1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiUkraina

Perang Diplomasi Memanas Seputar Gandum Ukraina

7 Juni 2022

Sejumlah negara membidik cadangan gandum raksasa di Ukraina yang terjebak blokade laut Rusia. Diperkirakan sebanyak 20 juta ton bahan pangan menunggu untuk diekspor, antara lain ke kawasan rawan pangan di dunia.

Ekspor gandum Ukraina melalui Rumania
Ekspor gandum Ukraina melalui RumaniaFoto: Daniel Mihailescu/AFP/Getty Images

Blokade laut yang dijalankan Rusia terhadap kota Odessa di tepi Laut Hitam melumpuhkan pelabuhan ekspor terbesar Ukraina. Akibatnya, surplus panen gandum kini teronggok tanpa bisa diekspor.

Melalui berbagai kanal diplomasi, pemerintah di Kyiv sempat berniat mengirimkan sebagian cadangan gandumnya melalui jalan darat lewat pelabuhan di negara lain. Namun, beragam masalah logistik akibat ketimpangan infrastruktur mempersulit upaya tersebut.

Peta Laut Hitam

Selasa (7/6), Kementerian Pangan dan Pertanian mengatakan pihaknya saat ini hanya bisa mengekspor maksimal dua juta ton produk biji padi-padian per bulan. Jumlah tersebut dibagi menjadi 700 ribu ton untuk diangkut lewat kereta api, 800 ribu ton lewat Sungai Donau (Danube) dan sisanya dengan menggunakan truk.

Sejak Juli 2021 silam, Kyiv mengaku sudah mengekspor 18,5 juta ton gandum dan 22,4 juta ton jagung. Padahal sebelum invasi Rusia, Ukraina setiap bulan mengekspor hingga enam juta ton gandum, jagung atau sereal ke luar negeri. Angka tersebut anjlok menjadi sekitar satu juta ton sejak beberapa bulan terakhir.

Percaturan diplomasi demi ketahanan pangan

Surutnya ekspor pangan dari Ukraina ikut memperparah situasi kelangkaan pangan di berbagai wilayah di dunia. Terutama di Afrika Timur yang dilanda kemarau ekstrem sejak beberapa tahun terakhir, gangguan pada suplai gandum menemepatkan penduduk di jurang bencana.

Kebuntuan di Laut Hitam ingin direlai oleh Turki lewat inisiatif diplomasi. Ankara sedang berkoordinasi secara dekat dengan Ukraina dan Rusia untuk membuka kembali pelabuhan Odessa, kata Menteri Pertahanan Hulusu Akar.

Ketiga negara akan berembuk dengan PBB mengenai rencana koridor pangan di Laut Hitam. Akar mengatakan, pihaknya antara lain merundingkan siapa yang nantinya akan membersihkan ranjau di sepanjang lepas pantai Ukraina, dan siapa yang menjamin keamanan di koridor.

"Kami berupaya keras memecahkan masalah ini secepat mungkin,” katanya di hadapan media, Senin (6/6). Menurutnya, keempat pihak kini fokus pada pembahasan teknis. "Sejauh ini kami sudah membuat banyak kemajuan,” imbuhnya.

Putaran diplomasi di Ankara dilatari tuduhan Amerika Serikat bahwa "Rusia mencuri cadangan gandum Ukraina untuk dijual kembali demi keuntungan sendiri,” kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken, Senin (6/6). 

"Sekarang, Rusia juga menimbun bahan pangan untuk diekspor juga,” imbuhnya, sembari mengklaim punya "laporan yang kredibel” sebagai bukti. Menurut Blinken, blokade ekspor oleh Rusia "berdampak besar terhadap ketahanan pangan global karena Ukraina merupakan salah satu lumbung pangan dunia.”

rzn/hp (ap,rtr)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait