Jutaan pekerja Asia Selatan di Timur Tengah mengirim miliaran dolar ke negara asal. Ekonom memperingatkan, jika konflik Iran berkepanjangan dan ekonomi Teluk terpukul, aliran remitansi vital itu bisa terancam.
Jutaan pekerja migran Asia Selatan di seluruh kawasan Teluk mengirimkan ratusan miliar dolar remitansi ke negara asal mereka setiap tahunFoto: Ashley Cooper/IMAGO
Iklan
Saat negara-negara Arab kaya di Teluk Persia menjadi sasaran drone dan rudal Iran, gangguan ekonomi berkepanjangan akibat perang Iran berpotensi mengancam ratusan miliar dolar remitansi yang setiap tahun dikirim pulang oleh jutaan pekerja migran Asia Selatan di kawasan tersebut.
Sebagian besar dari mereka berasal dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Selama puluhan tahun mereka turut mendorong ledakan ekonomi negara-negara Teluk, dengan bekerja di sektor konstruksi, perhotelan, pariwisata, dan layanan kesehatan.
Uang yang mereka kirimkan ke tanah air tidak hanya menjadi sumber penghasilan penting bagi keluarga mereka, tetapi juga menjadi salah satu sumber utama pemasukan devisa bagi India, Pakistan, dan Bangladesh. Remitansi ini berfungsi sebagai bantalan finansial bagi perekonomian negara-negara tersebut serta membantu menutup defisit perdagangan.
Dengan infrastruktur energi yang menjadi sasaran serangan serta jalur transit minyak dan gas yang terhambat di Selat Hormuz, kombinasi harga energi yang tinggi dalam waktu lama dan penurunan remitansi dapat menjadi ancaman ganda bagi ekonomi negara-negara berkembang tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik Iran karena jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak duniaFoto: Jarreteran/Pond5 Images/IMAGO
Remitansi menjadi urat nadi ekonomi negara Asia Selatan seperti India
India merupakan penerima remitansi terbesar di dunia, dengan aliran dana mencapai rekor 135 miliar dolar AS (sekitar Rp2,1 kuadriliun) pada 2025, menurut data pemerintah.
Iklan
Pada tahun sebelumnya, India menerima hampir 40 miliar dolar remitansi dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) saja, atau sekitar 38% dari total arus masuk remitansi. Dana miliaran dolar itu membantu membiayai sebagian besar defisit perdagangan barang India, menurut data tersebut.
India juga menjadi sumber pekerja asing terbesar di kawasan Teluk, dengan lebih dari 9 juta warga India tinggal dan bekerja di sana.
Bangladesh dan Pakistan menyusul, masing-masing mengirim sekitar 5 juta pekerja ke negara-negara GCC. Para pekerja ini menyumbang sebagian besar dari 30 miliar dolar remitansi Bangladesh dan 38 miliar dolar remitansi Pakistan tahun lalu.
Para Imigran Yang Mengubah Wajah Dunia
Mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman. Namun di tanah air baru mereka, para imigran ini mengubah wajah dunia - sebagai saintis, politisi, seniman, pengusaha atau olahragawan.
Foto: Imago/United Archives International
Albert Einstein
Tanpa dia dan teori relativitas, pandangan manusia kini tentang alam semesta akan berbeda. Saat Nazi berkuasa di Jerman, Albert Einstein yang berdarah Yahudi dan tengah berada di Amerika Serikat tak bisa kembali ke Jerman, karena nyawanya bisa terancam. Ia mengembalikan paspornya dan beremigrasi ke Amerika Serikat.
Foto: Imago/United Archives International
Marlene Dietrich
Penyanyi dan aktris Jerman Marlene Dietrich sudah terkenal di Amerika Serikat ketika ia meninggalkan Jerman pada tahun 1938. Dia tinggal di Amerika Serikat dan di Perancis. Dari kedua negara itu, ia membantu para pengungsi dan tentara sekutu. Setelah akhir Perang Dunia II di Jerman, ia dituduh telah berkhianat pada negaranya sendiri.
