260308 Frauen Zukunft
4 April 2008
Kesimpulan itu diperoleh lewat suatu studi yang dijalankan oleh dua lembaga riset atas permintaan salah satu majalah perempuan terkemuka di Jerman, "Brigitte". Bagaimanakah hasilnya?
Masyarakat Jerman harus siap menghadapi 'tipe baru perempuan', yaitu perempuan yang penuh rasa percaya diri. Mereka sadar bahwa hanya dengan memiliki penghasilan sendiri, mereka dapat meraih kebebasan yang lebih luas. Demikian pendapat Jutta Allmendinger, seorang ahli sosiologi yang memimpin studi tersebut. Dikatakannya:
"Dalam hal ini perempuan muda sekarang lebih realistis dari generasi ibu atau generasi nenek mereka. Perempuan muda sekarang ingin berdiri sendiri. Itu dikemukakan oleh lebih dari 90 persen responden, dan ini cukup mencengangkan."
Memilih hanya hidup dalam atau untuk keluarga seperti yang diinginkan selama puluhan tahun sebelumnya, sudah bukan lagi pola kehidupan yang diinginkan oleh perempuan muda di Jerman. Ini berbeda dengan studi yang dijalankan oleh majalah perempuan "Brigitte" tahun 1982. Sekarang, kaum perempuan muda tidak bersedia lagi kalau harus memilih antara profesi atau keluarga. Itu sudah basi. Mereka menginginkan profesi dan keluarga. Tandas Jutta Almendinger selanjutnya:
"Bisa dikatakan kehidupan ala 'putri mawar' pada kaum perempuan sudah hilang. Mereka tidak mau tiba-tiba terbangun dan mengatakan 'wah karir saya memang hebat, tapi saya tidak punya anak' atau sebaliknya 'sekarang saya punya anak, tapi mengabaikan profesi saya'. Mereka ini menghayati kehidupan yang refleksif."
"Lompatan Perempuan" adalah judul dari studi yang dijalankan. Itu juga merupakan motto dari pengambil-alihan tanggung jawab dalam masyarakat. Perempuan juga siap memikul tanggung jawab dalam profesi mereka. Atas pertanyaan apakah mereka lebih suka menjadi sekretaris atau menjadi pimpinan yang mengambil keputusan, sepertiga dari responden menjawab 'sebagai pimpinan'.
Berdasarkan kenyataan itu, kaum pria juga harus mengubah pola pikiran mereka. Demikian kata Jutta Allmendinger.
"Yakni, bahwa perempuan bukan lagi orang yang selalu bersedia berkompromi. Artinya kalau punya anak, maka mereka pastilah akan bekerja setengah hari atau bahkan hanya seperempat hari saja. Mereka berharap kaum pria juga ikut turun tangan. Kalau tidak, maka sebagian besar mengatakan, mereka akan memilih membesarkan sendiri anak-anak mereka."
Menurut pemimpin redaksi majalah "Brigitte", Andreas Lebert, hasil studi itu dapat dikatakan sebagai 'pembelaan bagi kemandirian dan kebebasan'. Dikatakannya:
"Betapa semua itu dikemukakan dan dihayati oleh para perempuan muda sebagai hal yang sudah sewajarnya, inilah yang sangat mencengangkan."
Menurut Jutta Allmendinger, sebagian besar dari perempuan yang menjadi responden dibesarkan oleh para ibu mereka yang juga bekerja setengah hari, atau menjalankan sepenuhnya profesi mereka. Dan ini merupakan pertanda besarnya pengaruh dari perkembangan yang ada sekarang ini.
Jutta Allmendinger menunjuk pula pada perbedaan antara perempuan di wilayah timur dan di barat Jerman. Perempuan Jerman Timur memiliki rasa harga diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan di Jerman Barat. Termasuk dalam menyikapi penampilan diri dan seksualitas mereka. Itu dapat diinterpretasikan sebagai hasil dari pengalaman yang lebih lama dalam mengemban profesi sekaligus memelihara anak.
Atas pertanyaan mengenai kaum perempuan pendatang di Jerman, Allmendinger mengemukakan kesulitan yang banyak dihadapi dalam sistem pendidikan di Jerman, walaupun:
"Kompetensi sosial, kemampuan berartikulasi dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kaum perempuan pada umumnya, hampir tidak berbeda dengan perempuan Jerman. Tetapi masyarakat Jerman yang sangat mengutamakan sertifikat, secara sistematis melakukan kesalahan, karena merintangi kaum perempuan berlatar belakang migrasi. Padahal itu tidak adil terhadap mereka dan pengetahuan yang mereka miliki."
Para perempuan muda yang menjadi responden dalam studi itu merasa kurang mendapat dukungan dari masyarakat. Hanya 16 persen mengatakan, anak dan profesi tidak sulit untuk dipadukan.
Para perempuan yang berpendidikan menyadari makna mereka bagi dunia ekonomi. Hal ini ditonjolkan oleh pemimpin studi tersebut, Jutta Allmendinger. Dikatakannya, mereka itu tidak sungkan untuk pindah lokasi tempat tinggal, bila diperlukan oleh profesinya, termasuk ke luar negeri. Oleh sebab itu mengingat struktur masyarakat yang semakin menua dan kurangnya tenaga kerja yang berkualifikasi tinggi, Jutta Allmendinger menganjurkan agar perusahaan dan masyarakat lebih bersikap fleksibel. (dgl)