Aktivis hak-hak perempuan mengatakan tes kesehatan genitalia hanya boleh dilakukan secara bertanggung jawab, hanya untuk memeriksa kehamilan, kanker, atau infeksi seksual menular.
Ilustrasi petugas medis memakai sarung tangan karet Foto: Colourbox
Iklan
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa baru-baru ini menyatakan kepada media bahwa tes keperawanan bagi para calon prajurit perempuan perempuan kini sudah tidak berlaku lagi. Tapi ia mengatakan tetap ada pemeriksaan genitalia luar, abdomen, genitalia dalam.
Selama puluhan tahun, ribuan calon prajurit perempuan di Indonesia telah mendapatkan perlakuan yang dinilai diskriminatif dalam proses perekrutan. Mereka perlu menjalani 'tes keperawanan' yang dianggap para aktivis hak-hak perempuan sebagai perlakuan yang menghina dan tidak punya dasar ilmiah.
Tes keperawanan dinilai sebagai praktik invasif memasukkan dua jari ke dalam vagina untuk dapat menilai apakah seorang perempuan sebelumnya pernah berhubungan seks - suatu tes yang dilakukan TNI dan lembaga kepolisian selama puluhan tahun untuk menilai moralitas seseorang.
Keputusan meniadakan tes ini disambut baik oleh banyak pihak, salah satunya oleh aktivis perempuan yang juga purnawirawan polisi wanita dan pernah menjalani tes kontroversial tersebut.
"Tentu saja saya bersyukur. Meski sebetulnya sangat terlambat. (Kalau) di zaman begini masih ada tes keperawanan perempuan untuk menentukan kelulusan rekrutmen profesi, itu pasti absurd dan menjadi tertawaan orang.... Nah itu 'kan merusak dan menjatuhkan citra," kata purnawirawan polwan itu kepada DW Indonesia.
Iklan
Puluhan tahun berlalu, rasa sebal masih ada
Andreas Harsono, peneliti di lembaga nonpemerintahan Human Rights Watch, menjelaskan bahwa tes keperawanan tidak hanya menciptakan rasa malu, tetapi juga memiliki efek jangka panjang dan berdampak buruk terhadap kepercayaan diri orang yang menjalaninya.
Kepada DW Indonesia Andreas menceritakan kisah seorang pensiunan perwira Angkatan Udara (AU) yang mengatakan bahwa empat tahun setelah menjalani tes keperawanan, traumanya muncul kembali saat dia menjalani bulan madu di Bali. Badannya menjadi kaku sekali dan dia menangis sepanjang malam, tutur Andreas.
Dampak psikologis tidak hanya memengaruhi kepercayaan diri perempuan, tetapi juga kepercayaan mereka terhadap sistem hukum di Indonesia, kata Andreas. "Kepercayaan mereka terhadap sistem hukum di Indonesia jadi apatis. Mereka tidak percaya bahwa sistem ini akan adil pada perempuan," Andreas mengatakan kepada DW Indonesia.
Perasaan telah diperlakukan secara tidak adil juga masih kerap menghampiri Irawati Harsono, purnawirawan Polwan yang pernah menjalani tes keperawanan puluhan tahun yang lalu. Di tahun 1964, Irawati Harsono mengaku pernah menjalani tes keperawanan di RS Polri Kramat Jati. "Sejak awal saya sebel dan penuh tanda tanya karena merasakan diperlakukan tidak adil, karena laki-laki tidak melakukan tes keperawanan," ujar Irawati.
"Mengapa tidak melakukan tes psikologis yang bisa diterapkan bagi calon perempuan maupun pria? Apa yang harus bermoral itu cuma polisi wanita dan polisi laki-laki tidak?" kata Irawati kepada DW Indonesia.
6 Mitos Keperawanan
Apakah keperawanan seorang perempuan bisa diketahui lewat bentuk fisiknya? Berikut beberapa mitos tentang keperawanan yang sudah berkembang sejak lama dan dipercaya banyak orang.
Foto: Colourbox/L. Dolgachov
Tidak Berdarah
Jika seorang perempuan tidak mengeluarkan darah saat berhubungan seks untuk pertama kalinya bukan berarti bahwa ia tidak perawan lagi. Tebalnya selaput dara pada setiap perempuan berbeda. Menurut penelitian, bahkan ada juga perempuan yang tidak memiliki selaput dara. Selaput dara bisa robek bukan saja karena hubungan seksual, tapi juga bisa dikarenakan kecelakaan atau olahraga.
Foto: mekcar - Fotolia.com
Wajah Kusam
Perempuan yang tidak perawan berwajah kusam? Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa perawan atau tidaknnya seorang perempuan bisa dilihat dari wajahnya. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan wajah tidak berseri, seperti pola makan, perkembangan hormon yang tidak seimbang, pemakaian kosmetik yang tidak sesuai dengan jenis kulit dan juga kekurangan vitamin A dan B.
Foto: Fotolia/evgenyatamanenko
Jalan Mengangkang
Bahwa seorang perempuan jalannya mengangkang karena sudah tidak perawan adalah mitos belaka. Cara jalan seseorang dipengaruhi banyak faktor, seperti bentuk tulang kaki, tulang pinggul dan juga lingkar paha.
Foto: Colourbox/L. Mouton/AltoPress/Maxppp
Pinggul Membesar
Hubungan seks tidak membengaruhi bentuk badan perempuan. Selain kehamilan, perubahan ukuran pinggul perempuan dipengaruhi oleh gaya hidup dan faktor makanan.
Foto: Colourbox/marin
Payudara atau Pantat Kendur
Hubungan antara perawan dan tidak perawan tidak bisa diukur dari ukuran dan bentuk payudara atau pantat. Jadi jika seorang perempuan memiliki payudara yang kendur bukan berarti ia tidak perawan. Ukuran dan bentuk payudara dipengaruhi ukuran tubuh seseorang dan juga faktor keturunan, hormon serta gizi.
Foto: Fotolia/Forgiss
Urin Lebih Keruh
Kehamilan bisa diketahui lewat tes urin. Tapi tidak ada teori bahwa warna urin bisa dijadikan patokan apakah seorang perempuan masih perawan atau tidak. Warna urin dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang kita konsumsi, juga oleh beberapa jenis obat-obatan.
Foto: Imago
6 foto1 | 6
Tes genitalia masih tetap dilakukan
Pada Juli lalu Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakan kepada para komandannya di jajaran TNI AD bahwa pemeriksaan dalam proses rekrutmen untuk prajurit Korps Wanita TNI AD harus sama dengan tes kesehatan prajurit pria. Selain itu, para calon istri prajurit pun tidak perlu menjalani pemeriksaan tes keperawanan sebagai persyaratan untuk menikah.
Walau disambut positif oleh banyak pihak, perdebatan tentang perlu atau tidaknya tes genitalia ini tetap terjadi di antara kalangan aktivis hak asasi. Irawati Harsono yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menghapuskan tes keperawanan merasa bersyukur atas keputusan ini. Namun dia mengingatkan bahwa tes genitalia sebetulnya masih dilakukan di TNI sebagai rangkaian tes kesehatan organ reproduksi.
"Test genital itu perlu dan berlaku bagi perempuan dan laki-laki, artinya penis laki-laki juga diperiksa dengan teliti karena tidak boleh ada penyakit yang bisa ditularkan," kata Irawati.
Sementara itu Ketua Komnas Perempuan Andi Yentriani mengatakan bahwa tes kesehatan terkait genitalia hanya boleh dilakukan dengan bertanggung jawab dan hanya untuk memeriksa kehamilan, kanker, atau infeksi seksual menular. Dia mempertanyakan mengapa TNI tidak menyediakan fasilitas pemeriksaan ini untuk seluruh prajurit perempuan, tapi hanya ada pemeriksaan wajib bagi calon prajurit.
"Saya berharap bahwa tes serviks itu bisa disediakan bagi semua perempuan secara gratis dan massal karena kanker serviks itu paling banyak dialami oleh perempuan tetapi kanker ini paling sedikit disadari," ujar Andi Yentriani kepada DW Indonesia.
Berbeda dengan Irawati dan Andi, Andreas Harsono justru mengatakan bahwa tes ini tidak diperlukan sama sekali, kecuali calon prajurit memberi keluhan medis terkait sistem reproduksinya.
Akrobat Panglima Menuju Istana
Berulangkali manuver Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyudutkan Presiden Joko Widodo. Sang jendral ditengarai memiliki ambisi politik. Inilah sepak terjang Nurmantyo membangun basis dukungan jelang Pemilu 2019.
Foto: Reuters/Beawiharta
Wacana Tentara Berpolitik
Ambisi politik Gatot Nurmantyo sudah tercium sejak akhir 2016 ketika dia mewancanakan hak politik bagi anggota TNI. Menurutnya prajurit saat ini seperti "warga asing" yang tidak bisa berpolitik. Ia mengaku gagasan tersebut cepat atau lambat akan terwujud. "Ide ini bukan untuk sekarang, mungkin 10 tahun ke depan, ketika semua sudah siap."
Foto: Reuters/Beawiharta
Petualangan di Ranah Publik
Bersama Nurmantyo, TNI berusaha kembali ke ranah sipil. Lembaga HAM Imparsial mencatat Mabes TNI menandatangani "ratusan" kerjasama dengan berbagai lembaga, termasuk universitas dan pemerintah daerah. TNI tidak hanya dilibatkan dalam urusan pemadaman kebakaran hutan, tetapi juga pertanian dan pembangunan infrastruktur seperti pada proyek pembangunan jalan Transpapua.
Foto: Imago/Zumapress
Menggoyang Otoritas Sipil
Februari silam Nurmantyo mengeluhkan pembatasan kewenangan panglima TNI dalam hal pengadaan senjata. Pasalnya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengeluarkan peraturan yang mengembalikan kewenangan pembelian sistem alutsista pada kementerian. Dengan ucapannya itu Nurmantyo dinilai ingin mengusik salah satu pilar Reformasi, yakni UU 03/2002 yang menjamin otoritas sipil atas militer.
Foto: Reuters/Beawiharta
Polemik Dengan Australia
Akhir Februari Nurmantyo secara mendadak membekukan kerjasaman pelatihan militer dengan Australia. Keputusan Mabes TNI dikabarkan mengejutkan Istana Negara. Presiden Joko Widodo akhirnya mengambil sikap mendukung keputusan Nurmantyo dan ikut memperingatkan Australia. Namun sejumlah pejabat tinggi di Canberra menilai kasus tersebut selayaknya diselesaikan tanpa keterlibatan publik.
Foto: Imago/Zumapress
Genderang Xenofobia dari Cilangkap
Bukan kali pertama Nurmantyo membidik Australia. Oktober 2016 dia menyebut negeri jiran itu terlibat dalam "perang proxy" melawan Indonesia di Timor Leste dengan tujuan "memecah belah bangsa." Ia juga mengklaim ancaman terbesar terhadap Indonesia akan berasal dari kekuatan asing yang "berebut energi dari negara equator yang kaya sumber daya alam."
Sejak berakhirnya Pilkada DKI Nurmantyo juga aktif mendekat ke kelompok konservatif muslim. Ketika Kapolri Tito Karnavian mengklaim kepolisian menemukan indikasi makar pada aksi demonstrasi 212 di Jakarta, Nurmantyo mengatakan dirinya "tersinggung, karena saya umat muslim juga." Panglima juga berulangkali memuji pentolan FPI Rizieq Shihab sebagai sosok yang "cinta Indonesia."
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Teladan di Astana Giribangun
Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia yang disebarkan kelompok Islam konservatif dan sejumlah tokoh seperti Kivlan Zein dan Amien Rais disambut Nurmantyo dengan mewajibkan prajurit TNI untuk menonton film propaganda orde baru Pengkhianatan G30-S PKI. Setelah melontarkan wacana tersebut, Nurmantyo mengunjungi makam bekas Presiden Soeharto yang menurutnya patut menjadi "tauladan" prajurit TNI
Foto: picture-alliance/dpa
Peluru Panas ke Arah Istana
Polemik terakhir yang dipicu Panglima TNI adalah isu penyelundupan senjata api sebanyak 5500 pucuk. Ia mengklaim laporan tersebut berasal dari data akurat dinas intelijen. Pemerintah mengklarifikasi pembelian itu untuk Kepolisian dan Badan Intelijen Negara. Namun Nurmantyo enggan meluruskan pernyataannya tersebut. (rzn/yf-sumber: antara, detik, cnnindonesia, kompas, tempo, aspi, ipac)
Foto: picture-alliance/Photoshot/A. Kuncahya
8 foto1 | 8
Panglima TNI diminta terbitkan kebijakan tertulis
Meski langkah KSAD menghapuskan tes keperawanan sudah diambil, beberapa kalangan masih meragukan bahwa kebijakan ini akan tetap berlaku di masa depan. Karena itu, aktivis perempuan berharap adanya peraturan tertulis dari panglima TNI untuk menetapkan kebijakan ini.
Irawati Harsono mengenang bahwa pada tahun 1980-an tes keperawanan di kalangan kepolisian pernah dihapuskan. Namun peraturan ini hanya bertahan dua tahun, lalu pada tahun berikutnya praktik diskriminatif tersebut kembali berlaku.
Andi Yentriani dari Komnas Perempuan pun mendorong agar panglima TNI bersikap tegas terkait ini. "Pernyataan KASAD disampaikan sebagai bentuk arahan tetapi arahan verbal. Kami berharap itu ada bukti tertulis seperti surat edaran. Kami ingin dokumen kebijakan ini diterbitkan panglima TNI supaya jadi rujukan lintas matra," tegas Andi. (ae)