1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perancis Kecewa Dengan Sarkozy

15 Maret 2010

Pemilu regional tahap pertama di Perancis merupakan tamparan pahit bagi partai pemerintah UMP dari Presiden Nicolas Sarkozy. Kebanyakan pemilih kecewa dengan pemerintahannya.

Presiden Nicolas Sarkozy didampingi istri Carla Bruni memberi suara di Paris (14/03)Foto: AP

Harian Perancis Liberation menulis:

Kubu konservatif di Perancis mencatat hasil pemilu terburuk dalam sejarahnya. Mereka hanya berhasil menjaring seperempat jumlah suara. Banyak pemilih yang tidak ikut pemilihan regional ini. Hal ini menunjukkan, Perancis tidak hanya menghadapi krisis sosial, melainkan juga krisis politik. Presiden Nicolas Sarkozy sebenarnya ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat. Debat tentang identitas nasional Perancis digelar untuk melemahkan kubu radikal kanan. Yang terjadi justru sebaliknya. Keberhasilan radikal kanan cukup meresahkan. Kalau pemilihan regional ini dilihat sebagai tes untuk pemilu presiden tahun 2012, maka hasilnya bisa dirangkum sebagai berikut: ini jelas sebuah tamparan.

Harian Perancis lainnya, Le Figaro berkomentar:

Tidak ada yang bisa membantah, bahwa putaran pertama pemilihan regional ini adalah kekalahan telak bagi partai pemerintah UMP. Ini hasil melegakan bagi Partai Sosialis PS dan memberi harapan pada Partai Hijau. Partai Sosialis sekarang punya mitra yang cukup kuat, yaitu Partai Hijau. Ini merupakan cadangan suara yang menguntungkan. Sedangkan penampilan partai radikal kanan Front Nasional menunjukkan, mereka tetap bisa membahayakan posisi kubu konservatif

Harian Italia La Stampa menanggapi hasil putaran pertama pemilu regional di Perancis sebagai berikut:

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menghadapi sebuah dilema: Kecepatan reformasi dan substansinya membuat rakyat Perancis kuatir dan menyulut ketidakpuasan. Sebab yang paling penting bagi warga Perancis sekarang adalah situasi di lapangan kerja. Pada saat yang sama, para pendukung menuduh Sarkozy terlalu lambat melakukan pembaruan. Tuntutan yang saling bertolak belakang ini akan mendominasi debat publik Perancis di masa depan. Pertanyaannya, dapatkah dan bagaimana cara Sarkozy melepaskan diri dari lilitan krisis saat ini.

Di Irak, hasil pemilihan umum mulai diumumkan. Pihak oposisi menuduh pemerintah melakukan manipulasi. Harian Inggris Times menanggapi:

Tuduhan yang dilontarkan menunjukkan adanya ketidakpuasan. Tapi makna pemilu ini terlihat dari banyaknya warga Irak yang datang ke tempat pemungutan suara, sekalipun ada aksi kekerasan berdarah. Berbeda dengan pemilu terakhir tahun 2005, kali ini warga minoritas Sunni tidak menyerukan aksi boikot. Mereka malah muncul sebagai kekuatan politik yang menentukan. Irak akan punya pemerintahan dan oposisi. Warganya akan menaruh harapan besar pada politik.

HP/VLZ/dpa/afp