1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikUkraina

Perang Ukraina: Gencatan Senjata di Depan Mata?

Roman Goncharenko
14 Mei 2026

Empat tahun setelah invasi Rusia di Ukraina, mungkinkah perang berakhir sebelum musim gugur? DW berbincang dengan kalangan militer dan pakar keamanan mengenai kemungkinan tercapainya gencatan senjata baru.

Presiden Rusia Vladimir Putin di depan tiga anggota militer
Presiden Rusia Vladimir PutinFoto: Alexander Nemenov/REUTERS

Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus mencuri perhatian dunia dari konflik Rusia–Ukraina. Di Kyiv, kekhawatiran muncul: suplai senjata dari Amerika Serikat bisa menyusut. Pemerintah Ukraina pun mulai bersiap menghadapi kemungkinan perang yang masih harus dijalani selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, Moskow justru memetik keuntungan dari lonjakan harga minyak dan gas di pasar global. Itulah salah satu gambaran realitas geopolitik pada musim semi 2026.

Di garis depan, kebuntuan faktual mengerem laju invasi Rusia. Tidak ada pihak yang saat ini mampu merebut wilayah secara signifikan. Ukraina, sebaliknya, mulai meningkatkan serangan terhadap infrastruktur transportasi minyak di wilayah Rusia, termasuk fasilitas di kota pelabuhan Tuapse di Laut Hitam.

Kremlin bahkan semakin sering terpaksa mematikan internet seluler di beberapa wilayah Rusia untuk sementara waktu. Sementara itu, popularitas Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan terus menurun.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana arah perang pada tahun kelima sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai?

Sejumlah pakar Barat dan pejabat militer yang berbicara dengan DW di sela-sela Forum Keamanan Kyiv pada akhir April menilai bahwa akhir faktual perang mungkin mulai mendekat. Salah satu faktor yang mereka sebut adalah pemilu sela di Amerika Serikat.

Akankah Putin umumkan mobilisasi baru?

Dalam beberapa pekan terakhir, para analis internasional berspekulasi bahwa Putin mungkin akan mengumumkan mobilisasi militer baru, seperti yang pernah dilakukan pada musim gugur 2022.

Kemungkinan ini juga tidak dikesampingkan oleh militer Ukraina, sebagaimana pernah disampaikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. 

Rusia Serang Situs Warisan UNESCO di Lviv

00:39

This browser does not support the video element.

Namun, Evelyn Farkas dari McCain Institute di Arizona State University meragukan skenario mobilisasi besar-besaran tersebut. Farkas—yang pernah menduduki posisi penting di Pentagon pada masa Presiden Barack Obama—menilai kondisi ekonomi Rusia justru dapat menahan Kremlin mengambil langkah itu.

Ukraina kurangi ketergantungan pada senjata Barat

Meski ketegangan meningkat di Teluk Persia, Kurt Volker melihat Ukraina justru berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Ukraina itu menilai Kyiv telah berhasil mengurangi ketergantungannya pada senjata Barat.

Menurutnya, Ukraina kini mampu memenuhi sekitar 60 hingga 70% kebutuhan militernya sendiri. Dengan kapasitas tersebut, Kyiv diyakini masih dapat melanjutkan perang bahkan jika Amerika Serikat menghentikan pengiriman senjata dan hanya mengandalkan jalur Eropa.

Setahun lalu situasinya berbeda. Saat berkunjung ke Amerika Serikat, Presiden Zelenskyy sempat memperingatkan bahwa Ukraina bisa kalah perang jika dukungan dari AS berhenti.

Kini, kata Volker, kondisi itu sudah berubah. Meski begitu, dia mengingatkan bahwa Washington tidak lagi dapat menjamin pengiriman rudal penting bagi sistem pertahanan udara Patriot dalam jumlah yang sama hingga akhir tahun.

Mantan duta besar AS untuk NATO itu mengaitkan situasi tersebut dengan prioritas Presiden Donald Trump yang kini lebih memusatkan perhatian pada konflik dengan Iran.

Farkas: Zelenskyy akan bertahan dari tekanan Trump

Baru-baru ini Zelenskyy mengaku dirinya memperkirakan tekanan dari pemerintahan Trump akan meningkat jelang musim gugur. Trump disebut ingin Ukraina menerima syarat Rusia untuk gencatan senjata, terutama penarikan pasukan Ukraina dari bagian Donbass yang masih dikuasai Kyiv.

Namun, Evelyn Farkas yakin Ukraina akan mampu menghadapi tekanan tersebut.

Dia memperkirakan Perang Iran akan mereda pada musim panas yang sekaligus memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Setelah itu, menurutnya, Amerika Serikat mungkin akan mengalihkan perhatian ke agenda lain, seperti upaya perubahan rezim di Kuba yang pernah disinggung Trump.

Dalam skenario itu sekalipun, Farkas tidak memperkirakan tekanan terhadap Kyiv akan meningkat. Sebaliknya, situasi tersebut justru dapat melemahkan Rusia, sekutu historis Havana. 

Presiden Jerman: “AS Sedang Menghancurkan Tatanan Dunia”

01:21

This browser does not support the video element.

Negosiasi serius mungkin setelah pemilu AS

Baik Farkas maupun Volker menilai pemilu sela Kongres Amerika Serikat pada November berpotensi menjadi titik balik. Setelah pemilu tersebut, posisi Trump dan Partai Republik bisa melemah.

"Hal itu bisa cukup untuk menekan pemerintah AS agar tetap melanjutkan dukungan kepada Ukraina dan NATO,” kata Farkas.

Menurut Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, ketua Komite Militer NATO, perang ini sangat sulit diakhiri melalui medan tempur semata. Dia menilai militer Rusia masih tetap "kuat” meskipun korban terus meningkat. Namun, kondisi ekonomi Rusia bisa menjadi faktor yang akhirnya mendorong Moskow menerima kesepakatan damai.

Volker sendiri pesimistis Rusia akan menandatangani perjanjian damai penuh dengan Ukraina. Namun, dia melihat kemungkinan gencatan senjata.

"Saya tidak yakin Rusia akan pernah setuju pada perjanjian damai dengan Ukraina. Tetapi saya kira suatu saat mereka bisa menerima gencatan senjata. Dan saya rasa kita sedang mendekati titik itu,” katanya.

Menurut Volker, negosiasi untuk mengakhiri perang selama ini hanyalah "sebuah sandiwara”. Namun, perubahan situasi di Rusia dan besarnya kerugian perang bisa memaksa Kremlin menghentikan pertempuran.

"Yang menentukan adalah realitas. Situasi di Rusia memburuk secara signifikan dan terus memburuk,” ujarnya. Prediksinya jelas: waktu tidak berpihak pada Putin.

Para pakar masih berbeda pendapat mengenai kapan titik balik itu akan terjadi. Volker menilai kemungkinan perubahan situasi bisa terjadi bahkan pada tahun ini, dengan peluang "lebih dari 50%”.

Sementara itu, Farkas memperkirakan tahun 2027 akan menjadi saat ketika Ukraina akhirnya keluar sebagai pemenang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait