1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
ReligiGlobal

Perang dan Perdamaian: Tema Utama Setahun Paus Leo Menjabat

8 Mei 2026

Setahun setelah terpilih, Paus Leo XIV dipandang sebagai figur penting yang dapat mengimbangi Presiden AS Donald Trump. Namun, arah yang ingin ia bawa bagi Gereja Katolik masih belum jelas.

Paus Leo melambaikan tangan ke kamera sembari mengenakan jubah kebesarannya
Paus Leo XIV mengarahkan perhatiannya ke Afrika, kawasan tempat Gereja Katolik terus mengalami pertumbuhanFoto: Misper Apawu/AP Photo/dpa/picture alliance

Ia mengenakan jubah liturgi yang lebih meriah daripada pendahulunya. Berbeda dengan Paus Fransiskus, Paus Leo XIV kini kembali tinggal di Istana Apostolik yang menjulang di atas Lapangan Santo Petrus. Sesekali, ia juga menghabiskan waktu di kediaman musim panas kepausan di Castel Gandolfo, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Paus Fransiskus.

Dalam urusan penampilan, Robert Prevost, kardinal yang terpilih melalui konklaf pada 8 Mei 2025 sebagai pemimpin Gereja Katolik dan mengambil nama Leo XIV, memang berbeda dalam banyak hal dari pendahulunya.

Namun dalam hal terkait program kerja, teologis, dan gerejawi, masih belum jelas. Sejauh ini, belum ada ensiklik maupun dokumen penting terkait doktrin yang ditulis Leo XIV, sebagaimana dicatat oleh sejarawan gereja dari Augsburg, Jörg Ernesti, dalam perbincangannya dengan DW. Akibatnya, "masih belum jelas ke mana arah perjalanan teologis Paus ini." Untuk saat ini, Paus Leo tampaknya sengaja merahasiakan rencananya.

Kata-kata pertama Paus Leo yang diucapkan dari balkon Basilika Santo Petrus pada 8 Mei 2025, hanya beberapa jam setelah terpilih, adalah: "Damai sejahtera bagi kalian semua!" Tak ada kata lain dalam pidato itu yang muncul lebih sering daripada "damai." Paus Leo menyerukan "damai yang tanpa senjata dan meluluhkan hati, rendah hati dan gigih." Dengan demikian, ia pada dasarnya sejalan dengan pendahulunya, yang telah berulang kali menyuarakan keprihatinannya mengenai perang di Ukraina dan konflik di Gaza.

Terutama, kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bernuansa militeristik membuat tema perdamaian menjadi sangat penting, mulai dari intervensi AS di Venezuela, ancaman terhadap Kuba dan Greenland, hingga perang dengan Iran.

Serangan yang belum pernah dialami Paus Leo sebelumnya

Setelah serangan AS-Israel terhadap Iran, yang program nuklirnya telah menjadi perhatian internasional sejak Washington secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada 2018, bentrokan terbuka pecah antara dua tokoh AS yang bisa dibilang paling menonjol di panggung global: seorang paus yang dikenal dengan gaya bicaranya yang tenang di satu sisi dan di sisi lain ada seorang presiden yang meledak-ledak.

Selama perang Iran, setelah Paskah, Trump secara terbuka mengancam akan menghancurkan Iran: "Seluruh peradaban akan musnah malam ini," tulis Trump di platform media sosialnya. Ketika paus menolak ancaman itu sebagai sesuatu yang "benar-benar tidak dapat diterima" dan memperingatkan tentang "fantasi kemahakuasaan" yang menjadi "semakin tak terduga dan agresif," Trump menyerang Paus Leo secara pribadi. Dia menyebut Paus "sangat kiri secara politik" dan, dalam hal kebijakan luar negeri, "mengerikan." Trump mungkin mengabaikan pentingnya Venezuela dan Kuba, serta Lebanon, bagi Gereja Katolik. Ketiga negara tersebut berada dalam tradisi Katolik.

Sejarawan Gereja Ernesti, yang telah menulis tentang kepausan dan para paus secara individual, menyebut serangan Trump terhadap Leo sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Tak ada seorang pun yang pernah berbicara sedemikian merendahkan tentang seorang paus. Baik Hitler, Mussolini, maupun Napoleon," katanya. Ernesti juga menggambarkan hal itu "sama sekali tidak masuk akal" untuk memicu perselisihan dengan otoritas moral seperti Paus. Ia mencatat bahwa Leo merespons dengan ketenangan yang luar biasa, dengan tenang menyoroti tanggung jawab jabatannya. Kemudian, saat berbicara dengan wartawan dalam penerbangan ke Afrika, Paus Leo mengatakan ia "tidak takut" pada Trump atau pemerintahannya.

Serangan presiden terhadap Paus membuat kritik yang dilontarkan Paus Leo, yang disampaikan dalam sebuah pernyataan singkat pada suatu malam yang gelap di Castel Gandolfo, mendapat sorotan dunia. Perhatian ini semakin diperkuat oleh tren yang lebih luas: Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat, melaporkan adanya minat yang kembali muncul terhadap agama dan Gereja.

Perselisihan antara Wakil Presiden AS JD Vance dan Paus justru jauh kurang mendapat perhatian, meskipun pada dasarnya, hal itu mungkin lebih penting bagi Paus Leo daripada omongan keras sang presiden. Vance, yang memeluk agama Katolik pada tahun 2019 dan sering mengutip pemikir teologis yang lebih reaksioner, mendesak Paus Leo untuk "berhati-hati" saat berbicara tentang teologi. Hal terbaik, katanya, adalah "agar Vatikan tetap fokus pada masalah moralitas." Vance kemudian menggunakan nada yang lebih mendamaikan.

Mendahulukan Afrika dibanding Eropa

Berbeda dari pendahulunya, sejauh ini tidak ada pidato maupun pernyataan Paus Leo yang menunjukkan sikap meremehkan Eropa atau Gereja di negara-negara Eropa. Paus Fransiskus terkadang menggunakan bahasa yang keras, menuduh Eropa telah menjadi lesu dan menutup diri. Sebaliknya, Paus Leo sejauh ini selalu bersikap hangat saat menerima perwakilan negara-negara Eropa. Kunjungan enam hari ke Spanyol juga masuk dalam agendanya pada Juni 2026.

Meski demikian, jelas bahwa perhatian dan kedekatan hati Paus Leo sangat tertuju pada Afrika. Pada April 2026, ia menghabiskan sebelas hari mengunjungi empat negara Afrika, melampaui total waktu kunjungan Benediktus XVI ke benua itu selama delapan tahun masa kepausannya. Sejak awal, Paus Leo memang telah memberi sinyal bahwa Afrika akan menjadi prioritas.

Sebaagai pakar kepausan, Ernesti menyebut "keputusan yang sangat disengaja dari Leo2 itu sejalan dengan visi yang lebih luas. Ia mencatat bahwa Afrika telah "menjadi perhatian para paus selama 150 tahun." Gereja di benua tersebut saat ini tumbuh rata-rata 3% per tahun, sementara Gereja di Eropa mengalami stagnasi. "Keseimbangan kekuatan di dalam Gereja Katolik sedang bergeser," papar Ernesti kepada DW. Semakin banyak orang Afrika yang bekerja di Vatikan. Pergeseran Leo ke arah Afrika, serta penghormatan yang ia tunjukkan, jelas juga mencakup pandangannya terhadap Asia dan Amerika Latin.

Sejak terjadinya ketegangan antara Presiden Trump dan Paus Leo, banyak pengamat tidak lagi mengharapkan Paus Leo, yang lahir di Chicago, untuk mengunjungi Amerika Serikat selama Trump masih menjabat. Rumor bahwa pemerintah AS berharap Paus akan menghadiri peringatan ke-250 Deklarasi Kemerdekaan AS pada 4 Juli disambut dengan tanggapan yang khas dan tidak langsung dari Vatikan. Tahun 2026, saat warga AS di seluruh dunia merayakan hari kemerdekaan negaranya, Paus Leo akan berada di pulau Lampedusa di Laut Mediterania.

Lampedusa telah menjadi simbol pengungsian dan penderitaan para pengungsi setidaknya sejak musim panas 2013, ketika Paus Fransiskus mengunjungi pulau itu hanya beberapa bulan setelah terpilih dan menyesalkan ribuan orang yang meninggal setiap tahun saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania menuju Eropa.

Lampedusa juga memiliki makna simbolis bagi Paus Leo. Ia pun menekankan penderitaan jutaan orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia.

Agenda kunjungannya ke Spanyol memperjelas hal itu. Dua hari terakhir kunjungan akan membawanya ke Gran Canaria dan Tenerife, pulau wisata yang kini menerima semakin banyak pengungsi dari Afrika yang datang dengan perahu. Pulau-pulau tersebut juga dimaksudkan untuk menjadi fokus perhatian Leo. Di tempat-tempat yang menjadi tujuan liburan banyak orang Eropa, paus akan mengingatkan masyarakat bahwa migrasi dan nasib para pengungsi tetap menjadi masalah penting.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Muhammad Hanafi