1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikPrancis

Hari Bastille: Prancis Demonstrasikan Dukungan bagi Ukraina

14 Juli 2026

Prancis mengenang hari kemenangan revolusi pada Selasa (14/07) dengan menampilkan parade khusus sebagai bentuk solidaritas terhadap Ukraina.

Emmanuel Macron & Fabien Mandon di parade militer untuk hari libur nasional
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kepala Militer Fabien Mandon di parade militer pada hari libur nasionalFoto: Ludovic Marin/AFP

Parade militer berskala besar digelar di Kota Paris, di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron serta sejumlah tamu penting dari berbagai negara.

Acara  akbar tersebut menampilkan aksi pasukan dan pesawat tempur dari negara-negara Eropa yang tergabung dalam "Koalisi Negara-Negara Pendukung" sebagai bentuk dukungan kepada Ukraina, yang hingga kini masih bertahan menghadapi invasi Rusia yang terus berlanjut.

Pesawat-pesawat tempur Prancis melintas di atas Avenue des Champs-Élysées sambil meninggalkan jejak asap berwarna biru, putih, dan merah—warna bendera nasional Prancis.

Perayaan tahun ini menjadi Hari Bastille terakhir bagi Emmanuel Macron sebagai presiden. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy hadir sebagai tamu kehormatan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga turut menghadiri acara tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya pernah menghadiri perayaan Hari Bastille secara langsung, menyampaikan ucapan selamat kepada pemimpin Prancis itu melalui media sosial.

Perayaan ini berlangsung ketika Amerika Serikat—yang dahulu mendapat bantuan dari Prancis dalam perjuangannya meraih kemerdekaan dari Inggris—sedang memperingati hari jadi ke-250.

"Menatap 250 tahun berikutnya, Amerika Serikat berharap dapat semakin mempererat hubungan dengan Prancis, yang didasarkan pada komitmen bersama terhadap kebebasan, perdamaian, dan kemakmuran," ujar Trump.

Perayaan Hari Bastille di tengah cuaca yang sangat panas

Hari libur nasional ini berlangsung ketika Prancis telah beberapa kali dilanda gelombang panas mematikan sepanjang tahun ini. Di Paris, suhu pada hari Rabu diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius.

Kebakaran hutan juga terjadi di wilayah selatan Paris, dekat Fontainebleau, serta di sejumlah daerah lain di Prancis.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di parade militer Bastille.Foto: Tom Nicholson/REUTERS

Perayaan Hari Bastille tahun ini juga bertepatan dengan 10 tahun sejak serangan teroris di Kota Nice, Prancis selatan.

Pada tahun 2016, sebuah truk kontainer menabrak kerumunan warga yang sedang merayakan Hari Bastille di kawasan promenade tepi Laut Mediterania di Nice, menewaskan 86 orang. Serangan yang dilakukan oleh seorang warga Tunisia yang tinggal di Prancis itu kemudian diklaim oleh kelompok  Negara Islam (ISIS).

Hari Bastille, yang dalam bahasa Prancis dikenal sebagai La Fête Nationale Française, diperingati setiap tanggal 14 Juli untuk mengenang penyerbuan ke Benteng Bastille pada tahun 1789. Bastille merupakan benteng sekaligus penjara peninggalan abad pertengahan. Penyerbuan terhadap fasilitas kerajaan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling penting yang menandai dimulainya Revolusi Prancis.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan istri Olena Zelenska di parade militer Paris. Ia hadir sebagi tamu kehormatan.Foto: Benoit Tessier/REUTERS

Pembentukan koalisi antirudal balistik

Ukraina dan sembilan negara lainnya telah mengumumkan pembentukan koalisi untuk melindungi Eropa dari rudal balistik, dengan memanfaatkan pengalaman Kyiv dalam menghadapi Rusia.

Kesepakatan yang dicapai pada hari Senin  (13/07) tersebut dihasilkan dalam pertemuan di Paris yang juga dihadiri oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Dalam sebuah pernyataan, negara-negara tersebut menyatakan bahwa "tujuan kami adalah membangun kemampuan pertahanan rudal balistik bersama untuk Eropa."

Zelenskyy meminta bantuan kepada sekitar dua puluh empat pemimpin Eropa untuk mengembangkan langkah-langkah penangkalan terhadap rudal balistik Rusia, yang terus menghantam negaranya sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh pada tahun 2022. Pernyataan tersebut tidak mencantumkan kerangka waktu untuk pembentukan sistem pertahanan ini, namun menyebutkan bahwa rencana tersebut tetap terbuka bagi negara-negara lain untuk bergabung.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha