1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikUkraina

Bagaimana Perang Rusia-Ukraina ‘Berevolusi’?

26 Februari 2026

Dari pertempuran tradisional di darat hingga bertahan di “zona pembunuhan” dengan pengawasan konstan pesawat nirawak, apa yang berubah dari perang Ukraina melawan Rusia berubah selama empat tahun terakhir?

Militer Ukraina di garda terdepan wilayah Donetsk
Prajurit khawatir jalannya perang pada akhirnya akan bergantung pada siapa yang pertama kali kehabisan pasukanFoto: Stringer/REUTERS

Para tentara menghabiskan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan bulan di killing zone (zona pembunuhan) sepanjang hingga 20 kilometer yang diawasi oleh drone (pesawat nirawak) milik musuh. Tidak ada cara untuk mencapai posisi tersebut dengan kendaraan atau untuk mengevakuasi korban yang terluka. Persediaan amunisi dan makanan pun terus terganggu.

Itulah keseharian di garis terdepan perang selama empat tahun invasi Rusia-Ukraina berlangsung. Kepada DW, personel militer Ukraina bercerita bagaimana upaya militer dalam perang berubah.

2022: Diwarnai kekacauan, perang darat, dan senjata dari Barat

Saat tentara mengenang awal invasi, mereka mengingat banyaknya relawan dan antrean yang mengular di kantor perekrutan. Hal ini sekarang nampak mustahil. "Saya tidak diizinkan bergabung dengan militer sampai September 2022,” kata Oleksandr Kashaba, yang saat itu berusia 22 tahun.

"Ada kekacauan di front terdepan,” kenang Stanislav Kotcherha, wakil komandan batalion drone. Pada awal 2022, ia baru menyelesaikan pelatihan sebagai prajurit pertahanan udara dan segera bergabung dengan infanteri. "Banyak unit, tapi tidak berkomunikasi satu sama lain.”

Kemudian, garis depan lama kelamaan mulai stabil. "Lalu perang darat dimulai dengan pasukan tempur, tank, persenjataan berat dengan pasukan pertahanan udara sebagai elemen utama. Seperti gambaran perang umum, seperti yang kita baca di buku,” kata Kotcherha.

Di tahun yang sama, Ukraina menerima peluncur roket dari barat termasuk HIMARS (sistem artileri roket jarak jauh dengan mobilitas tinggi). Peluncur roket ini jadi inovasi yang menentukan, menurut Vladyslav Urubkov dari yayasan Come Back Alive, yang memasok tentara Ukraina dengan kendaraan, peluncur granat, dan mengatur proyek pendidikan. "HIMARS sangat memengaruhi keberhasilan serangan balik di Kharkiv,” kata Urubkov yang setelah itu meninggalkan militer.

Inovasi yang mengubah perang Ukraina, HIMARSFoto: Armed Forces of Ukraine/Cover Images/IMAGO

2023: Pesawat nirawak dan serangan balik

Tahun berikutnya, militer Ukraina secara umum mulai menggunakan drone quadcopter Mavic buatan Cina, awalnya untuk pengintaian udara dan drone serangan yang menjatuhkan bahan peledak.

Kemudian, ada drone kamikaze (senjata nirawak yang turut hancur saat mengenai target), jenis senjata banyak digunakan kedua belah pihak sejak musim panas 2023.

"Saya beruntung sempat bertugas di infanteri sebelum drone mendominasi,” kata Kashaba, yang awalnya memimpin peleton pertahanan udara sebelum memimpin peleton senapan mesin. Karena dominasi drone hampir semua yang dilakukannya tentara berubah.

Sebelumnya, Kashaba dapat menyerang balik dari jarak 1,5 kilometer dari posisi Rusia dengan senapan mesin kaliber besar buatan AS. Ia juga menempuh jarak jauh di medan terbuka dan menangani logistik dengan kendaraan lapis baja, termasuk mengangkut amunisi, memutar personel, dan mengevakuasi orang.

Saat itu tentara yang terluka pun dapat diangkut sekitar 4 kilometer dengan kendaraan lapis baja ke titik evakuasi. Dari sana, tim evakuasi membawa mereka dengan kendaraan biasa ke titik stabilisasi di belakang garis. Kini dengan zona pembunuhan yang jauh lebih besar, hal ini tidak lagi mungkin dilakukan. "Dulu yang terluka tiba beberapa jam setelah terkena tembakan. Sekarang butuh beberapa hari,” jelas seorang paramedis dengan sebutan ‘Kazhan'.

2024: Transformasi garis depan

Februari 2024, tentara Rusia mulai maju cepat di wilayah Donetsk. Saat itu, kekurangan tentara di garis terdepan menjadi terlihat, kenang Kashaba, yang dipindahtugaskan ke markas karena cedera.

Sementara itu, pengembangan drone berlanjut. Militer Ukraina menjadi yang pertama menggunakan hexacopter (pesawat nirawak dengan enam buah motor dan baling-baling) untuk menyerang target, menempatkan ranjau, dan keperluan logistik. Peralatan perang elektronik lainnya juga dikembangkan.

Menurut Urubkov, drone kamikaze juga telah mengubah perang. "Perubahan besar terjadi akhir 2023 dan awal 2024, ketika pengiriman peluru artileri barat tertunda,” katanya. Dalam pertempuran di Avdiivka saat itu, Ukraina menggunakan drone FPV melawan Rusia.

Bagi Kotcherha, munculnya drone FPV (pesawat nirawak) yang menampilkan pemandangan langsung sebagai pilot pesawat) lebih karena efisien dan berbiaya rendah, opsi yang tepat saat kekurangan amunisi. Kedua pihak lantas kian gencar berbalas serangan menggunakan drone.

"Unit di garis depan harus beradaptasi, menyamarkan, dan melindungi posisinya dari ancaman drone dan senjata presisi lawan, sehingga peralatan besar seperti tank pun yang sebelumnya diletakkan 3 km dari garis depan, sejak 2024 menjadi 10-15 km dari jangkauan garis terdepan,” jelasnya.

Akibatnya, pasukan tempur harus bersembunyi di bawah tanah dan kurang mampu memantau garis depan, sehingga "musuh menyusup dalam kelompok-kelompok kecil,” kata Kotcherha.

2025: Operasi Kursk dan robot darat

Musim panas 2024 ditandai dengan dimulainya serangan ofensif Kursk. Militer Ukraina maju cepat ke wilayah Rusia tetapi tidak bisa mempertahankan posisinya.

Pada musim semi 2025, operasi ofensif Ukraina tidak berhasil. Salah satu alasannya adalah serangan balik Rusia menggunakan drone serat optik yang tahan dari gangguan elektronik.

"Pada titik tertentu, Rusia mulai menyerang setiap kendaraan menuju Kursk dengan drone ini,” kata paramedis, Kazhan. "Kami mengemudi malam hari, sangat menakutkan karena tidak ada cara untuk melawan drone itu.”Pada saat sama, jumlah yang terluka menurun. "Di Avdiivka 2024, ada hari dengan hingga 200 yang terluka. Lalu turun signifikan. Masalah utama adalah zona pembunuhan kian lebar, 20–25 km di beberapa tempat. Teknologi membuat orang bisa dibunuh lebih presisi, sulit mengevakuasi mereka yang terluka parah,” jelasnya.

Dokter militer kini membantu pasien yang terluka melalui video dan mengirim obat dengan drone. Robot darat juga digunakan untuk mengevakuasi yang terluka, mengantar persediaan. Robot-robot itu dilengkapi senapan mesin.

Salah satu perkembangan 2025 adalah upaya "menghancurkan mata” lawan dengan menembak jatuh drone pengintai. Ukraina menanggapi dengan mengembangkan drone interseptor (pesawat nir awal pencegat lawan). Awalnya hal ini dilakukan sukarelawan namun kini infrastruktur semakin lengkap.

2026: Belum dapat dipastikan

Menurut Urubkov, peristiwa paling signifikan awal 2026 adalah memutus akses Rusia dari terminal Starlink yang mengganggu komunikasi pesawat nirawak Ukraina. "Apa yang bisa kami lakukan di garis depan adalah berkat Starlink, semoga Rusia tidak menemukan cara memanfaatkan jaringan tersebut,” tambahnya.

Ia berharap pengembangan teknologi berlanjut: "Dalam kondisi ini, prajurit di garis depan semakin rentan. Kami berada di posisi defensif. Rusia berada dalam posisi ofensif strategis. Ukraina sebagian besar bertindak defensif. Saya ingin mengubah itu.”

Kashaba, komandan peleton senapan mesin,skeptis perkembangan teknologi akan memengaruhi jalannya perang.

"Saya pikir semua perubahan teknologi signifikan sudah terjadi dan jalannya perang sekarang tergantung siapa yang pertama kehabisan tentara yang bisa bertempur di bawah dominasi drone,” katanya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Ukraina

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait