sudah menjadi sengketa sejak Perang Dunia II. Tahun 1962 pengadilan internasional mengakui klaim Kamboja atas kompleks candi yang dibangun pada abad ke 11 itu. Namun Thailand tetap mengklaim kawasan di sekitarnya
Foto: picture-alliance/dpa
Dataran Tinggi Golan
Wilayah pegunungan yang membelah Israel dan Suriah ini sudah sering membuahkan perang antara kedua negara. Pertama tahun 1967 pada Perang Enam Hari, dan terakhir tahun 1973 ketika Israel bertempur melawan koalisi Arab dalam Perang Yom Kippur. Dataran Tinggi Golan diminati karena letaknya yang strategis. Sejak 1967 kawasan subur ini dikuasai oleh Israel.
Foto: Reuters/B. Ratner
Sahara Barat
Sejak 46 tahun Maroko bertempur melawan Republik Sahrawi yang mengklaim seluruh Sahara Barat sebagai wilayahnya. Hingga kini sebagian besar kawasan sengketa seluas dua kali pulau Jawa ini masih dikuasai Maroko. Menurut catatan sejarah, sejak awal perang sudah 21.000 nyawa melayang.
Foto: DW/A. Errimi
Pulau Malvinas/Falkland
Digerakkan oleh rasa nasionalisme, Argentina 1982 menduduki pulau Malvinas yang dikuasai Inggris. Akibatnya perang berkecamuk dan hampir 1000 serdadu meninggal dunia. Malvinas alias Falkland adalah konflik peninggalan era kolonialisme. Kepulauan seluas Nusa Tenggara Barat itu sudah diperebutkan oleh Spanyol dan Inggris sejak abad ke18
Foto: picture alliance/dpa/F. Trueba
Osetia Selatan & Abkhazia
Lebih dari 500 serdadu dan warga sipil tewas ketika Rusia mencaplok wilayah Georgia dan mendeklarasikan negara boneka. Abkhazia sudah bertempur demi kemerdekaan sejak awal 90an. Saat itu kelompok separatis melakukan pembersihan etnis Georgia. Lebih dari 10.000 orang tewas dan ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi. Perang etnis juga terjadi di Osetia Selatan antara 1989 hingga 1998.
Foto: Marco Longari/AFP/Getty Images
9 foto1 | 9
Namun, bangsa-bangsa Eropa kemudian datang dalam rangka perburuan rempah-rempah. Akibatnya wajah Maluku berubah selamanya. Dalam prosesnya, sejumlah sultan ditunjuk menjadi pihak yang mewakili seantero komunitas Maluku. Baik Portugis maupun Belanda, pasalnya, keliru mengira sultan tak ada bedanya dengan raja di Eropa. Sultan dianggap mempunyai kekuasaan yang efektif atas orang-orangnya. Sebagai satu-satunya pintu masuk dan keluar perdagangan rempah-rempah, akibatnya, para sultan dapat menumpuk komoditas-komoditas barter berharga merentangi besi, kain hingga, tentu saja, senjata. Mereka juga mendapatkan dukungan dari Eropa untuk menumpas seandainya di wilayah mereka pecah pemberontakan.
Apa yang terjadi pada kurun yang bergolak ini?
Kedudukan sultan pun berubah secara dramatis. Dari seseorang yang memerintah berandal relasi personalnya dengan warga, ia berubah menjadi sosok yang mempunyai kuasa untuk memaksa wilayah-wilayah yang jauh sekalipun untuk tunduk di bawahnya. Ia memiliki busana kebesaran untuk menampilkan diri sebagai sosok suci. Merekpun punya perkakas besi untuk ditukar dengan komitmen desa-desa mengabdi kepadanya. Tetapi, yang paling penting, ia kini memiliki balatentara yang memungkinkannya melancarkan perang dan tak lagi perlu mengandalkan bujukan halus untuk meyakinkan orang.
Konflik, memang, bukannya benar-benar tidak pernah terjadi sebelum kedatangan bangsa Eropa di Maluku. Namun, sebelum kekerasan menjadi pilihan pertama dan utama untuk mempersatukan orang-orang, keutuhan komunitas dijaga dengan hubungan timbal balik yang relatif setara.
Hal serupa dapat kita temukan pula pada sejarah Hawaii. Kamehameha I, raja pertamanya dan sosok pemersatu pulau ini, mampu melakukan apa yang dilakukannya hanya setelah memperoleh senjata dan bubuk mesiu dari Inggris dan Amerika. Bermodalkan persenjataan ini, ia memerangi suku-suku lainnya. Satu-persatu suku lain ditundukkannya. Dan kepala suku terakhir yang masih merdeka, Kauai, menyerahkan kekuasaannya kepada Kamehameha I dalam sebuah perjanjian sebelum kekalahan yang lebih getir harus ditanggungnya. Pada tahun 1795, Kerajaan Hawaii pun berdiri dan ia menjadi raja pertamanya.
Institut Heidelberg untuk Riset Konflik Internasional (HIIK) merilis 'Barometer Konflik 2013'. Baik karena fanatisme agama, hasil bumi berharga atau gila kuasa, sepanjang tahun 2013 terjadi sekitar 400 konflik di dunia.
Foto: picture-alliance/dpa
Suriah
Pada tahun keempat perang sipil di Suriah, kekacauan masih merajalela. Negara ini terpecah antara pasukan pemerintah di bawah Presiden Bashar al-Assad, kelompok oposisi moderat, Islamis, kelompok preman dan geng kriminal. Lebih dari 100.000 orang tewas akibat konflik, dan 9 juta warga terpaksa mengungsi. Konflik ini berpotensi meluas ke negara-negara tetangga.
Foto: Mohmmed Al Khatieb/AFP/Getty Images
Afghanistan
Pertempuran berlanjut di Afghanistan setelah NATO menyerahkan kontrol keamanan ke militer lokal. Taliban dan kelompok militan Islam lainnya terus melancarkan perang terhadap pemerintah menggunakan serangan bom bunuh diri dan ranjau. Wilayah perbatasan menjadi daerah yang paling rentan kekerasan. Menurut PBB, lebih dari 2.500 warga sipil tewas di Afghanistan tahun 2013.
Foto: picture-alliance/dpa
Filipina
Selama 40 tahun lebih front pembebasan Moro di Filipina memperjuangkan kebebasan. Setelah sempat mereda, konflik kembali berkecamuk tahun 2013 saat MNLF mengumumkan kemerdekaan kepulauan di bagian selatan Filipina. Pemberontak yang berusaha mengambil alih kota Zamboanga dipukul mundur oleh militer. Lebih dari 120.000 orang terpaksa mengungsi.
Foto: Reuters
Meksiko
Narkoba, perdagangan manusia, pemerasan dan penyelundupan: Ini cara kartel di Meksiko mendapat pemasukan. Untuk melindungi aliran dana, konflik antar kartel dan dengan pemerintah begitu marak. Pertempuran kecil terjadi setiap pekan. Akibatnya ratusan kelompok preman terbentuk di berbagai penjuru negeri. Tahun 2013 korban tewas akibat konflik kartel mencapai 17.000 orang.
Foto: picture-alliance/dpa
Nigeria
Kelompok Islamis Boko Haram ingin memberlakukan hukum Syariah di Nigeria. Untuk mencapai target ini, kelompok tersebut terus menyerang umat Kristen dan Muslim moderat. Dalam gambar, kerabat korban umat Kristen menggali kuburan usai sebuah serangan. Nigeria juga mempunyai pertempuran lain: petani Kristen bentrok dengan penggembala ternak Muslim terkait lahan subur.
Foto: picture-alliance/dpa
Sudan
Selama 10 tahun lebih beragam kelompok etnis Afrika bertempur di wilayah Darfur, Sudan, melawan pasukan pemerintah dan sekutunya. Dalam konflik, suplai air dan lahan subur menjadi taruhan. Ratusan ribu warga tewas akibat pertempuran dan jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Foto: picture-alliance/dpa
Somalia
Konflik antara pejuang al-Shabab dan militer di Somalia telah berlangsung selama 8 tahun. Dengan bantuan pasukan PBB dan Uni Afrika, pemerintah Somalia berhasil mengatasi gempuran Islamis. Meski begitu, pejuang al-Shabab tetap mengontrol wilayah selatan negeri. Al-Shabab bertanggung jawab atas sejumlah serangan bom di ibukota Mogadishu tahun 2013.
Foto: Mohamed Abdiwahab/AFP/Getty Images
Sudan Selatan
Tiga tahun setelah merdeka, Sudan Selatan tetap menjadi negara yang didominasi konflik dan medan dua pertempuran. Pejuang yang loyal terhadap wakil presiden bertempur melawan pasukan presiden. Militer juga menghadapi pertempuran lain. Di negara tetangga, Sudan, pasukan Sudan Selatan mendukung upaya otonomi dari dua provinsi yang kaya minyak bumi.
Foto: Reuters
Republik Demokratik Kongo
Di Kivu sepanjang tahun 2013 militer terus-terusan berhadapan dengan kelompok pemberontak M23. Setelah negosiasi damai dengan pemerintah, para pejuang kelompok itu terpecah menjadi kelompok-kelompok berbeda. Akhir tahun 2013 pemerintah Republik Demokratik Kongo mengumumkan kekalahan pemberontak. M23 telah menyatakan siap berjuang secara politik.
Foto: Melanie Gouby/AFP/GettyImages
Mali
Di Mali, pejuang Islamis berupaya merebut kekuasaan. Tahun 2012, sejumlah wilayah di bagian utara negeri berhasil direbut. Alhasil, Perancis ikut turun tangan membantu pemerintah Mali dengan pasukan dan persenjataan, serta serangan darat dan udara untuk menaklukkan pasukan Islamis. Pasukan helm biru kini bertugas menjaga keamanan, namun serangan dan bom bunuh diri terus berlanjut.
Foto: picture-alliance/dpa
10 foto1 | 10
Sebelum itu? Menariknya, dari catatan para penjelajah Eropa pertama dan sejarah lisan orang-orang Hawai yang dihimpun Robert J. Hommon, para kepala suku nampak terbiasa menabalkan kepemimpinannya dengan menikahkan anaknya dengan anak kepala suku lain serta menunjukkan kecakapan spiritualnya. Ini mensinyalir di masa lalu satu komunitas suku di Hawaii terikat dengan komunitas lainnya melalui hubungan kekerabatan serta pribadi. Tak berbeda dengan di Maluku.
Utopia bukan sebuah hal yang mustahil
Pada titik ini, saya harap pesan yang saya siratkan tak terlalu samar-samar. Pesan moral ilustrasi saya, peradaban tanpa perang seharusnya bukanlah sebuah utopia yang mustahil. Mungkinkah di masa lalu seseorang hidup bersama banyak orang lain tanpa mengandalkan kekerasan sebagai perkakas kontrol? jawabannya tegas : Mungkin!.
Sayangnya, ini bukan berarti kita mungkin untuk menghadirkan masyarakat semacam itu saat ini. Setelah kita mengenal kekerasan sebagai cara untuk menjaga keutuhan masyarakat. Kita tak mungkin berpura-pura lupa dengannya. Ia akan selalu menempel pada diri kita sebagai instrumen pengelolaan integrasi yang terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Dan kita akan selalu kembali kepadanya, apa pun yang kita lakukan. Banyak bukti, telah berbicara sendiri. Tanpa ancaman riil saja, sebentar-sebentar kita mengaku siap berperang dan membela NKRI.
Maka peradaban tanpa perang bukan utopia yang mustahil, memang. Tetapi ia adalah utopia yang telanjur lumat. Dilumat kehausan kita pada kekerasan.
Penulis: Geger Riyanto
Esais dan peneliti sosiologi. Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di UI. Bergiat di Koperasi Riset Purusha.
@gegerriy
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
Bertahun-tahun rakyat Aceh menanggung kebiadaban TNI selama operasi militer menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Serupa kasus 65, darah yang membalur Serambi Mekah adalah dosa yang selamanya menghantui militer Indonesia.
Foto: Getty Images/AFP/S. Ananda
Perintah dari Istana
Pada 19 Mei 2003, pemerintahan Megawati melancarkan operasi militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 serdadu dan 12.000 polisi. Sebelumnya Gerakan Aceh Merdeka menolak status otonomi khusus yang ditawarkan pemerintah. Perang yang dikobarkan Megawati berlangsung selama setahun.
Foto: Getty Images/AFP/Raka
Senjata Gelap TNI
GAM sudah berperang demi kemerdekaan Aceh sejak tahun 1976. Kegigihan gerakan separatis itu menyulut perang berkepanjangan dengan TNI. Ironisnya GAM banyak membeli senjata secara gelap dari TNI. Tahun 2000 silam Polda Metro Jaya menggerebek sebuah rumah dan menemukan bukti pembelian senjata TNI oleh GAM dengan nilai sebesar tiga miliar Rupiah.
Foto: Getty Images/AFP/H. Simanjuntak
Berpaling Simpati
Perang pemberontakan Aceh 1990-1998 termasuk yang paling rentan pelanggaran HAM. Selama delapan tahun sekitar 12.000 nyawa menghilang, kebanyakan adalah warga sipil Aceh. Kebiadaban TNI selama itu diyakini justru menambah simpati rakyat Aceh terhadap gerakan separatis.
Foto: Getty Images/AFP/Inoong
Kejahatan Demi NKRI?
Tahun 2013 silam Komnas HAM menyelidiki lima kasus kejahatan perang selama DOM 1990-1998, yakni tempat penyiksaan Rumoh Geudong di Pidie, pembantaian massal di Bumi Flora, Aceh Timur dan Simpang KKA di Aceh Utara, serta kasus penghilangan paksa dan kuburan massal di Bener Meriah.
Foto: Getty Images/AFP/C. Youn-Kong
Intimidasi Demi Informasi
TNI berikrar akan lebih hati-hati selama operasi militer di Aceh 2003. Tapi serupa di Timor Leste, tentara dilaporkan sering mengintimidasi penduduk desa untuk mengungkap tempat persembunyian pemberontak. Human Rights Watch mencatat berbagai kasus penculikan dan penganiayaan anggota keluarga terduga gerilayawan. Desember 2003 Polri memerintahkan "menembak mati" siapapun yang "membawa bendera GAM."
Foto: Getty Images/AFP/Inoong
Pondok Kelabu
Pada 17 Mei 2003 tiga truk tentara mendatangi desa Jambo Keupok, Aceh Selatan. Di sana mereka menginterogasi penduduk desa ihwal persembunyian GAM. Hasilnya 16 penduduk tewas. Sebagian ditembak, ada yang disiksa atau bahkan dibakar hidup-hidup, tulis Komisi untuk Orang Hilang, Kontras. Insiden tersebut kemudian dikenal dengan istilah Tragedi Jambo Keupok.
Foto: Getty Images/AFP/C. Youn-Kong
Media Propaganda
Berbeda dengan DOM 1990-1998, TNI menggandeng media untuk menguasai pemberitaan ihwal perang di Aceh. Wartawan misalnya dilarang mengutip sumber dari GAM. "Saya berharap wartawan menulis dalam kerangka NKRI. Kalau saya terkesan keras, harap dimaklumi," tutur penguasa darurat militer Aceh saat itu, Mayjen Endang Suwarya.
Foto: Getty Images/AFP/Stringer
Adu Klaim Soal Korban
Selama satu tahun antara Mei 2003 hingga 2004, sebanyak 2000 orang tewas dalam pertempuran. TNI mengklaim semuanya adalah gerilayawan GAM. Namun berbagai LSM dan termasuk Komnas HAM membantah klaim tersebut. Sebagian besar korban ternyata warga sipil biasa.
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Pagar Manusia
Salah satu strategi TNI adalah membangun "pagar betis" yang terdiri dari warga sipil. Mereka diperintahkan untuk menyisir sebuah kawasan yang diduga dijadikan tempat persembunyian GAM. Dengan cara itu, TNI berharap GAM tidak akan menembak dan mau keluar dari sarangnya. Strategi serupa sering diterapkan saat Operasi Seroja di Timor Leste.
Foto: Getty Images/AFP/H. Simanjuntak
Tanpa Keadilan
Berbagai penyelidikan yang dilakukan LSM Kemanusiaan dan Komnas HAM terkait kejahatan perang di Aceh gagal membuahkan keadilan buat korban. Hingga kini sebagian rakyat Aceh masih hidup dengan trauma perang.