Perang Picu Krisis Minyak, Energi Terbarukan Jadi Tameng
11 Maret 2026
Negara-negara yang lebih banyak menghasilkan listrik dari angin, matahari, dan sumber terbarukan lainnya terbukti lebih tahan terhadap guncangan energi global. Begitu penilaian para ahli di tengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah.
Perang terus meluas sejakAmerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran lebih dari 10 hari lalu. Infrastruktur energi di kawasan itu menjadi sasaran, dan ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan ini membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri, hingga transportasi. Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat.
"Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels. "Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil."
Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80% energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik, kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).
Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai "lebih tahan terhadap guncangan semacam ini".
Teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai memang memiliki rantai pasok global yang juga bisa terdampak ketegangan geopolitik. Namun, energi yang dihasilkannya biasanya berasal dari dalam negeri sendiri.
"Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah matahari, angin, panas bumi yang semuanya lokal," kata Adib kepada DW. "Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global."
Uruguay: Bukti nyata ketahanan energi
Kekhawatiran soal ketergantungan pada impor minyak dan gas pascakrisis keuangan 2008 mendorong Uruguay untuk serius beralih ke energi terbarukan. Dua dekade lalu, negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya dengan cara memperluas ladang angin secara agresif.
Hasilnya, lebih dari 90% listrik Uruguay kini berasal dari energi terbarukan, terutama angin, matahari, tenaga air, dan biofuel. Angka itu bahkan mencapai 98% di tahun-tahun dengan curah hujan dan kecepatan angin yang tinggi.
"Ini membuktikan bahwa jaringan listrik 100% terbarukan benar-benar bisa diwujudkan," kata Adib.
Ia menambahkan bahwa langkah ini terbukti melindungi Uruguay dari lonjakan harga energi di masa lalu. Saat krisis energi akibat perang Ukraina menghantam banyak negara, harga energi di Uruguay tetap stabil.
"Ini sangat penting karena artinya inflasi tidak memukul negara ini seperti yang terjadi pada negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil," kata Adib.
Investasi di sektor energi terbarukan juga menciptakan 50.000 lapangan kerja dan memungkinkan Uruguay menghemat biaya impor energi hingga 500 juta dolar (sekitar Rp8,4 triliun) per tahun. Meski begitu, Uruguay seperti kebanyakan negara lain masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan pemanas rumah.
Denmark: Dari krisis minyak jadi dominasi energi hijau
Denmark adalah contoh lain negara yang berhasil menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Krisis minyak tahun 1970-an memukul negara Skandinavia ini dengan keras dan mendorongnya untuk mulai mengembangkan energi terbarukan sejak dini.
Kini lebih dari 80% listrik Denmark dipasok dari energi hijau, dengan angin menyumbang hampir 60% dari total tersebut, diikuti biogas. Negara dengan 6 juta penduduk ini menargetkan sistem listrik yang sepenuhnya bebas bahan bakar fosil pada 2030.
Sistem pemanas terpusat di Denmark, yang sudah terhubung ke lebih dari 65% rumah tangga, juga sebagian besar sudah meninggalkan batu bara dan direncanakan sepenuhnya beralih ke biometana terbarukan pada 2030.
Froggatt menyebut dominasi energi terbarukan dalam jaringan listrik berkontribusi menekan harga. Ia mengutip studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% porsi energi terbarukan, rata-rata bisa menurunkan harga listrik grosir sebesar 0,6%.
Namun ia menekankan bahwa konsumen baru benar-benar terlindungi dari lonjakan harga minyak dan gas ketika transportasi dan pemanas rumah sudah sepenuhnya beralih ke listrik, misalnya melalui kendaraan listrik dan pompa panas.
"Kita akan butuh jauh lebih banyak listrik untuk menjalankan transisi energi ini, sehingga semakin penting untuk membangun lebih banyak energi terbarukan karena permintaan listrik diprediksi akan terus meningkat," katanya.
Transisi butuh investasi besar
Harga bahan bakar fosil yang tinggi dan kerentanannya terhadap gangguan pasokan diperkirakan akan membuat energi bersih semakin kompetitif dan menarik secara finansial, sekaligus mendorong pemerintah mencari solusi alternatif.
"Krisis saat ini sekali lagi menunjukkan bahwa kita perlu memasuki era berbasis energi terbarukan dan meninggalkan era bahan bakar fosil ... jika kita ingin masyarakat dan perekonomian yang lebih tangguh," kata Adib.
Meski sumber energi hijau kini jauh lebih murah dibanding bahan bakar fosil, percepatan transisi tetap membutuhkan investasi besar dan perubahan sistem menyeluruh. Bahan bakar fosil juga masih mendapat subsidi besar-besaran di berbagai negara.
Froggatt menegaskan bahwa peralihan ke energi terbarukan bukan sekadar soal perubahan iklim, melainkan juga soal ketahanan energi.
"Keduanya berjalan beriringan. Jadi kalau ada sisi positif dari apa yang kita saksikan sekarang, itu adalah isu energi dan cara kita mendapatkan energi kembali menjadi prioritas utama dalam agenda politik," katanya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh: Alfi Anadri
Editor: Prihardani Purba