1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialGlobal

Perempuan Makin Lihai Berinvestasi?

Kyra Krall
7 Mei 2026

Broker daring mulai memanfaatkan potensi investor perempuan. Ini terlihat dari makin maraknya produk yang dirancang khusus untuk perempuan beserta kampanye pemasarannya.

Gambar ilustrasi Bursa Efek 2025 | Seorang investor perempuan menganalisis pergerakan harga saham di depan komputer.
Broker daring telah berupaya menarik investor perempuan ke platform mereka.Foto: Dragos Condrea/YAY Images/IMAGO

"Hal ini dimulai pada pertengahan 2024,” kata Stephanie Wilks-Wiffen dari eToro, sebuah perusahaan broker daring. Saat itulah ia membaca laporan tahunan Boring Money, yang menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam investasi di Inggris semakin melebar, dengan pria mendominasi hampir 60% dari total investor.

Hal itu menginspirasi eToro untuk mulai mengembangkan kampanye Loud Investing, yang bertujuan untuk mendidik dan memberdayakan perempuan agar berinvestasi. Diluncurkan pada Oktober 2025, ini bukanlah satu-satunya inisiatif yang menargetkan investor perempuan.

Wilks-Wiffen telah memperhatikan peningkatan inisiatif-inisiatif yang dipimpin perempuan selama enam hingga 12 bulan terakhir di berbagai industri. Broker online meluncurkan kampanye merek baru, memproduksi siniar membahas keuangan perempuan, atau mensponsori tim olahraga perempuan.

"Semakin banyak, semakin baik, menurut saya,” jelas Wilks-Wiffen dengan yakin, "Jika pesan kami tidak sampai kepada seseorang, mungkin pesan dari pihak lain di industri lain akan berhasil.”

Perempuan telah lama kurang terwakili di dunia investasi. Saat ini, pria menguasai sekitar dua pertiga saham yang diterbitkan di pasar modal dan perempuan masih menghadapi banyak hambatan dalam berinvestasi. Perempuan umumnya berpenghasilan lebih rendah daripada pria, hal ini membuat mereka memiliki dana lebih sedikit untuk mulai berinvestasi.

Perempuan kerap tidak menerima pendidikan keuangan di masa kecil, yang berakibat pada literasi keuangan yang lebih rendah di kemudian hari.

Secara historis, perempuan juga telah lama dikucilkan dari sektor keuangan. Di Inggris, misalnya, perempuan dilarang masuk ke ruang perdagangan Bursa Efek London dan menghadapi diskriminasi saat mengakses layanan keuangan hingga pertengahan tahun 1970-an, di mana bank-bank mensyaratkan persetujuan dari ayah atau suami hanya untuk membuka rekening.

SukkhaCita: Produksi Berkelanjutan Sambil Perhatikan Hak Asasi

04:35

This browser does not support the video element.

Mengubah narasi soal investor perempuan

"Ini hanyalah perubahan cara penyampaian,” kata Wilks-Wiffen. "Kita perlu menggunakan bahasa yang mengangkat kelebihan yang dimiliki perempuan, seperti kesabaran dan kedisiplinan, serta menciptakan lingkungan di mana perempuan merasa nyaman.”

Contohnya: eToro yang menampilkan lebih banyak pembicara perempuan dalam konten edukasi daringnya dan membahas hambatan-hambatan psikologis yang dihadapi para investor pemula.

Memberikan data bahwa perempuan adalah investor yang cakap juga turut membangkitkan minat perempuan untuk berinvestasi mendobrak kebiasaan industri keuangan yang kerap memberikan laporan seputar keengganan perempuan berhadapan dengan risiko dan kurangnya kepercayaan diri.

"Jika kita memperlakukan orang seperti stereotip, pada akhirnya kita berisiko membuat mereka menjadi stereotip tersebut,” kata Ylva Baeckstrom, dosen senior bidang keuangan di King's College London. Ia mengatakan terlalu banyak penekanan pada kurangnya kepercayaan diri perempuan, padahal sebenarnya, "Justru rasa percaya diri yang berlebihanlah yang merusak kinerja.”

Menurut Baeckstrom, pria lebih cenderung mengalami kerugian melalui perdagangan jangka pendek dan terlalu berkonsentrasi mengambil risiko dibandingkan perempuan. "Ketika perempuan berinvestasi, mereka sering kali mengungguli pria,” katanya. Sebuah studi tahun 2018 oleh Warwick Business School menemukan bahwa perempuan unggul 1.8% dari laki-laki dalam hal investasi.

Perempuan juga memiliki prioritas investasi yang berbeda. Mereka berinvestasi dengan cara yang lebih berkelanjutan dibandingkan laki-laki dan cenderung lebih memperhatikan faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola. "Perempuan memang memandang uang mereka dengan cara yang sangat berbeda. Namun, kami belum melihat kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi,” kata Christine Yu, salah satu pendiri perusahaan pendidikan finansial Sophia.

Perempuan juga lebih cenderung mencari saran atau masukan seputar keuangan daripada laki-laki, terutama saat memasuki tahap kehidupan baru, seperti saat berencana memiliki anak, memasuki proses perceraian, bahkan saat menjanda.

Kekayaan perempuan jadi peluang bagi industri jasa keuangan

Broker daring juga memiliki kepentingan finansial untuk mengintegrasikan perempuan ke dalam daftar pelanggan mereka.

"Meningkatkan tingkat partisipasi investasi perempuan adalah salah satu skenario yang menguntungkan semua pihak,” kata Baeckstrom. Menurut Forum Ekonomi Dunia, industri jasa keuangan (yang mencakup bank, perusahaan broker, dan perusahaan kartu kredit, misalnya) dapat meningkatkan pendapatannya sebesar $700 miliar (Rp12.100 triliun) jika dapat melayani perempuan dengan lebih baik.

Kekayaan perempuan juga diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun mendatang, terutama di Asia. Salah satu alasannya adalah perempuan memperoleh aset melalui transfer kekayaan antargenerasi yang sedang berlangsung, saat generasi baby boomer mewariskan kekayaan kepada anak-anak mereka.

"Ini adalah peluang bagi industri jasa keuangan,” kata Baeckstrom kepada DW. "Mereka perlu meningkatkan layanan mereka kepada perempuan, karena jika tidak, perempuan akan pergi, dan mereka kerap melakukannya saat mewarisi kekayaan.”

Namun, hal ini hanya berlaku bagi segmen kecil masyarakat yang sudah cukup kaya untuk berinvestasi. Meskipun sekitar 60% penduduk AS mengaku berinvestasi di saham, banyak negara mencatat tingkat partisipasi yang jauh lebih rendah di pasar saham. Di Jerman, investor saham mencapai sekitar 20% dari populasi, sedangkan di India sekitar 5% rumah tangga berinvestasi di pasar saham.

'Finfluencer' juga menargetkan calon investor perempuan

Broker online dan platform investasi bukanlah satu-satunya pihak yang menyadari peluang ini. Beberapa tahun terakhir ini juga terjadi peningkatan jumlah pemengaruh finansial atau finfluencer dan komunitas investasi online, yang banyak di antaranya secara khusus menargetkan perempuan.

"Apa artinya hal ini? Ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi,” kata pendiri perusahaan pendidikan finansial Sophia, Yu.

Penyebaran nasihat keuangan secara online juga memiliki risiko, mengingat kurangnya akuntabilitas dan pengawasan regulasi. Hal ini membuat orang rentan terhadap informasi yang salah dan penipuan.

Bagaimana menjembatani kesenjangan investasi berdasarkan gender?

Seberapa efektifkah broker daring dalam menjangkau investor perempuan? Dan apakah perempuan semakin terlibat dalam pasar saham?

Kesenjangan investasi berdasarkan gender memang lebih kecil di kalangan generasi muda, kata Leah Zimmerer, seorang peneliti postdoc di Universitas Mannheim. Institut Saham Jerman mengonfirmasi bahwa hal ini terjadi di Jerman. Faktanya, lebih banyak perempuan yang mulai berinvestasi di pasar saham daripada laki-laki di Jerman pada tahun 2025. Namun, besarannya adalah 5,4 juta perempuan dibandingkan dengan 8,7 juta laki-laki yang berinvestasi di Jerman.

Generasi muda juga lebih terbuka terhadap broker online. Orang berusia antara 18 dan 30 tahun lebih cenderung berinvestasi, kata Zimmerer. Menurut Institut Saham Jerman, kelompok usia di bawah 40 tahun adalah kelompok usia dengan investasi terbanyak di pasar saham di Jerman. Dan menurut firma J.P. Morgan, partisipasi di pasar saham di kalangan orang Amerika berusia 25 tahun naik dari 6% pada tahun 2015 menjadi 37% pada tahun 2024.

Saat kaum muda berjuang menghadapi inflasi, tingginya biaya hidup, dan kekhawatiran tentang jaminan pensiun, mereka semakin mengambil tindakan sendiri. Pasar keuangan juga menjadi lebih mudah diakses melalui platform investasi dan informasi online. Terutama sejak pandemi COVID, aplikasi perdagangan online seperti Robinhood, Webull, dan Fidelity Investments mendapat lonjakan unduhan.

Akankah perempuan Generasi Z aktif dan akan terus berinvestasi?

Namun, para ahli mengingatkan agar tidak mengambil kesimpulan terburu-buru.

Meskipun perempuan muda memilih untuk berinvestasi lebih banyak, hal itu tidak berarti mereka akan terus melakukannya sepanjang hidup mereka, kata Zimmerer. Ia menyoroti bahwa kesenjangan investasi berdasarkan gender semakin melebar seiring bertambahnya usia dan mencapai puncaknya ketika perempuan berusia antara 40 dan 50 tahun, periode di mana perempuan terikat pada kehidupan keluarga dan cenderung kurang mengelola keuangan mereka sendiri.

Kemudian, ketika perempuan mengalami perceraian atau menjadi janda, misalnya, kesenjangan investasi gender kembali menyempit. Belum jelas apakah perempuan Generasi Z akan terus berinvestasi dengan tingkat yang lebih tinggi seiring bertambahnya usia, atau apakah mereka akan mengikuti pola siklus hidup generasi sebelumnya.

Baeckstrom turut skeptis: "Kita ‘jangan terbuai' dengan kemungkinan tren jangka pendek ini, nemproyeksikannya menjadi fenomena jangka panjang,” katanya. "Kita perlu melakukan perbaikan besar-besaran untuk menciptakan kesetaraan.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih

Kunci Keberhasilan Pengusaha Perempuan India

04:11

This browser does not support the video element.