Foto: picture-alliance/dpa
Henry Kissinger
Dia adalah seorang profesor di Harvard University, pernah menjadi menteril luar negeri Amerika Serikat, dan pakar hubungan internasional. Pada tahun 1938, Henry Kissinger meninggalkan Bayern, Jerman, dan melarikan diri dari ancaman maut Nazi. Meskipun saat Perang Dunia II dia menjadi tentara Amerika yang memerangi bangsanya sendiri, dia mengatakan sebagian dari dirinya selalu tetap Jerman.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Schiefelbein
Madeleine Albright
Dari Cekoslovakia, dua kali Madeleine Albright dan keluarganya melarikan diri: pertama, setelah invasi Nazi pada tahun 1939, mereka mengungsi dari Praha ke London. Sempat kembali ke Praha, pada tahun 1948 mereka hijrah ke AS setelah rezim komunis di tanah air mereka mengambil alih kekuasaan. Pada tahun 1997, perempuan berdarah Yahudi ini menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat.
Foto: Getty Images/AFP/S. Loeb
M.I.A.
Namanya Mathangi "Maya" Arulpragasam, tapi para penggemar mengenalnya sebagai MIA. Di usia kanak-kanak, dari Sri Lanka, ia melarikan diri ke India menuju ke Inggris. Dalam sebuah wawancara, ia berkata: "Pada awalnya, saya memberitahu semua orang bahwa saya berasal dari Trinidad, jadi saya tidak perlu berbicara tentang Sri Lanka dan perang. Saya tidak mengatakan bahwa saya seorang pengungsi. "
Foto: Getty Images/C. Polk
Miriam Makeba
Miriam Makeba - yang dikenal sebagai Mama Afrika berasal dari Afrika Selatan. Ia berada di sebuah acara di AS ketika pejabat negara Afsel tak mengizinkannya pulang. Lagu mereka "Pata Pata" menjadi hit di seluruh dunia pada tahun 1967. Setelah tinggal di Guinea dan Belgia, atas permintaan Nelson Mandela, pada tahun 1990, pejuang hak-hak sipil ini kembali ke Afrika Selatan.
Foto: Getty Images
Freddie Mercury
Orang tua bintang rock dengan suara khas ini melarikan diri dari gejolak revolusioner di Zanzibar ke London - bersama dengan Freddie kecil. Sisanya adalah sejarah: Mercury naik dan band-nya menjadi ikon rock. Kematiannya akibat HIV/AIDS mendorong kampanye mengatasi isu HIV.
Foto: Getty Images/Hulton Archive
Thomas Mann
Dia dianggap sebagai salah satu penulis paling penting dari abad ke-20. Nazi menyebut peraih penghargaan Nobel ini sebagai "gelombang besar kebiadaban eksentrik". Ia manjadi eksil di Swiss pada tahun 1933 dan pada tahun 1939 ke Amerika Serikat. Pada tahun 1938 ia menciptakan slogan: "Di mana saya berada, itulah Jerman. Saya membawa budaya Jerman dalam diri saya."
Foto: picture-alliance/dpa
Isabel Allende
Setelah kudeta militer berdarah di Chili pada tahun 1973, keluarga Isabel Allende melarikan diri ke Venezuela. 13 tahun kemudian dia pindah ke Amerika Serikat. Pengalaman pribadinya mengalir dalam novel "The House of Spirits". Karena pernah punya pengalaman serupa, tahun 2015 dia menyerukan agar Eropa menyambut para pengungsi.
Foto: Koen van Weel/AFP/Getty Images
Sitting Bull
Kepala suku Sioux , Tatanka Iyotake - lebih dikenal sebagai Sitting Bull - habiskan waktu selama beberapa tahun di pengasingan. 1877 - setahun setelah pertempuran Little Bighorn - ia melarikan diri bersama dengan 2.000 pengikutmya ke Kanada. Tahun 1881 ia kembali ke Amerika dan menyerahkan diri kepada pihak berwenang. Dia ditangkap dan tinggal di reservat Indian. Ia kemudian tewas terbunuh.
Foto: Imago/StockTrek Images
Neven Subotic
Seperti rekannya Vedad Ibisevic (Hertha Berlin), saat masih kecil, Subotic melarikan diri dari kampung halamannya, di Bosnia-Herzegovina. Pada tahun 2012 ia mendirikan sebuah yayasan yang menyediakan akses air minum bagi ana-anak di negara berkembang. Subotic pernah bermain untuk Borussia Dortmund dan pindah ke FC Köln. Ed: Dagmar Breitenbach, Martin Muno (ap/as)
Foto: imago/Thomas Bielefeld
11 foto1 | 11
Ancaman bagi pekerja migran di negara-negara Teluk
Perang tersebut juga meningkatkan risiko bagi warga sipil di seluruh kawasan GCC, termasuk pekerja migran.
Di seluruh wilayah itu, setidaknya 11 warga sipil tewas dan lebih dari 260 orang terluka, sebagian akibat puing-puing yang jatuh, menurut siaran pers Human Rights Watch (HRW) pada 17 Maret.
“Warga sipil, terutama pekerja migran di negara-negara Teluk, terancam, terbunuh, dan terluka akibat drone dan rudal Iran,” kata Joey Shea, peneliti senior HRW untuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Setidaknya tiga pekerja Pakistan tewas di Uni Emirat Arab, termasuk seorang pria yang terkena puing-puing dari serangan drone.
Meski menghadapi bahaya, sebagian besar ekspatriat Asia Selatan di Teluk tampaknya tetap bertahan, tanpa laporan adanya eksodus massal.
“Kelangsungan ekonomi lebih penting daripada risiko yang dirasakan bagi sebagian besar pekerja,” kata Harsh Pant, kepala program studi strategis di Observer Research Foundation (ORF), lembaga pemikir di New Delhi, kepada DW.
Menurutnya, sebagian besar pekerja India di Teluk menilai situasi saat ini sebagai “sementara dan masih dapat dikelola kecuali terjadi eskalasi dramatis.”
Namun, bahkan jika para pekerja tetap tinggal, risiko jangka panjangnya adalah pekerjaan mereka mungkin tidak bertahan, terutama jika perang berlangsung selama berbulan-bulan. Guncangan paling cepat sejauh ini dirasakan di sektor yang banyak mempekerjakan migran seperti penerbangan dan pariwisata.
Meski demikian, selain beberapa gangguan dalam sistem pembayaran akibat lonjakan transfer karena kepanikan, perang sejauh ini belum berdampak pada arus remitansi.
Belum ada guncangan remitansi
“Durasi konflik sejauh ini terlalu singkat untuk secara serius memengaruhi lapangan kerja pekerja migran atau transfer remitansi mereka,” kata Rajiv Biswas, CEO perusahaan riset risiko makroekonomi dan geopolitik Asia-Pacific Economics yang berbasis di Singapura, kepada DW. Ia menilai kemungkinan perang berkepanjangan masih rendah.
“Namun, jika konflik ini menjadi lebih panjang dan berlangsung berbulan-bulan, maka semakin besar kemungkinan pekerjaan pekerja migran akan terdampak, karena sektor-sektor utama seperti pariwisata dan penerbangan komersial akan mengalami kerugian ekonomi yang semakin besar,” ujarnya.
Analis ORF, Pant, mengatakan bahwa bagi India, beberapa perkiraan menunjukkan penurunan remitansi dari Teluk sebesar 10% hingga 20% dapat berarti kehilangan 5 hingga 10 miliar dolar per tahun.
Jika perang hanya berlangsung beberapa minggu, ekonomi negara-negara Teluk diperkirakan mengalami penurunan PDB sekitar 1% hingga 2%, yang berarti remitansi turun sekitar 5%, menurut perkiraan Capital Economics, lembaga analisis berbasis di London.
Namun, jika konflik berlangsung tiga bulan atau lebih dan merusak infrastruktur energi kawasan secara signifikan, laporan tersebut memperingatkan bahwa PDB negara-negara Teluk bisa turun 10% hingga 15% dan remitansi sekitar 30%.
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Konflik Iran berkepanjangan menimbulkan tantangan
Biswas memiliki pandangan serupa.
“Dalam skenario perang berkepanjangan, yang masih memiliki probabilitas rendah, remitansi pekerja migran dapat mulai menurun jika konflik berlangsung selama berbulan-bulan,” katanya. “Seberapa cepat arus remitansi pulih akan bergantung pada seberapa cepat sektor utama ekonomi GCC seperti pariwisata internasional dan penerbangan komersial dapat bangkit kembali.”
Meski konflik berkepanjangan dapat menimbulkan tantangan besar, Biswas menekankan bahwa penurunan remitansi dalam jangka pendek kemungkinan tidak akan berdampak signifikan secara makroekonomi terhadap permintaan domestik maupun posisi neraca eksternal India, Pakistan, atau Bangladesh.
Untuk saat ini, ancaman ekonomi utama dari perang Iran bagi negara-negara tersebut justru berasal dari gangguan pengiriman minyak, LNG, dan pupuk melalui Selat Hormuz. Namun, jika penurunan remitansi berlangsung lama, tekanan ekonomi di Asia Selatan bisa semakin dalam.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris