1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
OlahragaGlobal

Perang AS-Israel dengan Iran Jadi Ancaman Piala Dunia 2026?

3 Maret 2026

100 hari jelang Piala Dunia 2026, konflik antara AS sebagai co-host dan Iran yang lolos kualifikasi memunculkan pertanyaan serius. Sejumlah persoalan lain juga masih belum selesai, mulai dari harga tiket hingga keamanan.

Tim nasional Iran berkumpul dan berpelukan mengenakan pakaian seraga puih-putih dalam pertandingan persahabatan sepak bola internasional FIFA
Iran telah lolos ke empat Piala Dunia terakhir, tetapi mungkin tidak akan berpartisipasi pada tahun 2026Foto: Sebastian Frej/IMAGO

Tanggal 3 Maret menandai 100 hari menjelang kick-off atau dimulainya Piala Dunia 2026. Serangkaian playoff bulan ini akan menentukan enam tim terakhir untuk melengkapi format baru turnamen yang kini diperbanyak menjadi 48 tim.

Namun, situasi geopolitik membayangi persiapan. Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, serta balasan Teheran di kawasan Timur Tengah, memunculkan ketidakpastian. 

Salah satu peserta playoff, kemungkinan Irak, negara tetangga Iran, disebut-sebut bisa menggantikan Iran yang sebenarnya sudah memastikan tiket sejak tahun 2025. 

"Sulit mengatakan secara pasti, tetapi pasti akan ada tanggapan," kata Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, pada Senin (02/03) di Saluran 3 IRIB Iran. "Hal ini pasti akan dibahas oleh pejabat olahraga tingkat tinggi."

"Namun, yang bisa kami katakan akibat serangan dan kekejaman ini, jauh dari harapan kami untuk dapat melihat Piala Dunia dengan penuh optimisme."

Warga Iran Robohkan Monumen Khomeini

00:36

This browser does not support the video element.

Meskipun belum ada keputusan untuk tim putra, tim putri Iran memulai kampanye Piala Asia di Australia dengan kekalahan dari Korea Selatan, tanpa diwarnai protes politik.

Meskipun Australia tidak terlibat langsung dalam serangan ke Iran seperti yang dilakukan AS dan Israel, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bahwa "pihaknya mendukung AS."

Tim putra Iran dijadwalkan memainkan seluruh laga fase grup Piala Dunia di AS. Melawan Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles, kota tuan rumah Olimpiade 2028, lalu melawan Mesir di Seattle.

Piala Dunia untuk semua?

FIFA menyatakan mereka memantau situasi. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menegaskan "fokus kami adalah mengadakan Piala Dunia yang aman dengan partisipasi semua orang."

Namun, pendukung Iran dilarang bepergian ke AS karena mereka, bersama dengan tim kualifikasi lain seperti Pantai Gading, Senegal, dan Haiti, terdaftar dalam daftar larangan perjalanan Presiden AS Donald Trump.

Pengecualian hanya berlaku bagi pemain dan ofisial yang mendapat izin khusus. Kebijakan ini, ditambah pengetatan imigrasi oleh otoritas AS, memicu kekhawatiran di kalangan calon penonton internasional.

Meski wacana boikot dari Eropa mereda setelah Trump mencabut ancaman terhadap Greenland awal tahun ini, dinamika politik AS tetap sulit diprediksi. Kedekatan Trump dengan Presiden FIFA Gianni Infantino turut menjadi sorotan, apalagi setelah Infantino menghadiri peluncuran Dewan Perdamaian Trump dan tampil mengenakan topi bergaya MAGA (Make America Great Again).

Harga tiket selangit

Bagi mereka yang berasal dari negara-negara yang tidak masuk daftar larangan atau sedang berperang dengan tuan rumah, harga tiket dan biaya terkait menjadi kontroversi tersendiri.

Tiket final dibanderol mulai dari 2.000 dolar AS (sekitar Rp33,7 juta), sementara kursi premium mencapai 8.680 dolar AS (setara Rp146,5 juta). Di portal penjualan ulang FIFA, harga bahkan sempat menyentuh 143.750 dolar AS (sekitar Rp2,4 miliar).

Harga bisa naik lebih tinggi lagi, karena FIFA masih menahan sejumlah tiket hingga seluruh peserta bisa dipastikan. Skema "siapa cepat dia dapat" serta minimnya regulasi pasar sekunder membuat penggemar khawatir harga akan semakin tak terkendali.

Biaya perjalanan pun tak murah. Banyak stadion di AS hanya dapat diakses dengan mobil. Parkir di Stadion SoFi, Los Angeles, misalnya, bisa mencapai 300 dolar AS (setara Rp5 juta) per hari pertandingan, belum termasuk jarak tempuh sekitar 1,6 kilometer dari lokasi parkir ke stadion. 

Tidak ada kemeriahan festival penggemar?

Bagi mereka yang tidak memiliki tiket atau memiliki tiket untuk pertandingan di tempat lain, kawasan penggemar telah menjadi bagian dari tradisi Piala Dunia dalam 20 tahun terakhir. 

Namun, penutupan sebagian pemerintah federal AS telah membuat kawasan penggemar terancam tahun ini. Hampir 900 juta dolar AS (hampir Rp15,1 triliun) yang dialokasikan untuk 11 kota tuan rumah di AS belum cair, menyebabkan banyak kota memperingatkan bahwa mereka mungkin harus membatalkan acara.

"Kami harus mulai membuat keputusan yang sangat sulit, dan ini dimulai dengan festival penggemar kami," kata Ray Martinez, kepala operasional Komite Penyelenggara Piala Dunia Miami, sambil memperingatkan bahwa harus ada penyelesaian sebelum akhir bulan. Kota-kota lain menyampaikan kekhawatiran serupa.

"Pertandingan di stadion tetap berjalan, tetapi pesta nonton bareng dan acara-acara publik bisa terancam," kata Martinez.

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, termasuk yang mengkritik harga tiket Piala DuniaFoto: Andrea Renault/ZUMA/picture alliance

Meksiko dihantui kartel narkoba

Di Meksiko dan Kanada, persiapan relatif lebih stabil. Mexico City akan menjadi tuan rumah laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan pada 11 Juni 2026.

Namun, gelombang kekerasan yang dipicu oleh pembunuhan bos kartel narkoba Meksiko akhir Februari telah menimbulkan kekhawatiran keamanan.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengonfirmasi pekan lalu bahwa FIFA akan segera mengunjungi negara tersebut untuk melakukan penilaian. Presiden FIFA Gianni Infantino disebut menyatakan bahwa ia memiliki "keyakinan penuh" terhadap kesiapan Meksiko sebagai tuan rumah.

"Dia meyakinkan saya bahwa Piala Dunia akan digelar di negara kami," ujar Sheinbaum. "Kami sepakat bahwa FIFA pasti akan datang untuk meninjau beberapa isu. Kami telah bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi isu keamanan tentu saja sangat penting."

Dua kota di Kanada, Toronto dan Vancouver, juga bersiap menjadi tuan rumah pertandingan.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor Muhammad Hanafi