1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikPalestina

Perang Israel-Hamas: Mesir Buka Rafah untuk Kirim Bantuan

19 Oktober 2023

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi setuju membuka penyeberangan Rafah untuk sekitar 20 truk yang membawa bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Palestina. Namun jika bantuan dirampas Hamas, izin akan dibekukan lagi.

Pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza lewat penyeberangan Rafah
Pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza lewat penyeberangan RafahFoto: REUTERS

Bantuan kemanusiaan terbatas diharapkan bisa mulai disalurkan ke Jalur Gaza Jumat (20/10), demikian kata pejabat di Gedung Putih.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden setelah kunjungan singkat ke Israel Rabu (18/10) mengatakan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi telah setuju untuk membuka penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir dengan Gaza, untuk mengizinkan sekitar 20 truk yang membawa bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Palestina tersebut.

Biden juga menegaskan, jika bantuan humaniter tersebut dirampas oleh Hamas, aksi bantuan ini akan segera dihentikan.

"Presiden Al-Sissi layak mendapat pujian karena dia bersikap akomodatif," kata Biden setelah berbicara dengan Presiden Mesir tersebut saat berada di pesawat "Air Force One” dalam perjalanannya kembali ke AS setelah melakukan kunjungan singkat ke Israel.

Kantor PM Israel Benjamin Netanyahu's menyatakan, Israel tidak akan menghalangi pemasokan bantuan, selama itu terbatas untuk warga sipil di selatan Jalur Gaza, dan juga tidak mendarat di tangan Hamas. Kantor PM Israel juga menambahkan, tindakan ini disepakati setelah menerima permintaan dari Biden.

Israel telah memutus pasokan air, obat-obatan, dan makanan ke wilayah Gaza, setelah Hamas melakukan serangan teror mematikan ke Israel pada 7 Oktober lalu.

Sedikitnya 200 truk berisi 3.000 ton bantuan kemanusiaan itu telah menunggu selama berhari-hari di penyeberangan Rafah, yang juga merupakan satu-satunya penghubung Gaza dengan Mesir. Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry mengatakan, bantuan tersebut akan dikirimkan di bawah pengawasan PBB.

Jalanan Ramallah dipadati oleh para pengunjuk rasa yang sebagian besar damai pada hari Rabu (18/10)Foto: Issam Rimawi/Anadolu/picture alliance

Biden imbau Israel tidak lupakan kemarahan

Presiden AS Joe Biden juga mengimbau Israel untuk tidak meluapkan 'kemarahan' setelah insiden penyerangan Hamas, dalam kunjungannya ke Tel Aviv .

Biden menjelaskan panjang lebar tentang hak Israel dalam mempertahankan diri dan juga dengan hati-hati berpihak pada versi Israel mengenai peristiwa ledakan di rumah sakit di Gaza pada Selasa (17/10) malam, serta menjanjikan bala bantuan baru dalam jumlah besar.

"Anda adalah negara Yahudi, tetapi Anda juga sebuah negara demokrasi," kata Biden setelah berbicara dengan para pemimpin Israel. "Seperti Amerika Serikat, Anda tidak hidup di bawah aturan teroris. Anda hidup di bawah aturan hukum... Anda tidak bisa mengabaikan jati diti Anda sendiri."

Biden juga mengatakan bahwa sebagian besar warga Palestina tidak berafiliasi dengan organisasi Hamas. "Rakyat Palestina juga sangat menderita," tambahnya.

 

Protes global, imbas ledakan mematikan di rumah sakit Gaza

Protes besar-besaran pecah di beberapa negara Arab dan negara dengan mayoritas penduduk muslim pada hari Rabu (18/10), sebagai tanggapan atas ledakan mematikan di rumah sakit di Kota Gaza, di mana Israel dan Hamas saling mengklaim tidak bertanggung jawab terhadap serangan itu.

Sementara di Tepi Barat, saat Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan hari berkabung bagi rakyat Palestina, massa di Ramallah dan Nablus justru turun ke jalanan untuk berunjuk rasa.

Di Mesir, yang tengah dikunjungi oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz pada hari Rabu (18/10), terlihat kerumunan massa berkumpul di Giza dan di kota-kota lainnya.

Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi biasanya melarang protes, justru secara aktif menyerukan aksi protesFoto: dpa/picture alliance

Presiden Abdel-Fattah el-Sissi, yang biasanya melarang protes untuk publik, justru mengatakan dalam konferensi persnya dengan Scholz bahwa dia akan meminta banyak orang untuk turun ke jalan dan memperkirakan "jutaan" orang akan ikut berunjuk rasa.

Selain itu, warga Yordania, salah satu kekuatan regional yang memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel, juga terlihat berkumpul di luar kedutaan besar Israel untuk menyuarakan pendapat.

Orang-orang berkumpul di dekat kedutaan besar Prancis di Tunis sambil mengibarkan bendera Palestina raksasaFoto: Hasan Mrad/IMAGESLIVE/ZUMA Press/picture alliance

Di ibu kota Tunisia, Tunis, para pengunjuk rasa berkumpul di luar Kedutaan Besar Prancis, dan mengatakan mereka memilih tempat ini karena menganggap bahwa mantan penjajah Prancis telah "bias" terhadap Israel.

Para demonstran Lebanon termasuk di antara yang pertama kali melakukan mobilisasi dalam semalam, segera setelah ledakanFoto: Anwar Amro/AFP/Getty Images

Para pengunjuk rasa di Lebanon juga memilih Kedutaan Besar Prancis sebagai tempat untuk melakukan aksi protes, sesaat setelah berita ledakan di RS Gaza terjadi. Pada hari Rabu (18/10), para pengunjuk rasa di dekat kedutaan besar Amerika Serikat di Beirut dibubarkan dengan disemprot meriam air dan gas air mata.

Sementara itu, pejabat Hamas Osama Hamadan pada hari Rabu (18/10) juga mengimbau seruan protes global pada hari Jumat (20/10) dan Sabtu (21/10), dengan mengatakan bahwa umat muslim di seluruh dunia harus menunjukkan kekecewaan mereka, selepas salat Jumat.

Kecam DK PBB, Erdogan: Ledakan di rumah sakit itu 'genosida'

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik tajam atas kegagalan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait konflik antara Hamas-Israel, yang diveto oleh Amerika Serikat .

"Dewan Keamanan PBB, yang semakin tidak efektif, sekali lagi tidak memenuhi mandatnya," tulis Erdogan dalam sebuah unggahan panjang di media sosial X.

"Negara-negara Barat, yang tidak meninggalkan satu langkah pun dalam hal hak asasi manusia dan kebebasan, tidak mengambil langkah apapun selain menambahkan bahan bakar ke dalam api," tuduh Erdogan.

Presiden Turki itu juga mengatakan, organisasi media yang "bias dan bermuka dua" telah "berlomba-lomba untuk menutupi aksi pembantaian manusia" tersebut.

Erdogan pada hari Selasa (17/10), dengan tegas menyalahkan Israel atas insiden ledakan Rumah Sakit al-Ahli di Kota Gaza dan menuduh bahwa serangan ini "tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar."

Dalam cuitannya pada hari Rabu (18/10), Presiden Turki itu tidak menyebutkan siapa pelakunya. Namun, dia juga tidak mengatakan tentang sumber ledakan yang kini masih diperdebatkan. Dia justru menulis tentang insiden tersebut dengan menyebut apa yang diyakininya sebagai kekejaman Israel.

kp/ha/as (Reuters, AFP, AP)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait