1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikRusia

Perang Ukraina: Donbass Bertahan atau Tidak Ada yang Tersisa

16 April 2026

Tentara Rusia terus mendekat ke Kostyantynivka, untuk menduduki seluruh wilayah Donbass. Namun, masih ada orang-orang yang tinggal dan berjuang di sana. Berikut laporan reporter DW yang mengunjungi mereka.

Druszhkivka, Rusia 2026 | Dua kendaraan roda empat di jalan melintasi  jaring antipesawat nirawak di tengah situasi perang di Donbass.
Sebuah jalan yang dilindungi oleh jaring antipesawat nirawak Rusia di Druszhkivka, Maret 2026Foto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

Saat Rusia telah hampir sepenuhnya menguasai wilayah Luhansk di Ukraina, sekitar 18 persen wilayah Donetsk belum berada di bawah kendali Rusia, demikian dijelaskan juru bicara Kremlin Dmitri Peskov(12/4). Namun, tentara Rusia terus menggencarkan serangan.

Serangan Rusia terutama ditujukan ke Kota Kostiantynivka. Jika kota ini berhasil direbut, hal itu akan membuka jalan bagi Rusia menuju kota-kota besar terakhir di wilayah tersebut, yaitu Kramatorsk dan Sloviansk.

"Kostiantynivka, penghalang bagi tentara Rusia”

Di pinggiran kota Kostiantynivka, pertempuran telah terjadi, lapor Komandan Kompi Ukraina dengan nama panggilan "Lys” (Rubah) kepada DW. Menurutnya, beberapa pasukan Rusia berhasil menyusup ke kota dari hutan sekitarnya dengan berlindung di balik kabut.

"Mereka mengintai seluruh garis depan dan mencari titik-titik di mana mereka bisa menyusup atau memecah baris pertahanan,” jelas Lys. "Kemungkinan besar, setelah serangkaian serangan yang kami amati, mereka akan memilih bagian tertentu dari garis depan dan menekan area tersebut. Itu adalah taktik yang kerap mereka gunakan sejak tahun lalu.”

Menurut Lys, Kostiantynivka "jadi penghalang” bagi tentara Rusia. "Selama mereka belum berhasil menembus wilayah itu, mereka tidak akan bisa maju lebih jauh. Kawasan perkotaan Kostiantynivka, Druzhkivka, Kramatorsk, dan Sloviansk bagaikan satu kota besar,” jelasnya, sambil memperingatkan bahwa jika pasukan Rusia berhasil masuk ke sana, akan sangat sulit untuk menghentikan mereka.

Komandan sebuah kompi Ukraina dengan nama panggilan “Lys” mengatakan beberapa pasukan Rusia berhasil menyusup ke kota dari hutan sekitarFoto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

Penarikan tentara di Donbass dalam klausul kesepakatan damai

Rusia tidak hanya berusaha menguasai seluruh wilayah tersebut dengan operasi militernya. Di dalam perundingan damai yang telah berlangsung, Moskow menuntut penarikan pasukan Ukraina dari seluruh Donbass, yaitu dari wilayah Luhansk dan Donetsk.

Kyiv menolak tuntutan tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy khawatir Rusia dapat menggunakan wilayah tersebut sebagai basis serangan ke wilayah lain setelah mundurnya pasukan Ukraina.

Menurutnya, di wilayah tersebut terdapat "fasilitas pertahanan dan benteng yang kuat”. Bahkan dalam kondisi pertempuran, diperkirakan masih ada sekitar 200.000 orang yang tinggal di sana.

"Bagaimana mungkin dalam negosiasi kita menyerahkan wilayah, di mana kita telah mengorbankan nyawa ribuan prajurit kita? Itu sama sekali tidak mungkin,” tegas Ruslan, komandan artileri yang mempertahankan posisi di pintu masuk Kostiantynivka, dengan nada marah.

Ruslan, seorang komandan artileri Brigade 28 DonbassFoto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

"Ini adalah kota tempat warga kami masih tinggal. Kota ini harus dipertahankan,” tegas Kepala Staf Batalion Eduard. "Jika kita begitu saja menyerahkannya, tidak lama lagi tidak akan ada apa pun yang tersisa dari wilayah Donetsk. Jika Kostiantynivka jatuh, Kramatorsk akan menjadi sasaran berikutnya.”

"Jika Kostyantynivka jatuh, Kramatorsk akan menjadi sasaran berikutnya," kata Kepala Staf Batalion 28, EduardFoto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

Warga sipil di tengah bahaya dan evakuasi

Tidak jelas berapa banyak warga sipil yang masih berada di Kostiantynivka, kota yang dulunya memiliki 70.000 penduduk ini.

Evakuasi hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, melalui jalan yang dilintasi jaring yang kini sudah sangat rusak, yang jadi pelindung dari serangan pesawat nirawak Rusia.

"Ketika saya meninggalkan Kostiantynivka dan bersembunyi di tiga rumah di sepanjang jalan, saya menemukan warga sipil yang tewas di sana,” lapor Komandan Kompi Lys kepada DW. "Saya tidak paham mengapa orang-orang tetap tinggal di sana. Mengapa mereka tidak pergi?” tanyanya.

Di Druzhkivka yang terletak tak jauh dari sana, masih ada penduduk yang bertahan. Di pagi hari, dalam perjalanan kami bersama tentara Ukraina, kami bertemu banyak orang yang sedang berangkat kerja, kebanyakan dari mereka adalah pegawai negeri sipil.

"Hidup di kota ini menakutkan,” ujar seorang perempuan bernama Ninel. "Tapi ke mana lagi saya harus pergi? Lagi pula, saya tidak punya banyak waktu lagi untuk hidup,” jelas seorang pria lanjut usia bernama Vitalij.

Sebuah rumah yang hancur di Kramatorsk. Di pagar tertulis: “Balas dendam pada penjahat-penjahat Rusia!” (Foto 26 Maret 2026)Foto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

Kramatorsk dan Sloviansk yang penuh ancaman

Semakin lama perang berlangsung, semakin jelas pula perubahan pada pemandangan kota Kramatorsk. Meskipun kota ini belum berada tepat di garis depan perang, kerusakan kota semakin parah setiap harinya.

Pada 29 Maret, tentara Rusia melancarkan serangan dengan beberapa bom udara. Tiga orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, tewas dalam serangan tersebut.

Salah satu bom jatuh di kawasan pemukiman yang sudah diserang sebanyak tujuh kali. Orang-orang di sana tampak tenang merapikan barang mereka. "Kami akan mengemas barang-barang kami,” kata Olena sambil memandang ke luar jendela yang sudah tidak memiliki kaca lagi.

"Jika jam malam sudah berlaku dan diperpanjang secara signifikan kami harus pergi. Begitulah yang terjadi di Pokrovsk, Kostyantynivka, lalu di Druzhkivka. Kami sadar bahwa hal itu juga akan menimpa kami,” jelas Olena.

Jaring pelindung untuk menangkal pesawat nirawak sudah lama menjadi pemandangan yang biasa di jalan-jalan sepanjang garis depan. Kini, jaring tersebut juga terdapat di pinggiran kota Kramatorsk dan Sloviansk yang berbatasan dengannya.

Beberapa kawasan di Sloviansk berada dalam jangkauan pesawat nirawak FPV Rusia, membuat anak-anak di sana dievakuasi secara paksa. Meskipun demikian, bagian kota lainnya masih tampak ramai. Kafe-kafe tetap buka, para lansia dan ibu-ibu dengan anak-anak terlihat berjalan di jalanan.

"Jika saya punya uang, saya akan pergi. Sulit rasanya melihat semua ini,” kata Iryna, seorang perempuan lanjut usia. "Jika kita benar-benar menyerahkan bagian Donbass ini, itu akan menyelamatkan banyak nyawa, baik tentara maupun warga sipil,” kata Iryna. "Tapi menyerah begitu saja pada wilayah ini? Wilayah ini bagian dari Ukraina!”

Sloviansk juga terus-menerus menjadi sasaran serangan. Di pusat kota terdapat sebuah hotel yang hangus terbakar akibat serangan beberapa drone Shahed. Wladyslaw Samusenko sedang tidur di salah satu kamar saat serangan itu terjadi. "Syukurnya saya masih hidup,” ujar pria itu sembari menunjuk ke kamar hotel yang hancur.

Wladyslaw Samusenko di kamar hotel yang rusak akibat serangan RusiaFoto: Hanna Sokolova-Stekh/DW

"Banyak mayat di halaman belakang dan di jalan-jalan”

Samusenko mendirikan sebuah organisasi nirlaba bernama "Rhythmus of Our Life”. Awalnya, ia ingin menggunakan organisasi ini untuk membantu anak-anak yatim piatu.

Sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina, ia pun mengorganisir proses evakuasi warga sipil dari daerah-daerah yang terancam. "Saya langsung menyadari bahwa nyawa manusia harus diselamatkan,” kata Samusenko.

Pada akhir Maret, Samusenko mengevakuasi sepasang lansia, seorang perempuan dan seorang pria lumpuh, dari Kostyantynivka. Ia harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer untuk mencapai kota tersebut, dibayangi ketakutan akan serangan Rusia. "Di sana banyak mayat, di halaman belakang dan di jalan-jalan. Baunya tercium saat melewati sebuah rumah,” kata Samusenko.

Banyak pensiunan yang bertahan di kota. Namun, Samusenko juga bertemu beberapa pemuda yang takut ditarik ke dalam militer, "Kami kekurangan pejuang. Tentara kami lelah dan kekurangan tenaga pengganti.” Namun selama warga sipil meminta bantuan Samusenko, ia akan membantu mereka melarikan diri dari kota-kota yang dilanda perang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Ukraina

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih