Berhemat: Perang Iran Menekan Investasi Teluk
18 Maret 2026
Jumlah investasi yang dilakukan negara-negara Teluk kaya minyak di berbagai negara sangatlah besar. Dana Kekayaan Negara (sovereign wealth funds) milik negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan negara Teluk lainnya mengelola sekitar $5 triliun dalam bentuk investasi.
"Pengaruh global negara-negara Teluk pada ekonomi dunia tidak hanya terbatas pada sektor minyak," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, kepada wartawan selama panel daring yang diselenggarakan oleh Middle East Council on Global Affairs pada Selasa (17/03) pagi. "Wilayah ini merupakan pusat ekonomi internasional, dan jika mereka memutuskan untuk fokus pada pertahanan, mulai menarik investasi, serta menghentikan keterlibatan ekonomi dengan komunitas internasional, dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia.”
Dalam beberapa tahun terakhir, uang negara-negara Teluk telah dibelanjakan di berbagai tempat. Salah satu contohnya baru-baru ini adalah dana kekayaan negara Teluk yang mendukung upaya perusahaan hiburan Amerika Paramount untuk mengambil alih pesaingnya, Warner Brothers.
Tahun lalu, setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah, ia kembali dengan janji investasi multitriliun dolar dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Selama dekade terakhir, negara-negara Teluk juga telah menghabiskan sekitar $100 miliar di Afrika untuk proyek keamanan pangan, memperoleh mineral penting, serta proyek transisi energi.
Mereka juga mengalokasikan miliaran dolar untuk apa yang disebut para ahli sebagai "diplomasi bailout” di kawasan mereka sendiri.
Diplomasi ini didefinisikan sebagai "praktik menyalurkan paket besar bantuan finansial atau bantuan nyata untuk menyelamatkan negara-negara yang menghadapi krisis keuangan atau ekonomi,” tulis para ahli dalam makalah penelitian 2023. Bantuan ini termasuk stabilisasi ekonomi Mesir, serta pembiayaan rekonstruksi dan bantuan di Suriah, Lebanon, dan Gaza.
Ekspor terhenti dan ketidakstabilan
Namun, karena perang di Iran, kebijakan investasi itu bisa segera berubah.
Perang yang dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari ini membuat sebagian besar negara Teluk mengurangi produksi dan pengiriman minyak dan gas, yang sebagian besar menjadi sumber pendapatan nasional mereka.
Iran menuduh negara-negara Teluk ikut berperan dalam perang AS-Israel dan menargetkan infrastruktur minyak serta bandara, selain pangkalan militer AS, di banyak negara Teluk.Iran juga memblokir jalur pengiriman hidrokarbon penting, Selat Hormuz.
Akibatnya, firma penasihat keuangan Oxford Economics menyimpulkan dalam briefing pertengahan Maret bahwa pendapatan nasional negara-negara Teluk hanya akan tumbuh 2,6% tahun ini, 1,8% lebih rendah dari prediksi awal.
Beberapa negara akan terdampak lebih parah daripada yang lain, kata para peneliti. Oman dan Arab Saudi masih memiliki jalur alternatif untuk mengekspor minyak dan mungkin bahkan diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Tetapi Bahrain, Kuwait, dan Qatar tidak memiliki alternatif tersebut.
Dampak perang pada ekonomi Teluk
Negara-negara Teluk telah mencoba mendiversifikasi ekonomi mereka dari ketergantungan minyak, dan perang di Iran telah menunda rencana tersebut. Sektor pariwisata, properti, dan digital terdampak, sementara bursa saham lokal anjlok.
Seperti ditulis Frederic Schneider, peneliti senior di Middle East Council, "video ledakan di Dubai, Doha, dan Manama… telah menembus citra keamanan yang hati-hati dibangun oleh negara-negara Teluk.”
Para ahli pariwisata memperkirakan penutupan ruang udara, terutama selama Ramadan, bisa menyebabkan kehilangan pengeluaran wisatawan hingga $56 miliar.
Apa yang akan terjadi pada investasi Teluk selanjutnya?
"Masih terlalu dini untuk memastikan bagaimana ekonomi Teluk akan terpengaruh oleh konflik,” kata Tim Callen, visiting fellow di Arab Gulf States Institute (AGSI) di Washington dan pakar ekonomi negara Teluk. "Dalam jangka pendek dampaknya pasti negatif, tapi dampak jangka panjang tergantung lama konflik dan kondisi wilayah saat konflik berakhir.”
Sebagian besar dana kekayaan negara Teluk dalam kondisi sehat, lanjutnya, "Jadi saya rasa perang tidak akan berdampak besar pada strategi investasi luar negeri saat ini. Tapi hal ini bisa berubah jika konflik berlanjut dan dampaknya ke ekonomi domestik lebih besar.”
Negara-negara Teluk yang menjadi target Iran kemungkinan akan mengubah prioritas pengeluaran setelah perang, demikian ungkap pengamat.
Dalam rapat mingguan, konsultan keuangan Lebanon Nasser Saidi and Associates menyebutkan fokus investasi baru bisa termasuk:
- Infrastruktur ketahanan seperti cadangan pangan strategis atau jalur ekspor alternatif
- Peningkatan pengeluaran pemerintah untuk rekonstruksi, pertahanan, dan keamanan
"Pasti akan ada efeknya,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar al-Ansari. "Karena kesulitan ekonomi akibat perang,[penurunan kepercayaan terhadap stabilitas] Teluk. Kami akan sibuk membangun kembali, meningkatkan pertahanan, dan menangani krisis regional yang mendesak.”
Dana Kekayaan Negara mungkin juga diminta mendukung ekonomi domestik, ujar Rachel Ziemba, non-resident fellow di Gulf International Forum, yang menjalankan perusahaan penasihat risiko geopolitik, memberi saran di laman Substack-nya. Misalnya, membantu agar hotel-hotel yang kosong tetap beroperasi.
Meninjau janji investasi kepada Trump
Minggu ini, surat kabar Inggris Financial Times mengutip sumber anonim yang mengatakan tiga negara Teluk besar sedang meninjau investasi yang direncanakan di AS karena tekanan keuangan akibat perang. Tahun lalu, setelah kunjungan Trump, UAE setuju menginvestasikan $1,4 triliun
Qatar mengatakan akan membelanjakan $1,2 triliun. Arab Saudi menyetujui kesepakatan senilai $600 miliar, termasuk paket senjata $142 miliar, yang disebut terbesar dalam sejarah.
Namun, Callen dari AGSI tidak percaya tinjauan ini akan signifikan. Peningkatan belanja pertahanan, yang kemungkinan ingin dilakukan Arab Saudi, justru, "Sesuai dengan komitmen Saudi untuk lebih banyak berinvestasi di AS.”
Ziemba juga mencatat bahwa sebagian janji investasi kepada pemerintahan Trump "lebih sebagai sinyal niat” daripada komitmen pasti.
Dampak jangka pendek dan panjang
Dampak jangka pendek cukup jelas, ucap Callen, di mana pertumbuhan ekonomi kemungkinan lebih rendah dari perkiraan di jangka menengah karena wilayah dianggap lebih berisiko. Dampak jangka panjang masih tidak pasti.
"Investasi di seluruh bidang pasti akan terdampak,” tandas Callen. "Pertanyaannya seberapa besar dan dalam jangka waktu berapa lama. Semua tergantung bagaimana perang berakhir. Jika risiko konflik dan gangguan di masa depan tetap ada, maka dampaknya bisa permanen.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid