Perompak Somalia Paling Ganas di Dunia
25 Juni 2008
Jika kekacauan memiliki nama, Somalia-lah yang menjadi namanya. Keruntuhan pemerintahan, aksi teror yang dilancarkan kelompok perlawanan, milisi bawah tanah Islamis, dan pemerintah peralihan yang tidak berdaya. Semuanya dimiliki Somalia. Negara di tanduk Afrika itu menjadi markas ideal bagi kelompok penjahat, para penculik dan para pemeras. Terutama para perompak menjadi ancaman yang paling ditakuti di pesisir Somalia. “Perairannya menjadi jalur yang paling berbahaya di dunia,” ujar Pottengal Mukundan, Direktur Biro Transportasi Laut Internasional.
Tahun lalu, lebih dari 20 kapal laut menjadi korban bajak laut dan awak kapalnya menjadi tawanan. Yang dibajak adalah kapal kontainer, nelayan besar, kapal pesiar Prancis dan kapal-kapal pengangkut barang bantuan milik Perserikatan Bangsa-Bangsa yang akan dikirimkan untuk rakyat Somalia yang miskin. Akhir Mei lalu, kapal kontainer berbendera Jerman juga menjadi korban perompak Somalia. 15 awak kapal „Lehmann Timber“ itu masih menunggu untuk dibebaskan. Motif perompak itu hampir selalu sama, meminta uang tebusan.
"Kami adalah kelompok dari Somalia. Semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah. Yang penting adalah uang tebusannya,“ kata juru bicara perompak itu ketika membajak kapal nelayan ikan tuna berbendera Spanyol April lalu. Mereka berhasil mengeruk uang tebusan hingga jutaan dolar.
Sebagian besar kelompok perompak menggunakan kapal cepat yang dilengkapi dengan telefon satelit. Mereka menyerang kapal-kapal laut dengan senapan mesin dan pelontar granat. Pottengal Mukundan mengatakan, milisi etnis Somalia yang memiliki pengaruh hingga jajaran pemerintah, terlibat dalam penyerangan-penyerangan itu, "Pemerintahnya hampir tidak berfungsi, tidak ada infrastruktur, tidak ada hukum dan undang-undang. Para perompak dapat melakukan apa saja dan mendapatkan apa saja dari aksinya.“
Pesisir pantai di wilayah tanduk Afrika saat ini sangat berbahaya. Marinir Jerman yang ditempatkan di Mombasa dalam operasi "Enduring Freedom“, menggunakan perangkat radar pengamat jarak jauh dalam mengawasi jalur perairan Somalia hingga tahun 2003. Kapten kapal pemburu Jan Otte melihat adanya hubungan antara terorisme dan kasus perompakan, "Kriminalitas dengan kekerasan yang terorganisasi, dalam hal ini perompakan biasanya terhubung dengan struktur di daratan yang mendukung terorisme.“
Hingga saat ini sebuah kapal pemburu Jerman masih ditempatkan di wilayah itu dan dipertimbangkan untuk memperluas mandat pasukan Jerman di kawasan perairan Somalia. Negara-negara Eropa yang bertetangga hendak membentuk kepolisian laut internasional untuk melindungi kapal-kapalnya.
Beberapa bulan terakhir, serangan-serangan di Somalia juga menjalar ke daratan. Januari tahun ini, tiga pekerja organisasi bantuan tewas dalam sebuah serangan bom. Di bulan Februari, seorang pekerja bantuan pembangunan asal Jerman diculik di wilayah utara Somalia. Sejak awal bulan ini, dua pekerja organisasi bantuan berkebangsaan Italia, seorang dari Inggris, dan seorang pekerja PBB dari Kenya dan pimpinan cabang Somalia Badan Urusan Pengungsi PBB menjadi korban kekerasan milisi etnis Somalia. (ls)