Perbaikan Hubungan AS-Iran?
19 Juli 2008
Januari 2002 lalu Presiden AS, George W. Bush sudah menyatakan dengan jelas sikapnya terhadap Iran: "negara seperti itu dan sekutu-sekutunya, yang menyebarkan teror, membentuk poros kejahatan."
Tetapi dalam tujuh bulan terakhir masa jabatannya, Bush nampaknya akan mengambil haluan lain. Hari ini (Sabtu, 19.07.) diplomat senior AS, William Burns akan duduk satu meja dengan jururunding Iran Said Jalili.
AS Tolak Pembicaraan Langsung
Selama ini pembicaraan langsung menyangkut masalah nuklir ditolak AS, sebelum Iran menghentikan proses memperkaya uranium. Kemarin harian Inggris The Guardian melaporkan adanya langkah berikutnya. Menurut koran Inggris tersebut, pemerintahan Bush merencanakan akan mendirikan perwakilan diplomatis di Iran, 29 tahun setelah drama penyanderaan di Teheran. Sejauh ini laporan itu belum dibenarkan dan juga belum disangkal. Jurubicara kementrian luar negeri AS, Sean McCormac hanya memberikan keterangan yang sangat umum.
McCormac mengatakan, perundingan intern pemerintah AS tidak akan didiskusikan. Tetapi upaya pemerintah AS di tahun-tahun belakangan memang menunjukkan, bahwa AS ingin mengadakan kontak dengan rakyat Iran. Untuk itu AS akan menempuh berbagai jalan. McCormac menyinggung adanya kantor di Dubai, yang tugasnya mengamati Iran dan melaporkan hasil pengamatan ke departemen luar negeri. "Itu seperti halnya dulu dengan Uni Sovyet, sebelum kami membuka perwakilan diplomatis di sana." Demikian ditambahkan McCormac.
Perwakilan Diplomatis di Teheran
Yang dibicarakan bukanlah kedutaan besar, melainkan perwakilan kecil. Namun demikian, itu hanya dapat dibuka, jika Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad setuju. Dan kabarnya, hal itu sudah disetujui Ahmadinejad di depan sejumlah wartawan beberapa hari lalu. Apakah semua ini menunjukkan peredaan ketegangan, setelah sebelumnya Iran memamerkan kekuatan senjatanya dalam sengketa nuklir, dan dunia internasional mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih berat, jika Iran melanjutkan proses memperkaya uranium? Apakah pemerintahan Bush benar-benar melupakan idenya tentang serangan militer terhadap Iran?
Analis politik Ioannis Saratsis dari Institut Hudson di Washington yang berhaluan konservatif berpendapat, kemungkinan besar rencana itu secara resmi sudah dibatalkan. Menurutnya, dulu di Pentagon ada rencana darurat untuk membom Iran. Tetapi Saratsis memperkirakan, itu tidak akan diadakan lagi. Terutama karena rakyat AS tidak menginginkan hal itu. AS sudah memiliki cukup masalah di Irak, juga Taliban yang terus aktif di Afganistan. AS tidak perlu perang ketiga. Selain itu, analis seperti Saratsis beranggapan, AS tidak akan menang melawan Iran. Karena AS akan berhadapan dengan kekuatan militer yang benar-benar tangguh. Demikian ujar Saratsis.
Perbaikan Hubungan antar Kedua Negara
Seperti halnya dengan Korea Utara, hubungan diplomatik dengan Iran juga akan mulai membaik. Jika itu benar-benar terjadi, kemungkinan karena Presiden Bush mulai memikirkan warisan politiknya di bulan-bulan terakhir masa jabatannya. Dan juga karena ia menginginkan kesuksesan dalam bidang politik luar negeri.
Selain itu, setelah pergulatan dalam kalangan pemerintah AS sendiri, sikap pragmatis Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice nampaknya unggul, terhadap sikap pendukung Wakil Presiden Dick Cheney, yang menginginkan agar Iran dibom. Tetapi kapan diplomat AS dapat menempelkan visa pertama dalam paspor Iran, tetap belum jelas.
Sebaliknya, jurubicara Departemen Luar Negeri AS, Sean McCormac tetap memberikan keterangan yang umum saja. Ia mengatakan, jika pemerintah AS melihat adanya kemungkinan untuk memenuhi kepentingan nasional melalui politik luar negeri, itu tentu akan mereka lakukan. Tetapi semuanya tanpa desakan waktu. Demikian keterangan McCormac. (ml)