50 tahun silam, perang yang mengubah wajah sejarah Vietnam akhirnya berakhir. Pertempuran militer terpanjang di abad ke-20 ini merupakan salah satu babak kelam sejarah dunia.
Perang Vietnam membantu kita menyadari bahwa perang memiliki konsekuensi psikologis jangka panjangFoto: Horst Faas/AP Photo/picture alliance
Iklan
Perang Vietnam, yang tergolong salah satu pertempuran militer terlama di abad ke-20. Berakhirnya pertempuran ini mengakhiri satu babak kelam dalam hubungan internasional dan meninggalkan warisan yang membekas dalam ingatan umat manusia.
Dimulai setelah kekalahan Prancis, Perang Vietnam berlangsung dari tahun 1955 hingga 1975, menyababkan sekitar 3,8 juta nyawa yang melayang.
Konflik ini berakhir dengan runtuhnya rezim yang didukung Amerika Serikat di Vietnam Selatan, dan kemenangan mutlak bagi pasukan komunis yang meliputi utara dan selatan negara yang kini dijuluki "Naga Biru" itu.
Meskipun begitu, tidak hanya sejarah perang itu sendiri yang membentuk cerita Vietnam, tetapi juga bekas luka yang ditinggalkannya pada jiwa manusia.
Jose Brunner, seorang profesor dari Universitas Tel Aviv Israel yang berbicara dengan Deutsche Welle, menyoroti sebuah perspektif yang sering terlupakan: Pemahaman akan dampak psikologis dan sosial jangka panjang yang ditinggalkan oleh perang, terutama pada mereka yang terlibat langsung dalam keganasan perang tersebut.
Pada tanggal 30 April 1975, tank-tank Vietnam Utara menerobos gerbang istana kepresidenan Vietnam Selatan. Setelah 20 tahun, Perang Vietnam akhirnya berakhir. Butuh waktu hampir 30 tahun bagi mantan Perdana Menteri Vo Van Kiet untuk mengakui penderitaan rakyat Vietnam Selatan ketika ia berkata: "Jika ada sejuta orang yang mengalami hari ini dengan kegembiraan, ada juga sejuta orang yang mengalaminya dengan kesedihan."Foto: AP
Sindrom pasca-Vietnam: Luka batin yang tak tampak
Setidaknya sejak Perang Dunia Pertama, diketahui bahwa para prajurit sering menderita akibat pengalaman kekerasan mereka lama setelah perang berakhir.Mereka yang terkena dampak, yang dikenal di Jerman sebagai "getaran perang," mengalami kedinginan dan serangan panik atau mereka menolak makanan.
Iklan
Ketika itu, dunia medis pun tak mampu memberikan jawaban yang memadai, dan banyak yang menganggap para serdadu ini hanya berpura-pura atau membiarkan penyembuhan datang dengan sendirinya.
Namun, dalam Perang Vietnam, kondisi ini menemukan bentuk pengakuan pertama. Pada tahun 1972, psikiater Chaim F. Shatan, yang telah bekerja dengan para veteran Vietnam, menulis sebuah laporan di New York Times mengenai "Sindrom Pasca-Vietnam".
Dalam laporannya, Shatan menggambarkan bagaimana para veteran didera rasa bersalah, perasaan terasingkan dari masyarakat, dan ketidakmampuan untuk mengasihi sesama.
"Ciri yang paling menggetarkan adalah keraguan yang menggerogoti diri mereka untuk bisa mencintai dan menerima kasih sayang," ungkapnya, mengutip kisah seorang veteran yang berkata, "Saya berharap bisa belajar mencintai, seperti saya belajar membenci. Dan saya benar-benar membenci! Tapi cinta itu adalah kata yang sangat besar."
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Mengungkap luka tak terlihat: PTSD dan pengakuannya
Pengakuan akan trauma ini, meskipun terlambat, terus berkembang. Baru pada 1980-an, gangguan ini, yang kemudian dikenal dengan istilah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), akhirnya diakui secara resmi oleh Asosiasi Psikiatri Amerika.
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1983 atas perintah Kongres Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 15 persen dari para veteran Vietnam mengalami gangguan kondisi ini, yang berarti lebih dari 400.000 orang.
Pada studi yang diulang 40 tahun setelah perang berakhir, ditemukan bahwa satu dari lima veteran masih menderita PTSD, dan mereka yang mengalami gangguan ini memiliki tingkat kematian dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Dengan bantuan terapi dan pengobatan, PTSD dapat disembuhkan atau setidaknya diringankan.Bagi sebagian besar orang yang terkena, kondisi ini akan berkurang keparahannya seiring berjalannya waktu. merasakan dampaknya seiring berjalannya waktu.
Namun, situasi ini sangat berbeda di negara Vietnam. Seperti yang dikatakan oleh ahli sejarah Vietnam, Martin Großheim, "Saya yakin jumlah tentara Vietnam yang menderita trauma sangatlah besar. Tetapi itu tidak pernah menjadi topik yang dibicarakan di Vietnam."
Hal ini terjadi karena Partai Komunis Vietnam (KPV) mengontrol sepenuhnya narasi yang boleh dikemukakan tentang perang tersebut, sehingga masalah psikologis menjadi bagian yang tak boleh muncul dalam gambaran heroisme perjuangan melawan imperialisme Amerika.
Demonstrasi menentang Perang Vietnam menunjukkan sikap warga Amerika yang terbagi terhadap perang. Berikut adalah demonstrasi dari tahun 1969 di Washington D.C.Foto: Circa Images/glasshouseimages/IMAGO
Trauma sosial dan pemulihan nasional
Namun, meskipun topik seputar trauma perang disembunyikan, tidak berarti bahwa trauma itu tidak ada.
Salah satu bukti yang mencolok adalah Bao Ninh, seorang penulis dan mantan tentara Vietnam, yang pada 1987 menerbitkan novel The Sorrow of War (Penderitaan Perang).
Tokoh utama dalam novel itu berjuang dengan kenangan perang yang menghantuinya, melarikan diri ke dalam alkohol dan mengalami keterasingan yang mendalam dari masyarakat.
Buku fiksi ini langsung dilarang setelah diterbitkan, sebuah cerminan bagaimana dampak psikologis ini dipandang di Vietnam.
Brunner, dalam wawancaranya, juga menunjukkan bahwa pemulihan trauma bukanlah hanya sekedar soal terapi individu.
"Ini bukan hanya soal menempatkan para korban di kursi terapi. Itu tidak cukup, karena proses penyembuhan melibatkan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Dengan kata lain, cara masyarakat berinteraksi dengan perang ini menentukan sejauh mana individu bisa pulih.
Proses ini melibatkan empat dimensi penting: Pertama, ritual-ritual mengenang, apakah bangsa itu mempersembahkan penghormatan di pemakaman ataukah mengadakan acara kenangan?
Kedua, narasi populer, yaitu bagaimana perang ini digambarkan dalam buku-buku pelajaran, film, dan sastra.
Ketiga, apakah rekonsiliasi terjadi antara pihak-pihak yang terlibat?
Keempat, apakah pengakuan terhadap penderitaan mental dan fisik para prajurit benar-benar ada, ataukah masih disangkal?
Luka yang terus menghantui: Warisan yang tak terhapuskan
Seiring berjalannya waktu, Brunner menekankan, baik individu maupun masyarakat harus mengakui bahwa dampak perang ini bertahan lama.
Di Vietnam, peringatan akan berakhirnya perang 50 tahun lalu dirayakan dengan parade, talkshow, dan pidato-pidato politik, namun hanya dalam kerangka narasi yang dikendalikan oleh KPV.
Pemimpin partai, yang mengklaim kemenangan atas imperialisme Prancis dan Amerika, menggunakan momentum ini untuk memperkuat citra mereka sebagai pahlawan bangsa, dan kemudian datanglah kebijakan reformasi ekonomi yang dimulai pada akhir 1980-an membawa Vietnam ke jalur pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Namun, dalam proses rekonsiliasi ini ada ketimpangan yang nyata. Sementara warga Amerika diterima kembali dengan tangan terbuka, masalah penyatuan kembali dengan musuh Vietnam Selatan masih menjadi "masalah besar", sebagaimana yang diungkapkan Großheim.
Pemakaman tentara Vietnam Selatan selama bertahun-tahun dibiarkan terlantar, dan keluarganya pun tidak diberi hak untuk merawatnya.
Ketika Vietnam Mengubur Kedigdayaan Amerika
Di belantara Vietnam Amerika Serikat untuk pertamakalinya telan kekalahan perang. Petualangan maut yang digerakkan oleh rasa takut terhadap gelombang Komunisme itu hingga kini masih menyisakan trauma tak berkesudahan.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Hantu Komunisme
Dibayangi ketakutan akan gelombang komunisme yang sedang menjalar di Asia Tenggara, Amerika Serikat tahun 1955 di bawah Presiden John F. Kennedy dan kemudian Lyndon B. Johnson, mendeklarasikan perang terhadap Vietnam Utara yang didukung Uni Sovyet dan Cina.
Foto: AP
Besar Tak Bertaji
Selama dua dekade berikutnya 500.000 serdadu Amerika Serikat dan lebih dari satu juta pasukan Vietnam Selatan bertempur melawan Vietkong yang cuma berkekuatan 300.000 personil. Namun begitu tentara AS dan Vietnam Selatan punya kelemahan besar, minimnya pengalaman dan pengetahuan tentang taktik gerilya yang dilancarkan Vietkong
Foto: AP
Taring Tumpul Vietnam Selatan
Vietnam Selatan sejatinya punya militer berstruktur modern yang pembentukannya dibantu Perancis. Namun kendati dilengkapi dengan sistem alutsista teranyar, seperti kendaraan lapis baja M113 APC dan M41 dari AS, minimnya pengalaman membatasi daya tempur Vietnam Selatan. Foto menunjukkan Jendral Nguyen Ngoc Loan eksekusi mati terduga serdadu Vietkong, Nguyen Van Lem di Saigon.
Foto: AP
Hujan Api
Amerika Serikat sejatinya tidak berniat merebut Vietnam Utara supaya tidak memprovokasi Uni Sovyet, melainkan mempertahankan Vietnam Selatan hingga mendapat pengakuan internasional. Sebab itu militer AS awalnya lebih banyak terlibat lewat serangan udara. Dalam tiga tahun antara 1965 dan 1967, AS menghujani Vietnam Utara dengan 425.000 ton bahan peledak.
Foto: picture alliance/CPA Media
Pembunuh dari Langit
Pentagon bahkan memanfaatkan celah pada Konvensi Anti Senjata Kimia untuk melumat Vietkong. Dengan lihai militer AS mengembangkan zat beracun bernama Agent Orange untuk menghancurkan hasil panen dan perkebunan di Vietnam Utara. Hingga tahun 1971 AS telah menggunakan sebanyak 80 juta liter senjata kimia tersebut.
Foto: picture-alliance/akg-images
Mati Lewat Api
Senjata mematikan lain yang gemar digunakan AS adalah bom Napalm. Antara 1965 hingga 1973, militer Amerika menghujani Vietnam Utara dengan delapan juta ton bom Napalm, tiga kali lipat lebih banyak ketimbang jumlah bom yang digunakan selama Perang Dunia II. Jenis bom yang kini penggunaannya dilarang itu terutama banyak menelan korban sipil.
Foto: Hulton Archive/Getty Images
Perang Berbayar Nyawa
Lebih dari 1,3 juta orang tewas terbunuh selama perang Vietnam. Amerika sendiri kehilangan sekitar 56.000 serdadu, sementara 156.000 lainnya mengalami luka atau cacat seumur hidup. Namun jumlah tersebut tidak sebanding dengan angka kematian yang disebabkan pengeboman militer AS, yakni hingga 200.000 warga sipil dan militer di Vietnam dan Kamboja.
Foto: AP
Ambisi Berbiaya Selangit
Amerika Serikat tidak cuma kehilangan pengaruh dalam Perang Vietnam, tetapi juga merugi secara finansial. Hingga tahun 1975, Washington telah menghabiskan dana yang jika diukur dengan nilai saat ini setara dengan 761 milyar US Dollar. Biaya tak terduga yang muncul di luar ongkos perang bahkan ditaksir mencapai 1,4 tilyun US Dollar. Angka yang sama dihabiskan AS selama Perang Irak hingga tahun 2008
Foto: Getty Images/P. Christain
Evakuasi di Atap Kedutaan
Perang Vietnam berakhir secara resmi dengan jatuhnya kota Saigon ke tangan gerilayawan Vietnam Utara pada 29 April 1975. Jelang kapituasi Vietnam Selatan, AS sibuk evakuasi warganya lewat atap gedung kedutaan besar di Saigon. Selain itu militer Amerika juga ungsikan sekitar 90.000 penduduk Vietnam Selatan yang takut terhadap rejim Komunis.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Van Es
9 foto1 | 9
Baru pada tahun 2007, pemerintah Vietnam membuka kembali akses ke pemakaman tersebut, memungkinkan keluarga merawat makam, suatu langkah yang dianggap sebagai kontribusi besar untuk rekonsiliasi nasional.
Langkah yang lebih besar akan tercapai jika Vietnam mengizinkan keluarga korban perang untuk mencari sisa-sisa jenazah tentara Vietnam Selatan yang hilang.
Di tanah yang dihantui oleh roh leluhur ini, banyak yang percaya bahwa hanya dengan pemakaman yang layak, para arwah dapat menemukan kedamaian.
Pembantaian My Lai
Pembantai My Lai merupakan salah satu kejahatan perang terberat dalam Perang Vietnam.
Foto: Michael Marek
Pembantaian
Tidak ada kejadian lain pada dekade 60-an yang begitu membangkitkan kemarahan di seluruh dunia. Pada tanggal 16 Maret 1968, pasukan AS menyerbu sebuah desa di Vietnam Selatan. Fotografer Ronald Haeberle mendampingi pasukan pimpinan Letnan William Calley. Haeberle mendokumentasikan bagaimana para prajurit AS membunuh warga desa, meracuni air sumur serta membakar rumah-rumah.
Foto: AP
Korban
Hanya beberapa warga desa saja yang berhasil menyelamatkan diri. 504 orang terbunuh dalam aksi yang dilakukan tentara yang tergabung dalam Kompi Charlie ini. Dengan bayonet dan pisau, tubuh para korban dipotong-potong: telinga, leher, lidah atau dikuliti kepalanya. Desa My Lai berubah menjadi rumah jagal.
Foto: picture alliance/dpa
Pelaku
Tanggal 31 Maret 1971, pengadilan militer AS menjatuhi hukuman seumur hidup bagi William Calley. Calley merupakan satu-satunya tentara yang dihukum atas pembantaian My Lai. Tidak ada seorang perwira tingkat tinggi yang diajukan ke pengadilan. Setelah menjalani waktu singkat hukumannya, Calley mendapat pengampunan dari presiden AS kala itu, Richard Nixon.
Foto: AP
Penyelamat
Pilot helikopter Hugh Thompson berhasil menyelamatkan beberapa warga. Rekan awak helikopternya, Glenn Andreotta dan Lawrence Colburn, dengan senjata mesin melindungi Thompson dalam aksi penyelamatan ini. Tahun 1998 ketiganya mendapat penghargaan tertinggi militer AS, Soldier’s Medal, atas keberanian mereka menyelamatkan jiwa manusia. Tahun 2006, Thompson meninggal akibat kanker.
Foto: AP
Pembongkar
Selama 18 bulan lamanya, militer AS berhasil menutup-nutupi aksi pembantaian ini. Wartawan Seymour Hersh lah yang berhasil mengungkapkan aksi kejahatan perang tersebut. Warga Amerika terkejut melihat gambaran tentara AS yang dicap media sebagai pembunuh massal berdarah dingin. Hersh menerima hadiah Pulitzer 1970 untuk laporannya mengenai My Lai.
Foto: Michael Marek
Korban Selamat
Pham Thanh Cong merupakan salah seorang korban selamat My Lai yang kini masih hidup. Kala orangtua dan saudaranya dibunuh, Pham Thanh Cong berusia 11 tahun. Ia sendiri terbaring pingsan diantara mayat-mayat. Setelah perang berakhir ia terpaksa tinggal jauh dari My Lai di tempat saudaranya. Pemerintah Vietnam membiayai pendidikan dan mengangkatnya sebagai kepala museum peringatan My Lai.
Foto: Michael Marek
Monumen Peringatan
Sebuah museum untuk memperingati pembantaian berdiri di My Lai sejak tahun 1976. Ke 504 nama korban tewas terukir di papan tepat di pintu masuk. Di sebelahnya dipajang senjata AS yang berhasil direbut serta dua tabung kaca berisi janin cacat. Akibat senjata kimia, Agen Oranye yang digunakan AS, 2 juta warga Vietnam menderita penyakit.
Foto: Michael Marek
Replika Sejarah
Dalam museum ini juga terdapat diorama menggambarkan kejadian 16 Maret 1968. Walaupun adegan pembantaian ini ditampilkan dengan jelas, tapi tak mampu mengangkat kengerian dalam kenyataan sebenarnya .
Foto: Michael Marek
Menghidupkan My Lai
Di belakang museum terdapat taman dengan jalan dari batu yang mengarah ke patung peringatan. Patung tersebut menampilkan seorang perempuan memangku seorang anak yang tewas dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dikepalkan ke langit. Di kakinya tergeletak seorang anak gadis yang tengah memegang erat seseorang yang tengah sekarat. Di sebelahnya berdiri sebuah replika gubuk di desa My Lai.
Foto: Michael Marek
Desa Pahlawan
My Lai adalah salah satu desa terindah di wilayah ini, demikian tertulis di selebaran berbahasa Inggris dan Vietnam yang dibagikan di museum peringatan. Desa My Lai terkenal dengan patriotisme nya. Banyak pahlawan Vietnam lahir di desa ini.
Foto: Michael Marek
10 foto1 | 10
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman