1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Putin Janji Hapus Utang bagi Rekrutan Baru Perang Ukraina

Timothy Jones Sumber: AFP, Reuters
27 Mei 2026

Setiap warga nantinya dijanjikan penghapusan utang hingga nyaris Rp2 miliar jika mau berperang di Ukraina.

Vladimir Putin berbicara di depan anggota pasukan khusus Rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin bersama serdadu RusiaFoto: Alexei Danichev/Tass/dpa/picture alliance

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menawarkan insentif bagi warga yang bersedia bergabung dalam perang di Ukraina. Melalui dekret terbaru yang ditandatangani Senin (25/5) lalu, pemerintah Rusia akan menghapus utang hingga 10 juta rubel—setara sekitar Rp2,5 miliar—bagi para rekrutan baru militer.

Kebijakan itu berlaku untuk warga yang menandatangani kontrak dinas militer setelah 1 Mei tahun ini. Penghapusan utang tidak hanya berlaku bagi tentara, tetapi juga pasangan mereka. Namun ada syaratnya: kontrak harus berdurasi minimal satu tahun dan secara khusus ditujukan untuk menjalankan "operasi militer khusus”, istilah resmi Kremlin untuk invasi penuh Rusia ke Ukraina.

Utang yang dihapus juga harus berasal dari pinjaman yang dibuat sebelum 1 Mei. Berdasarkan data basis properti Rusia Cian, nilai 10 juta rubel setara harga apartemen satu kamar seluas sekitar 35 meter persegi di Moskow.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Kremlin mempertahankan pasokan personel tempur setelah lebih dari empat tahun perang berlangsung. Selama ini Rusia telah menawarkan berbagai fasilitas finansial bagi warga yang bersedia bertempur di garis depan, mulai dari gaji tinggi hingga berbagai tunjangan sosial.

Rusia Luncurkan Uji Coba Rudal Nuklir Baru

01:44

This browser does not support the video element.

Intervensi militer

Putin juga sebelumnya menjanjikan posisi prestisius bagi veteran perang setelah kembali dari medan tempur. Mereka diprioritaskan untuk masuk universitas maupun lembaga pendidikan lanjutan.

Perekonomian Rusia sendiri kini semakin diarahkan untuk menopang kebutuhan perang. Sektor militer mendapat prioritas utama dibanding bidang sipil lainnya.

Pada hari yang sama, Putin turut meneken undang-undang baru yang memungkinkan pengerahan militer Rusia ke luar negeri untuk melindungi warga negaranya yang menghadapi proses hukum di negara lain.

Menurut kantor berita Spanyol EFE, aturan tersebut membuka jalan bagi Moskow melakukan intervensi militer apabila warga Rusia dianggap terancam penahanan atau proses hukum yang dinilai tidak sah menurut versi Kremlin.

Ketua Komite Pertahanan parlemen Rusia, Andrey Kartapolov, menyebut undang-undang itu dapat diterapkan pada kasus arsitek Rusia Alexander Butyagin. Dia ditangkap di Polandia pada Desember 2025 atas permintaan Ukraina karena melakukan penggalian di Krimea—wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014. Butyagin kemudian dibebaskan pada April lalu dalam pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait