Perkembangan Energi Surya Global Melejit, Lampaui Perkiraan
1 April 2026
Selama lebih dari dua dekade, pembangkit listrik tenaga surya kini tumbuh lebih pesat. Sebelumnya, pembangkit listrik tenaga surya tergolong mahal dan jarang digunakan.
Saat ini, panel surya menghasilkan listrik termurah di beberapa wilayah di dunia:
- 2015, kapasitas terpasang secara global mencapai 228 gigawatt (GW), sekitar 1% dari pasokan listrik global.
- 2020, kapasitas terpasang mencapai 759 GW, sekitar 3% dari kebutuhan listrik global.
- 2025, diperkirakan akan mencapai 2.919 GW, mencakup sekitar 10% dari pasokan listrik global. Ini berarti untuk pertama kalinya melebihi tenaga nuklir (9% pasokan listrik global).
Tenaga surya pun terus tumbuh signifikan. Jika tren ini berlanjut, pada tahun 2030 kapasitas terpasang bisa mencapai 9.000 GW, cukup untuk memenuhi lebih dari 20 % kebutuhan listrik global.
‘Ledakan' kapasitas PLTS di Cina
Cina memiliki kapasitas tenaga surya terbesar di dunia. Menurut badan energi Cina, pada tahun 2025 telah dipasang modul surya baru dengan kapasitas 315 GW. Total kapasitas tenaga surya di penghujung tahun tersebut mencapai sekitar 1.300 GW.
Menurut data dari platform LowCarbon Power, saat ini 11% pasokan listrik Cina berasal dari energi surya. Pada saat yang sama, presentase batu bara yang sangat merusak iklim turun dari 70% menjadi 56% dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Cina juga memproduksi lebih dari 80% modul surya yang dipasok ke seluruh dunia.
Uni Eropa ikut genjot PLTS
Uni Eropa menempati peringkat kedua dalam pengembangan energi surya dengan kapasitas sekitar 406 GW. 13% dari kebutuhan listrik di seluruh UE dipenuhi oleh tenaga surya. Listrik dari batu bara kini hanya menyumbang sembilan persen. Pada tahun 2015, angkanya masih 25%.
Yunani, Siprus, Spanyol, dan Hungaria mencapai porsi tenaga surya yang sangat tinggi, masing-masing lebih dari 20% dalam bauran listriknya. Jerman pun sudah menghasilkan 18% listriknya dari tenaga surya dengan kapasitas pembangkit 119 GW. Diikuti oleh Spanyol dengan kapasitas terpasang 56 GW.
AS duduki peringkat ketiga dunia
Meskipun pemerintahan Donald Trump saat ini menunda pengembangan energi terbarukan, AS tetap berada di peringkat ketiga dunia dalam pengembangan tenaga surya dengan kapasitas 267 GW.
Hal ini cukup untuk memenuhi sekitar delapan persen kebutuhan listrik AS. Pada tahun 2015, angkanya hanya satu persen. Pada saat yang sama, proporsi listrik dari pembangkit batu bara berkurang setengahnya dari 34% pada tahun 2015 menjadi hanya 17% pada tahun 2025.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kapasitas kumulatif panel surya Indonesia sepanjang tahun 2025 berada di angka 1.49 GW.
Fabby Tumiwa, CEO Institut for Essential Service Reform, dalam interview pada PV Magazine menyatakan bahwa kondisi ini kemungkinan akan berlanjut sepanjang tahun 2026 dikarenakan "Progres pengadaan yang lambat dari PLN dan kurangnya insentif yang diberikan kepada pengguna panel surya rumah tinggal karena dihapusnya mekanisme net metering (red. Sistem yang memungkinkan mengirim kelebihan listrik ke jaringan PLN untuk mengurangi tagihan).”
Sedangkan potensi teknis energi surya di Indonesia menurut Indonesia Energy Transition Outlook 2026 yang diterbitkan oleh IESR bisa mencapai 7,7 terrawatt (TW) menunjukkan peluang besar untuk ekspansi kapasitas jauh melampaui realisasi saat ini jika didukung dengan kerangka kebijakan, pembiayaan, dan implementasi yang tepat.
PLTS berkembang pesat di India, Brasil, dan Pakistan
India menempati peringkat keempat dalam peringkat tenaga surya global. Dengan kapasitas 136 GW, negara ini menghasilkan sekitar 8% kebutuhan listrik bagi lebih dari 1,4 miliar penduduknya dengan tenaga surya.
Di peringkat kelima diikuti oleh Jepang dengan kapasitas 103 GW dari panel surya yang memenuhi 11% kebutuhan listrik nasionalnya.
Brasil juga memperluas pembangkit tenaga surya secara signifikan. Dengan 65 GW listrik dari tenaga surya mengisi 10% bauran listrik nasional. Jika digabungkan dengan tenaga air, tenaga angin, dan biomassa, porsi energi terbarukan dalam campuran listrik Brasil sudah mencapai 88%.
Seberapa cepat tren pembangkit listrik tenaga surya terus berkembang, dapat dilihat perkembangannya di Afrika Selatan dan Pakistan.
Pada tahun 2015, kurang dari 1% listrik di kedua negara tersebut berasal dari panel surya. Pada tahun 2025, Afrika Selatan telah memenuhi 10% kebutuhan listriknya melalui energi surya dengan kapasitas 10 GW. Pakistan menghasilkan sekitar 20% listriknya dari tenaga surya dengan kapasitas lebih dari 40 GW.
Tenaga surya bikin listrik lebih murah
Matahari memancarkan lebih banyak energi ke Bumi dalam satu jam daripada yang dikonsumsi umat manusia dalam satu tahun penuh. Dengan panel surya di kurang dari satu persen luas daratan global, kebutuhan energi dunia dapat terpenuhi sepenuhnya.
Berkat efisiensi panel yang lebih tinggi dan produksi massal, harga sistem tenaga surya telah turun sekitar 90% dalam beberapa tahun terakhir.
Pembangkit listrik tenaga surya berskala besar di daerah pedesaan yang sangat cerah sudah menghasilkan listrik dengan harga sekitar satu sen euro per kWh (Rp200/kWh). Di Jerman, angka ini berkisar antara empat hingga lima sen(Rp1.000/kWh). Sedangkan di negara-negara yang kurang cerah biasanya di bawah sembilan sen per kWh (Rp1.800/kWh).
Bloomberg New Energy Finance memperkirakan bahwa biaya pembangkitan listrik tenaga surya di seluruh dunia akan turun sebesar 30% lagi hingga tahun 2035.
Sebagai perbandingan, listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir baru jauh lebih mahal. Menurut Institut Fraunhofer ISE, biayanya berkisar antara 14 hingga 49 sen euro per kWh (Rp2.800-9.800/kWh). Biaya pembuangan akhir limbah radioaktif belum termasuk dalam perhitungan tersebut.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berharga antara 15 dan 29 sen (Rp3.000-5.800/kWh), sedangkan yang berbahan bakar gas alam berharga antara 15 dan 33 sen per kWh(Rp3.000-6.600/kWh). Jika biaya dampak iklim dimasukkan, harganya menjadi setidaknya 84 sen untuk batu bara (Rp16.800/kWh) dan lebih dari 49 sen (Rp9.800/kWh) untuk gas.
Berdampak pada sektor lainnya
Pada tahun 2024, pembangkit listrik baru dengan kapasitas total 632 GW terhubung ke jaringan di seluruh dunia. 72% (597 GW) di antaranya berasal dari tenaga surya. Disusul oleh tenaga bayu (18%), gas (4%), batu bara (3%), tenaga air (2%), dan tenaga nuklir (1%).
Tenaga surya juga mengubah mobilitas dan pemanasan. Mobil listrik jauh lebih murah dalam pengoperasiannya jika diisi daya dengan tenaga surya dari atap rumah sendiri. Di Jerman, hal ini menghemat 80% dibandingkan dengan menggunakan bensin.
Pemanasan atau AC juga umumnya lebih hemat daripada menggunakan minyak atau gas. Di Uni Eropa, penghematan yang diperoleh mencapai sekitar 30%. Jika listrik juga dihasilkan dari panel surya milik sendiri, biayanya akan semakin berkurang.
Seberapa cepat perkembangan tenaga surya?
Banyak perkiraan sebelumnya telah sangat meremehkan pertumbuhan fotovoltaik. Laporan World Energy Outlook dari Badan Energi Internasional pada tahun 2020 memperkirakan bahwa penambahan kapasitas PV global pada tahun 2024 akan mencapai sekitar 120 GW. Namun, pada kenyataannya, kapasitas yang terpasang mencapai 597 GW.
Para ahli energi saat ini memperkirakan bahwa PLTS akan menjadi sumber energi terpenting di dunia. Para ilmuwan dari Universitas Teknologi Lappeenranta menghitung bahwa di masa depan, hingga 76% listrik dapat berasal dari tenaga surya.
Tantangan terbesar PLTS
Para ahli memperkirakan bahwa kebutuhan listrik global akan lebih dari dua kali lipat pada tahun 2050. Untuk itu, diperlukan perluasan jaringan listrik yang menampung listrik dari tenaga surya, termasuk penyimpanan sementara listrik tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Arti Ekawati