1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pergantian Kekuasaan di Rusia

as7 Mei 2008

Dmitri Medvedev sudah dilantik menjadi presiden Rusia. Tapi tangan kekuasaan Vladimir Putin justru semakin kokoh dan kuat.

Russland Präsident Wladimir Putin und Dmitri Medwedew
Medvedev dan Putin dua kutub kekuatan yang kini berkuasa di Kremlin.Foto: AP

Pergantian kepala negara di Rusia dikomentari dengan tajam sejumlah harian internasional.

Harian liberal kiri Inggris The Independent yang terbit di London dalam tajuknya berkomentar :


Bayangan Putin yang semakin panjang menutupi kekuasaan Medvedev. Putin tidak mundur, melainkan menjadi seorang PM yang amat berkuasa. Belum jelas, apakah presiden baru Rusia ini dapat melakukan perubahan. Akan tetapi sejumlah perubahan tidak dapat dihindarkan lagi. Terlalu gampangan jika menggambarkan Medvedev hanya sebagai bonekanya Putin. Jabatan presiden Rusia terkait dengan kekuasaan amat besar. Di Rusia dimulai fase baru setelah zamannya Uni Sovyet. Tapi era kekuasaan Putin memang belum berakhir.


Harian Perancis La Croix yang terbit di Paris berkomentar :

Di Rusia jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Tapi mereka tidak ragu memilih, antara oposisi yang terpecah-pecah dengan penguasa mapan di Kremlin. Mayoritas pemilih di Rusia berpihak kepada tokoh yang kuat dan menolak sopan-santun palsu. Korupsi yang melanda negara itu, dinilai sebagai masalah sekunder. Memang situasi yang menyedihkan. Dan itu akan terus berlangsung, hingga kesemrawutan di Kremlin, apakah itu dipicu Medvedev atau Putin membangkitkan perlawanan rakyat.


Sementara harian Jerman Stuttgarter Zeitung yang terbit di Stuttgart berkomentar :

Presiden dan PM ibaratnya bisa bermain bola bersama. Dampaknya, Medvedev dapat berakhir karirnya hanya sebagai boneka, dimana Putin menarik kendalinya secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Atau bisa saja kedua tokoh itu terus mengadu kekuatan, hingga negaranya menjadi lumpuh. Memang delapan tahun masa jabatan Putin sebagai presiden, memberikan sedikit kemajuan bagi rakyatnya. Tapi jangan dilupakan negara itu juga menghadapi segunung masalah. Dan peramasalahan hanya dapat dipecahkan jika kedua pemimpin itu tetap bekerjasama.


Dan terakhir harian Jerman lainnya Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar :

Bagi kelompok intelektual, era perang dingin terasa lebih nyaman. Ketika itu bukan kecintaan terhadap Moskow yang membuat mereka membela Uni Sovyet. Melainkan kecenderungan bersama untuk menentang Washington. Sekarang situasinya berbeda. Diperlukan lebih banyak keberanian, rasa percaya diri dan menanggapi sesuatu lebih santai. Itulah tiga syarat utama untuk menghadapi kekuasaan ganda di Kremlin, dari Medvedev dan dari Putin. Era dimana barat memandang dengan melankolis terhadap teater yang dimainkan Rusia, kini harus diakhiri.