1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Perang Meluas, Trump Masih Berupaya Keluar dari Konflik Iran

23 September 2026

Hampir tujuh bulan sejak perang Iran, konflik meluas dari Hormuz ke Laut Merah. Trump berada di bawah tekanan untuk menunjukkan hasil nyata sambil mencari jalan keluar diplomatik dengan Iran dan negara-negara Teluk.

Presiden ASW Donald Trump berjalan memegang payung.
Foto: Matt Kaminsky/ZUMA/picture alliance

Hampir tujuh bulan sejak perang Iran berlangsung, negosiasi antara Washington dan Teheran belum membuahkan hasil, dan konflik telah meluas dari Selat Hormuz ke jalur pelayaran strategis lainnya.

Pada September 2026, milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman merebut posisi-posisi penting di sepanjang pesisir Yaman dan mengancam jalur perdagangan Laut Merah, sekaligus melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di Arab Saudi. Hal ini memperparah krisis energi global yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz.

Pada awal September itu juga, pejabat Arab Saudi menuduh milisi yang didukung Iran di Irak telah meledakkan jaringan pipa minyak penting East-West Pipeline.

Menurut The New York Times, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (20/09) untuk sekali lagi mendesaknya agar turun tangan menghentikan laju cepat pasukan Houthi.

Trump dilaporkan pernah mempertimbangkan serangan udara terhadap Houthi, tapi kemudian membatalkan rencana tersebut. Akhir pekan ini, Fox News melaporkan bahwa Trump menyebut pemberontak Houthi telah sepakat untuk tidak menargetkan serangan kepada AS. Media AS Axios juga melaporkan bahwa Trump menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap Houthi pada pekan sebelumnya.

Trump coba cari jalan keluar

Di tengah harga bensin dan solar yang mencetak rekor tertinggi dan menekan para pemilih menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026, Trump berada di bawah tekanan untuk menunjukkan hasil nyata dalam Perang Iran.

"Presiden Trump ingin mengakhiri perang Iran dari posisi yang memungkinkannya mengeklaim bahwa kemampuan nuklir dan militer Iran telah melemah secara signifikan, kebebasan navigasi telah dipulihkan, dan Teheran telah dipaksa kembali ke meja perundingan," kata pakar Iran Fatemeh Aman kepada DW.

Fatemah Aman, yang pernah bekerja dengan berbagai organisasi termasuk Middle East Institute, Atlantic Council, RFE/RL, dan Voice of America, menambahkan bahwa strategi yang koheren untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut masih sulit untuk dipahami dengan jelas.

AS telah menimpakan biaya militer dan ekonomi yang besar kepada Iran dan tampaknya telah membuat kemajuan dalam melemahkan kemampuan militer negara tersebut. Namun, Teheran belum menyerah dan belum ada kesepakatan gencatan senjata yang bertahan.

Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping di Washington pekan ini. Cina adalah pembeli minyak Iran terbesar dan mitra politik penting bagi Teheran. Presiden AS kemungkinan akan mengangkat soal hubungan ekonomi dan keuangan Cina dengan Iran, serta berharap Beijing akan menggunakan pengaruhnya atas Teheran, terutama menyangkut keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, Trump memberi sinyal bahwa ia terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan datang ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Perwakilan senior dari negara-negara Teluk juga diperkirakan akan tiba di AS dalam beberapa hari ke depan.

Menurut Axios, Trump berencana membahas perang Iran dengan perwakilan sejumlah negara Teluk di sela-sela Sidang Umum PBB.

Negara Teluk bidik stabilitas kawasan

Hingga kini belum muncul posisi bersama antara Iran dan negara-negara Arab di Teluk. Sebuah pertemuan yang direncanakan melibatkan Iran, negara-negara Teluk, dan Irak dibatalkan pekan lalu. Pembatalan tersebut diduga terkait dengan serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

"Pada pandangan pertama, tampak sedikit sekali kesamaan antara Iran dan negara-negara Teluk," kata Farzan Sabet, pakar Timur Tengah dari Geneva Graduate Institute, kepada DW. "Namun di balik layar, setidaknya ada kepentingan bersama untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut."

Negara-negara Teluk menyadari bahwa mereka kecil kemungkinannya untuk menang dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran dan pada umumnya lebih memilih de-eskalasi serta pelonggaran ketegangan secara pragmatis dengan Teheran.

Namun, kesepakatan saat ini belum terlihat. Tuntutan Iran untuk kontrol lebih besar atas Selat Hormuz, khususnya, dinilai terlalu jauh dari sudut pandang negara-negara Teluk.

Perang di Yaman semakin mempersempit ruang untuk menormalisasi hubungan. Arab Saudi, misalnya, kecil kemungkinannya akan membuat konsesi selama masih berada di bawah tekanan dari Houthi yang berafiliasi dengan Iran.

Para Senator AS Pertanyakan Strategi Hegseth dalam Perang Iran-AS

01:36

This browser does not support the video element.

Strategi dua jalur Iran

Menurut Fatemah Aman, koalisi negara-negara Teluk yang didukung AS dan bersikap permanen bermusuhan akan menjadi beban strategis yang besar bagi Teheran.

Ia menambahkan bahwa Iran dapat menempuh strategi dua jalur, yakni melawan upaya AS membangun sistem pengepungan regional, sekaligus menawarkan negara-negara Teluk model keamanan kawasan alternatif yang berbasis akomodasi dan dialog.

"Bagaimanapun, negara-negara Teluk bukan hanya rival Iran, tetapi juga tetangganya dan tidak ada pihak yang bisa mengubah kenyataan geografis itu," kata Aman.

Menurut pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei, Teheran menuntut AS mengakhiri pertempuran di semua lini.

Teheran juga menuntut pembebasan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan serta pencabutan blokade angkatan laut di selat tersebut. Pembicaraan dengan Qatar dan Oman dilaporkan masih terus berlangsung. Rezim Iran kini menunggu respons dari Trump. Belum ada kejelasan terkait sinyal-sinyal diplomatik ini dapat berkembang menjadi proses politik yang lebih luas.

Untuk saat ini, hambatan utama adalah Washington, Teheran, dan negara-negara Teluk yang terus mengejar agenda yang sangat berbeda untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Muhammad Hanafi

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait