Pembatasan AS terhadap chip canggih mendorong Cina membangun ekosistem semikonduktornya sendiri. Meski masih tertinggal di lini paling mutakhir, teknologi “cukup baik” dari Cina kini cepat menopang ekonomi global.
Cina telah menggelontorkan ratusan miliar dolar ke produksi chip domestik untuk menciptakan pemain industri kelas duniaFoto: Long Wei/VCG/MAXPPP/picture alliance
Pemerintahan Joe Biden bertujuan membatasi kemampuan Beijing dalam mengembangkan teknologi yang dapat memperkuat kekuatan militer dan finansialnya, sekaligus mempersempit kesenjangan antara dua ekonomi terbesar dunia.
Pembatasan ini mendorong Beijing mempercepat upaya kemandirian chip, sebuah tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya dalam rencana Made in China 2025. Sejak itu, pemerintah Cina menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun produksi semikonduktor domestik.
Aplikasi AI Populer: Dari ChatGPT hingga DeepSeek
Perkembangan AI telah melahirkan aplikasi inovatif dari berbagai negara, seperti ChatGPT dari AS dan DeepSeek dari Cina.
Foto: Bihlmayerfotografie/Imago
DeepL
DeepL, sebuah perusahaan asal Jerman, telah merilis platform penerjemah berbasis AI yang diklaim mampu mengolah berbagai variasi bahasa dengan akurasi tiga kali lebih tinggi dibandingkan pesaingnya. DeepL juga dapat menerjemahkan halaman web, gambar, hingga email, serta memungkinkan pengguna untuk mengubah nada bicara menjadi formal atau informal sesuai kebutuhan.
Foto: Ralf Hirschberger/ZB/picture alliance
ChatGPT
Dirilis pada November 2022, ChatGPT dari OpenAI dengan cepat menarik perhatian jagat maya karena kemampuannya membuat esai, artikel, puisi, hingga bahasa pemrograman. ChatGPT dirancang untuk aktif berinteraksi dengan pengguna dalam berbagai topik. Saat ini, dengan versi GPT-4, pengguna sudah bisa berinteraksi dengan gambar.
Foto: Jaap Arriens/NurPhoto/picture alliance
Gemini
Dirilis oleh Google pada tahun 2023, Gemini diproyeksikan menjadi pesaing utama ChatGPT. Dengan pembaruan 2.0 Flash, Gemini mampu mengolah teks, visual, dan audio multibahasa dengan tingkat kendali yang tinggi. Model ini diklaim dapat menyelesaikan masalah dengan cara memecah instruksi pengguna menjadi tugas-tugas kecil sehingga menghasilkan jawaban yang akurat.
Foto: Jakub Porzycki/NurPhoto/picture alliance
Copilot
Copilot adalah aplikasi inovatif dari Microsoft yang menggabungkan Large Language Model (LLM) dengan Microsoft 365. Copilot membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi di aplikasi seperti Word, Excel, dan PowerPoint. Fitur cerdasnya termasuk Bing Chat untuk pencarian interaktif, Copilot Vision untuk analisis konten, dan Think Deeper untuk solusi masalah kompleks.
Foto: Andre M. Chang/ZUMA/picture alliance
DeepSeek
Aplikasi DeepSeek, yang dikembangkan oleh perusahaan Cina, memanfaatkan perangkat keras Nvidia yang lebih murah dan lawas. Meski demikian, aplikasi ini diyakini mampu menyaingi ChatGPT. Dengan model "open source"-nya, DeepSeek telah mengguncang pasar saham teknologi AS dan menjadi aplikasi AI teratas di App Store sejak peluncurannya pada Januari 2025.
Foto: Artur Widak/NurPhoto/picture alliance
5 foto1 | 5
Chip sebagai isu keamanan nasional
Beijing memberikan subsidi besar, keringanan pajak, dan berbagai insentif biaya untuk membina pesaing lokal bagi NVIDIA, perusahaan AS di balik chip AI mutakhir Blackwell, serta TSMC, produsen chip kontrak terbesar di dunia untuk semikonduktor canggih dan pengembang teknologi manufaktur chip N2.
SMIC, tulang punggung rencana kemandirian Cina, mencatat pendapatan rekor sebesar 9,3 miliar dolar AS (sekitar Rp148,8 triliun) tahun lalu, sementara HuaHong, foundry atau pabrik chip pihak ketiga dalam rantai pasok semikonduktor terbesar kedua di daratan Cina, beroperasi pada kapasitas 106% akibat tingginya permintaan, menurut laporan keuangan kuartal IV 2025.
Namun, meskipun Cina berupaya keras mengejar perusahaan teknologi besar AS, Ryu Yongwook, asisten profesor di National University of Singapore, menilai kemajuan tersebut sering dilebih-lebihkan.
“Beijing ingin mencapai kemandirian chip, tetapi level saat ini masih jauh dari itu,” ujarnya.
Cina tertinggal dari AS dalam riset, desain, dan inovasi, serta juga berada di belakang Taiwan dan Korea Selatan dalam hal produksi, menurut Ryu.
Produsen chip Cina naik dalam rantai nilai
Meski demikian, Cina telah mencapai terobosan berarti dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Rhodium Group, negara tersebut kini menguasai sekitar 30% pangsa pasar global untuk chip legacy, komponen penting dalam kendaraan, peralatan industri, dan elektronik konsumen.
Chip ini memang bukan yang paling cepat atau paling canggih, tetapi diproduksi dalam skala besar oleh perusahaan Cina, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pesaing global.
“Ekspansi produksi Cina akan menekan harga chip secara global dan memberi tekanan pada vendor non-Cina,” kata John Lee dari East-West Futures.
Fenomena ini sudah terlihat di beberapa sektor, seperti wafer silikon karbida, material penting untuk chip berdaya tinggi.
Teknologi Yang Mengubah Strategi dan Taktik Perang
Artificial Intelligence (AI) mengubah strategi dan taktik perang. Para ahli memperingatkan, pengembangan senjata mematikan yang bertindak secara otonom bisa membahayakan. Sejak dulu, teknologi memengaruhi cara berperang.
Foto: Getty Images/E. Gooch/Hulton Archive
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence -AI): Revolusi perang jilid tiga
Lebih 100 ahli AI menulis surat terbuka dan meminta PBB melarang senjata otonom yang mematikan. Senjata semacam ini memang belum digunakan, namun kemajuan penelitian AI memungkinkan hal itu terwujud dalam waktu dekat, kata para ahli. Mereka mengatakan, senjata semacam itu bisa menjadi "revolusi ketiga dalam peperangan," setelah penemuan mesiu dan senjata nuklir.
Foto: Bertrand Guay/AFP/Getty Images
Penemuan bubuk mesiu
"Revolusi pertama" dalam cara berperang ditemukan warga Cina, yang mulai menggunakan bubuk mesiu hitam antara abad ke 10 sampai 12. Teknologi itu kemudian berkembang sampai ke Timur Tengah dan Eropa. Senjata dengan peluru memang lebih ampuh daripada tombak dan panah yang ketika itu digunakan.
Foto: Getty Images/E. Gooch/Hulton Archive
Artileri
Penemuan mesiu akhirnya memperkenalkan artileri ke medan perang. Tentara mulai menggunakan meriam sederhana pada abad ke-16 untuk menembakkan bola logam berat ke arah prajurit infanteri pihak lawan. Meriam mampu menembus tembok tebal sebuah benteng.
Foto: picture-alliance/akg-images
Senapan mesin
Penemuan senapan mesin pada akhir abad ke-19 segera mengubah medan peperangan. Penembaknya sekarang bisa berlindung agak jauh dari bidikan musuh dan mengucurkan puluhan amunisi dalam waktu singkat. Efektivitas senapan mesin sangat jelas dalam Perang Dunia I. Korban manusia yang tewas makin banyak.
Foto: Imperial War Museums
Pesawat tempur
Para pemikir militer terus mengembangkan peralatan perang yang makin canggih. Setelah penemuan pesawat terbang tahun 1903, enam tahun kemudian militer AS membeli pesawat militer pertama jenis Wright Military Flyer yang belum dipersenjatai. Pada tahun-tahun berikutnya, pesawat dilengkapi senjata dan juga digunakan untuk menjatuhkan bom.
Foto: picture-alliance/dpa/dpaweb/U.S. Airforce
Roket dan peluru kendali
Artileri memang efektif, tapi daya jangkaunya terbatas. Penemuan roket dan peluru kendali pada Perang Dunia II tiba-tiba mengubah strategi perang. Rudal memungkinkan militer mencapai target yang ratusan kilometer jauhnya. Rudal pertama buatan Jerman jenis V-2 masih relatif primitif, tapi inilah awal mula pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Foto: picture-alliance/dpa
Pesawat jet
Pesawat jet pertama kali tampil pada akhir Perang Dunia II. Mesin jet secara dramatis meningkatkan kecepatan sebuah pesawat terbang dan memungkinkannya mencapai target lebih cepat. selain itu, pesawat jet sulit jadi sasaran musuh karena kecepatannya. Setelah Perang Dunia II, dikembangkan pesawat pengintai militer yang bisa terbang di ketinggian lebih dari 25 kilometer.
Foto: picture-alliance
Senjata nuklir
"Revolusi kedua" dalam strategi perang adalah penemuan bom atom dan penggunaannya di Hiroshima dan Nagasaki. Sekitar 60 sampai 80 ribu orang tewas seketika, belum lagi mereka yang terkena radiasi nuklir dan meninggal kemudian. Di era Perang Dingin, AS dan Uni Soviet mengembangkan ribuan hulu ledak nuklir dengan daya ledak yang lebih tinggi lagi.
Foto: Getty Images/AFP
Digitalisasi
Beberapa dekade terakhir, digitalisasi menjadi elemen penting dalam teknologi perang. Perangkat komunikasi militer jadi makin cepat dan makin mudah dioperasikan. Pada saat yang sama, efisiensi dan presisi meningkat secara radikal. Angkatan bersenjata modern kini fokus pada pengembangan kemampuan melakukan perang cyber untuk mempertahankan infrastruktur nasional dari serangan cyber musuh.
Foto: picture-alliance/dpa
9 foto1 | 9
Terobosan dalam chip canggih
Cina juga membuat kemajuan dalam chip yang lebih maju, dengan berhasil memproduksi prosesor kelas 7 nanometer yang kini digunakan pada smartphone terbaru Huawei.
Chip ini sebanding dengan produk yang dirilis oleh TSMC pada 2018 untuk pelanggan Barat, tetapi masih tertinggal dibandingkan dengan chip 3 nm dan 5 nm dalam hal kecepatan, efisiensi daya, dan biaya produksi.
Tim Rühlig dari European Union Institute for Security Studies menyebut ambisi chip Cina menghadapi “tembok batas” teknologi dan sanksi AS.
“Ada batasan sejauh mana Anda bisa berkembang tanpa akses ke chipset paling canggih milik AS,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Cina mungkin membutuhkan “sekitar satu dekade” untuk mengejar ketertinggalan.
Pemerintahan Donald Trump memberikan akses terbatas bagi Cina terhadap sebagian chip milik NVIDIA, tetapi SMIC justru mengalami lonjakan besar permintaan domestik untuk chip produksinya sendiriFoto: Wang Jianfeng/Costfoto/picture alliance
Mencerminkan perubahan prioritas, Rencana Lima Tahun terbaru Partai Komunis Cina tidak lagi terlalu menekankan dominasi chip. Dokumen tersebut lebih menyoroti AI dan memperkenalkan kerangka “model-chip-cloud-application,” yang menempatkan chip sebagai bagian dari ekosistem komputasi yang lebih luas.
Iklan
Rencana B Cina memicu rivalitas baru
Cina kini lebih fokus pada kecedrasan buatan atau akal imitasi (AI) praktis berbasis tugas untuk industri yang membutuhkan daya komputasi lebih rendah, sesuatu yang dapat ditangani oleh chip domestik.
Meski tidak berada di garis depan teknologi, sistem chip dan AI Cina menawarkan kinerja kuat dengan biaya jauh lebih rendah. Hal ini mendorong adopsi cepat di Global South, di mana pemerintah dan perusahaan semakin memilih solusi Cina dibandingkan Barat.
Firma intelijen pasar TrendForce mencatat bahwa platform AI Cina seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba telah menguasai sekitar 15% pasar model AI global pada akhir 2025.
Hal ini menjadi ancaman jangka panjang bagi dominasi global perusahaan teknologi AS seperti Microsoft dan Google, yang diperkirakan menghabiskan rekor 700 miliar dolar AS (sekitar Rp11,2 kuadriliun) tahun ini untuk infrastruktur AI menurut Goldman Sachs.
Kecerdasan Buatan: Akankah Robot Humanoid Menggantikan Manusia?
Robot yang dilengkapi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mengambil alih lebih banyak tugas dari manusia. Apa yang mampu dilakukan oleh mesin itu? Apakah mereka akan segera menggantikan manusia?
Foto: Stringer/AA/picture alliance
Einstein sebagai panutan
Perusahaan Hanson Robotics yang berbasis di Hong Kong mengembangkan robot mirip manusia dan dikenal dengan robotika yang dilengkapi teknologi artificial intelligence (AI). Salah satu robot itu dinamakan "Profesor Einstein", terinspirasi dari fisikawan terkenal itu. Inovasi ini bertujuan agar pengetahuan dan humor Einstein dapat diakses oleh generasi mendatang.
Foto: Stringer/AA/picture alliance
Semirip mungkin dengan manusia
Untuk membuat robot yang bisa semirip mungkin dengan manusia, kulit nanoteknologi yang disebut Frubber digunakan dalam proses pembuatannya. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem operasi android yang menampilkan ekspresi wajah yang realistis. Nantinya perusahaan juga ingin memberikan robot kemampuan yang dimiliki manusia seperti cinta dan kasih sayang.
Foto: Stringer/AA/picture alliance
Robot Sophia: Seorang warga dan duta besar
Perusahaan Hanson Robotics menciptakan robot humanoid sejak 2007 dan berkembang pesat dalam 10 tahun dengan modelnya "Sophia", yang menjadi robot pertama dan sejauh ini satu-satunya yang memiliki kewarganegaraan. Setelah dirilis ke publik, Arab Saudi menjadikan robot itu sebagai warganya. "Sophia" juga bekerja untuk PBB sebagai "duta inovasi".
Foto: ISAAC LAWRENCE/AFP/Getty Images
Dari pencuci piring hingga penjelajah luar angkasa
Robot "Beomni" adalah robot serbaguna, yang menurut pabrikan AS Beyond Imagination, dapat digunakan dalam berbagai cara. "Beomni" mampu membuka botol, memberikan suntikan, sehingga dapat digunakan dalam bidang gastronomi dan bidang medis. Bahkan direncanakan akan mampu melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk membantu membangun konstruksi luar angkasa.
Foto: YouTube/CNET
Seni yang dibuat oleh kecerdasan buatan
Robot humanoid tidak hanya bisa melakukan tugas-tugas praktis, mereka bahkan punya kemampuan artistik seperti halnya dengan "Ai-Da Robot." Robot humanoid dari Engineered Arts adalah seniman dengan wajah manusia dan lengan robot. Dikembangkan pada tahun 2019, "Ai-Da" adalah sistem seni robotik pertama di dunia. Dengan bantuan algoritme, robot ini bisa menghasilkan gambar, lukisan, dan pahatan.
Foto: Avalon/Photoshot/picture alliance
Asli dan palsu
Ini adalah foto ahli robot Jepang, Hiroshi Ishiguro, yang berdiri di samping robotnya "Geminoid", yang terlihat seperti saudara kembarnya. Ishiguro dianggap sebagai bintang pop dalam penelitian robotika Jepang dan telah membuat tiruan android untuk Menteri Transformasi Digital Jepang, Taro Kono. Robot Ishiguro sedang dalam serangkaian workshop di Amerika Serikat, tanpa sang pembuatnya.
Foto: Naoki Maeda/AP Photo/picture alliance
Rekan seperjuangan
Robot humanoid juga sedang dikembangkan di Jerman. Pada musim gugur 2022, "Lena" menyelesaikan uji coba di kantor. Robot perempuan buatan laboratorium penelitian Leap in Time Lab yang dilengkapi kecerdasan buatan ini bekerja bersama rekan manusia selama delapan minggu. Di akhir fase uji coba, Lena telah memperluas kosa katanya sedemikian rupa sehingga dia mampu memberikan presentasi.
Foto: Boris Roessler/dpa/picture-alliance
Ilmuwan dan pelopor AI memperingatkan akan bahaya
Semakin banyak tugas yang diambil alih kecerdasan buatan, semakin besar pembahasan tentang dimensi etis dari perkembangan ini. Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai "ayah baptis AI", takut kehilangan kendali atas AI dan memperingatkan "risiko serius bagi umat manusia". Banyak yang mungkin segera "tidak lagi mengenali apa yang benar," katanya. Hinton baru saja mengundurkan diri dari Google. (ha/)
Ada hambatan lain bagi ambisi Silicon Valley untuk menciptakan AI yang melampaui kecerdasan manusia. Pada Januari, penyedia intelijen pasar ICIS memperingatkan bahwa pusat data AS, yang bergantung pada chip kelas atas, dapat segera dibatasi oleh jaringan listrik yang tertekan.
Sebaliknya, sektor energi Cina yang berkembang pesat memberikan keuntungan tambahan. Dengan perkiraan kapasitas cadangan listrik mencapai 400 gigawatt pada 2030, Cina dapat membangun pusat data dalam skala besar meski chipnya kurang efisien.
“Energi murah adalah faktor sangat penting, bukan hanya untuk chip tetapi juga untuk AI dan teknologi maju lainnya,” kata Ryu Yongwook.
ICIS melihat tiga kemungkinan hasil dalam persaingan chip:
AS mempertahankan keunggulan dengan memperbaiki jaringan listriknya.
AS tetap memimpin riset AI dengan chip canggih, sementara sistem AI Cina menyebar di Global Selatan.
Jika ketegangan geopolitik meningkat, dua ekosistem AI terpisah dapat muncul.
Meskipun garis akhir masih jauh, industri chip menghadapi masa depan di mana pesaing Cina tidak hanya menawarkan harga lebih rendah, tetapi juga semakin cepat menutup kesenjangan dalam kecanggihan dan keandalan produk.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris