Pergantian Pemerintahan di Jerman
24 November 2005
Sejak hari Selasa (22/11) Angela Merkel menjadi kanselir perempuan pertama dalam sejarah Republik Federal Jerman. Tidak hanya kepala negara dan pemerintahan Eropa mengucapkan selamat kepada Angela Merkel, tapi harian-harian di Eropa juga menyorot pergantian pemerintahan di Jerman itu. Harian Kleine Zeitung yang terbit di Austria menulis:
"Untuk pertamakalinya Jerman memiliki kanselir perempuan, untuk keduakalinya Jerman memiliki koalisi besar. Secara formal hari Selasa lalu adalah hari bersejarah. Dalam sepuluh tahun mendatang Jerman akan kembali menjadi tiga negara terbesar di Eropa. Itulah sasaran yang dicanangkan Merkel. Jika ia dengan timnya berhasil mengusulkan jalan ke arah itu dan dalam empat tahun ke depan melancarkan reformasi besar dan melaksanakannya, maka hari pemilihannya sungguh merupakan momentum bersejarah. Tidak saja secara formal tapi juga bobotnya."
Sementara harian Denmark berhaluan liberal kiri Information menulis:
"Dengan pengangkatan Angela Merkel sebagai kanselir, dimulai era baru, yang sejak awalnya sudah unik. Merkel menjadi kepala pemerintahan pertama perempuan di negaranya, orang Jerman Timur pertama yang berada di pucuk pimpinan dan ia memimpin koalisi pemerintahan konservatif dan sosial demokrat yang tidak pernah ada sejak 1969. Periode pemerintahannya tidak akan mudah. Harus dilakukan penghematan secara drastis. Mitra koalisinya harus melaksanakan keputusan, yang sebenarnya tidak sesuai dengan program partainya. Hal ini dapat menimbulkan konfrontasi hebat. Tapi yang menentukan adalah petunjuk bahwa pemerintahan Merkel berada dalam situasi yang sangat sulit. Program CDU/CSU dan SPD bertolak belakang. Hanya bersama-sama mereka dapat mencapai hasil yang konkrit. Dan merebut kembali kepercayaan para pemilih, yang dalam pemilu dua bulan lalu melakukan penolakan."
Pembentukan koalisi besar di Jerman menimbulkan kekaguman dan rasa iri di Spanyol. Demikian ditulis harian Spanyol El Mundo.
"Kedua partai besar mengesampingkan kepentingan masing-masing dan berfusi membentuk suatu pemerintah, demi kepentingan masyarakat. Kasta politik di Jerman memberi pelajaran bagi dunia. Gerhard Schröder yang paling mengalami kekalahan, adalah yang pertama kali berdiri dan memberi selamat kepada Angela Merkel. Dengan demikian ia membuktikan jiwa besar dan kemampuannya. Meskipun hasil yang diraih Schröder dalam pemilu Jerman tidak terlalu buruk, ia lebih mendahulukan menyerahkan mandat parlemennya dan membuka jalan ke pergantian pemerintahan. Dengan ini Schröder menunjukkan sebuah contoh yang jarang terlihat."
Pemilihan bersejarah kanselir perempuan pertama di Jerman yang juga berasal dari Timur, demikian ditulis Harian Swiss Berner Zeitung. Lebih lanjut harian ini berkomentar:
"Tapi sungguh aneh, jika pada hari pemilu dua bulan lalu Angela Merkel masih menimbulkan sensasi ganda, sekarang dia seolah-olah sebagai solusi darurat ganda. Karena dengan perundingan kekuasaan yang alot selama beberapa pekan daya sulapnya hilang. Musuh menjadi kawan dan kawan beralih menjadi lawan. Angela Merkel berada di tujuan penggalan jalan yang berbatu dan tidak menentu. Tapi apa yang sekarang dimulai adalah tarian akrobat di atas tali, di antara dan di atas situasi politik. Itulah resiko Merkel yang sekaligus juga kesempatannya."
Sementara itu harian Swiss lainnya Der Bund menulis:
"Kurangnya suara bulat koalisi sejak awal kegiatan pemerintahan bersama, memang bukan kecelakaan dan bukan juga langkah awal yang salah. Tapi merupakan petunjuk terutama dari jajaran Partai SPD, dimana tidak semua hidangan yang disajikan, sama seperti yang dimasak bersama di dapur. Bahwa sekarang Angela Merkel yang menjadi kanselir, bukan hal yang sepantasnya."