1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perawatan Trauma Psikologis di Jerman

as29 Juli 2008

Perang, terror, pelecehan seksual atau kecelakaan berat biasanya meninggalkan bekas berupa trauma psikologis. Di Jerman sejak tahun 1990 didirikan rumah sakit khusus untuk menangani trauma psikologis.

Simbol dari trauma berupa munculnya reaksi tubuh yang berlebihan terhadap stress berkepanjangan.Foto: ZB

Bukan hanya korban dari berbagai peristiwa mengerikan yang mengalami apa yang disebut trauma pasca beban kejiwaan berat. Namun juga anggota polisi, tentara, petugas pertolongan gawat darurat, petugas pemadam kebakaran serta para relawan penanggulangan bencana menghadapi bahaya mengalami trauma psikologis. Menyadari semakin besarnya risiko gangguan kejiwaan berupa trauma psikologis tsb, pemerintah Jerman pada awal tahun 90-an menetapkan rumah sakit militer di Hamburg sebagai rumah sakit dengan titik berat perawatan penderita trauma psikologis.

Dewasa ini tema paling aktual yang ditangani rumah sakit militer di Hamburg itu adalah para serdadu Jerman yang mengalami trauma psikologis setelah bertugas di luar negeri khususnya di Afghanistan. Seperti diketahui, pasukan Jerman memang bertugas di utara Afghanistan yang relatif aman. Tapi berbagai peristiwa sehari-hari yang terjadi di kawasan yang dilanda perang selama beberapa dekade itu, tetap meninggalkan trauma psikologias amat berat.

Misalnya seorang pasien yang dirawat di rumah sakit trauma pasca guncangan kejiwaan hebat di Hamburg itu, Uwe Dittrich adalah serdadu Jerman yang telah dua kali ditugaskan ke Afghanistan. Kedua penugasan itu dapat dilaluinya dengan selamat. Paling tidak secara fisik. Karena secara psikologis, Uwe Dittrich mengalami trauma hebat. Uwe Dittrich menggambarkan trauma yang dialaminya : Gejalanya berupa membekunya perasaan dalam situasi tertentu, misalnya sikap penolakan pada anak perempuan saya dan banyak hal remeh temeh, yang sebetulnya tidak ingin saya pedulikan, akan tetapi terpaksa harus saya hiraukan.“

Penugasan di Afghanistan menimbulkan stress berat di kalangan serdadu Jerman.Foto: AP


Penderita trauma psikologis seperti Uwe Dittrich memang tidak menyadari problem yang dihadapinya. Dalam kasus ini, istri Dittrich yang mendorong suaminya untuk mendapat perawatan di rumah sakit militer di Hamburg itu. Saat ini di rumah sakit khusus trauma psikologis itu, dirawat 30 pasien dengan gejala serupa. Yakni trauma pasca guncangan psikologis hebat, yang baru muncul beberapa tahun kemudian. Simptom yang muncul adalah rasa takut mati, putus asa atau perasaan kecewa berat.

Uwe Dittrich mula-mula mengalami peristiwa mengerikan pada saat melaksanakan patroli rutin di Afghanistan. Ketika itu ia melakukan pertolongan pada saat terjadinya kecelakaan hebat. Dittrich menceritakan asal mula trauma psikologi yang dialaminya: “Sebuah truk dari Pakistan yang mengangkut kulit binatang terguling ke sebuah toko roti. Kami langsung melakukan pertolongan dan dengan tangan telanjang di lokasi kecelakaan. Kemudian dengan bantuan dongkrak yang kami miliki, truk dapat diangkat sedikit dan dengan menempuh bahaya saya merangkak masuk kolong truk. Tapi saya hanya mampu menarik keluar seorang anak lelaki berusia 11 tahun yang luka cukup parah dan dua anak perempuan yang sudah meninggal.“


Pukulan dari peristiwa mengerikan itu tertanam dalam benak Dittrich, hingga ia pulang kembali ke Jerman. Inilah yang disebut trauma psikologis. Karl-Heinz Biesold kepala bagian psikiatri rumah sakit militer di Hamburg menjelaskan definisi trauma, yakni beban berlebihan pada pancaindera yang menyebabkan blokade psikis. Lebih lanjut Karl-Heinz Biesold menjelaskan : “Hal ini bukan hanya ingatan, melainkan juga terkait dengan sensasi pada tubuh. Jantung berdebar dan naiknya tekanan darah, seolah penderitanya masih dalam situasi stress. Juga terkait dengan emosi tinggi yang biasanya berupa rasa takut. Gejala kedua adalah sikap waspada terus menerus, yang bisa disebutkan sebagai perasaan tidak tenang, ketakutan serta gangguan tidur dan gejala yang ketiga adalah sikap menolak semua pengalaman yang traumatis tsb.“


Gejala yang diungkapkan tsb memang diakui oleh Uwe Dittrich melanda dirinya setelah ia menuntaskan tugasnya di Afghanistan. Misalnya saja, ia sulit bersikap hangat kepada anak perempuannya yang berusia lima tahun. Atau gambaran kesengsaraan dan penderitaan warga Afghanistan yang terus muncul dalam benaknya. Dittrich mengatakan, ia telah berusaha keras menepis perasaan bersalah itu, namun gambaran dari penugasan di Afghanistan tsb terus menyiksa dirinya.

Penderita trauma harus menjalani paket pengobatan bertahap untuk mengurangi respons berlebihan dari tubuhnya.Foto: Bilderbox

Pengobatan trauma psikologis dilakukan secara perlahan dan bertahap. Para psikiater atau psikolog melakukan pendekatan secara hati-hati, untuk mendapatkan gambaran dari gangguan perasaan para pasiennya. Dalam bahasa ilmiahnya dilakukan langkah eksposisi trauma. Disamping elemen dari terapi perilaku yang sudah baku, juga dilakukan pendekatan teknis, yang dapat memberikan sukses sensasional pada ingatan pendek penderita. Diakui, metode tsb menunjukkan sukses pengobatan, walaupun bagaimana mekanisme dari terapi itu tidak ada yang dapat menjelaskannya secara tepat.

Karl-Heinz Biesold dari rumah sakit psikiatri di Hamburg menjelaskan : “Ini terapi EMDR yang di Jerman disebut terapi gerakan mata. Sebuah terapi yang dikembangkan di Amerika Serikat, namun jika menyangkut teorinya, terdapat celah bagi penjelasan. Tapi berbagai penelitian membuktikan, terapi ini amat efektiv dan stabil menyangkut hasil pengobatannya.“


Metode terapi gerakan mata EMDR dikembangkan pskiolog AS, Francine Saphiro dengan cara menggerakan tangan dari kanan ke kiri, di depan mata pasien. Dengan stimulasi itu, muncul gerakan mata yang mirip seperti gerakan mata pada saat fase tidur. Diperkirakan gerakan ini mampu menghilangkan blokade pada otak, dengan memindahkan perasaan dari belahan otak sebelah kanan ke belahan otak kiri. Secara teoritis memang masih terdapat silang sengketa. Namun jika dilakukan dengan dosis tepat, terapi tsb terbukti memiliki dampak cukup efektiv.

Tentu saja tidak ada rumusan ajaib, bahwa dengan metode tsb semua masalah trauma psikologi dapat disembuhkan. Kepala bagian psikiatri di rumah sakit militer Hamburg, Karl-Heinz Biesold mengatakan EMDR adalah salah satu bagian dari paket terapi secara keseluruhan. Para pasien yang mengalami trauma psikologi, biasanya diberi paket psiko-terapi seluruhnya 40 jam, dan di dalamnya termasuk tiga kali terapi EMDR. Paket terapinya merupakan kerja keras kedua belah pihak, baik dari para pasien yang ingin sembuh maupun tenaga medis yang menanganinya.

Pasien dinilai sembuh, jika ia sudah menunjukkan reaksi lebih santai dan tidak lagi mengeluhkan reaksi tubuh yang berlebihan akibat trauma. Karl-Heinz Biesold menyebutkan, tubuh tidak bisa berbohong. Jadi para psikiater dan psikolog berusaha melakukan terapi untuk mengendalikan reaksi tubuh yang berlebihan. Jika tubuh para pasien tidak lagi menunjukkan reaksi berlebihan atau hanya bereaksi minimal, artinya trauma sebagian besar sudah dapat diolah. Jika para pasien sudah menerima terapi kognitif secara positif, maka tubuhnya juga akan akan bereaksi lebih santai.