1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perompakan di Somalia Tantangan Internasional

as20 November 2008

Aksi bajak laut di perairan Somalia merupakan tantangan bagi masyarakat internasional. Tapi industri pelayaran juga harus mengubah perilakunya yang hanya ingin meraup untung sebesar-besarnya.

Kapal tanker raksasa Sirius Star milik Arab Saudi yang dirompak oleh bajak laut Somalia memakai bendera Liberia untuk memeprmurah perizinan.Foto: AP


Sorotan harian-harian internasional masih ditujukan pada kasus perompakan di perairan Somalia yang terus meningkat.

Harian Spanyol El Periodico de Catalunya yang terbit di Barcelona dalam tajuknya berkomentar :

Sikap AS dan NATO yang tidak mau campur tangan langsung dalam konflik di Somalia, membuat para bajak laut semakin kuat. Di negara itu tidak ada lagi otoritas negara, yang dapat memerangi aksi bajak laut. Bahkan diduga para pejabat negara justru melindungi para perompak. Keputusan Uni Eropa mengirimkan pasukan angkatan lautnya untuk melindungi kapal dagang di perairan Somalia, tidak akan memecahkan masalah. Para bajak laut masih unggul, selama kekuatan adidaya ekonomi dan militer dunia tidak campur tangan memerangínya.

Harian liberal Swedia Dagens Nyheter yang terbit di Stockholm berkomentar :

Bajak laut di perairan Somalia semakin aktif. Jelas, perkembangan semacam itu tidak dapat ditolerir. Namun sanksi ekonomi terhadap Somalia, yang praktis tidak lagi eksis sebagai sebuah negara, tidak akan ada gunanya. Bisa saja digagas aksi militer untuk menyerang pelabuhan tempat bersembunyi para perompak, yang dapat berdampak menambah masalah ketimbang memecahkannya. Semua cara pemecahan praktis, hanya dapat menolong sesaat saja. Pemecahan jangka panjangnya adalah menciptakan stabilitas dan perdamaian di Somalia.

Juga harian Perancis Dernieres Nouvelles d'Alsace yang terbit di Straßburg mengomentari sulitnya pemecahan masalah bajak laut di Somalia.

Somalia, sebuah negara yang nyaris bubar, dengan ekonomi yang juga hampir ambruk, dibanjiri senjata yang dijual para pedagang senjata terkemuka di dunia. Sementara di kawasan perairannya melintas kapal-kapal barang dengan muatan berharga ratusan juta Dolar. Jadi, maraknya aksi bajak laut itu tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Apa yang harus dilakukan? Mengawasi seluruh kawasan perairan dengan mengerahkan ratusan kapal perang? Atau memaksa kapal dagang berlayar membentuk konvoi? Dampaknya bisnis pelayaran akan menderita dan ongkos pengangkutan akan naik.

Dan terakhir harian Inggris The Guardian yang terbit di London juga mengomentari perilaku perusahaan pelayaran yang hanya memikirkan bagaimana meraup untung besar.

Industri pelayaran, yang tidak mau tunduk pada peraturan nasional, kini meminta perlindungan. Tapi seruan minta tolongnya juga mengandung ironi. Kapal tanker Sirius Star yang dibajak perompak Somalia, berlayar dengan bendera Liberia, awak kapalnya campuran berbagai bangsa yang biasanya dibayar murah, yang terkadang tidak tunduk pada aturan perburuhan ataupun membayar pajak. Kapal-kapal dagang dan tanker raksasa juga boros bahan bakar tapi lolos dari aturan ketat emisi gas buang. Kapal semacam ini juga seringkali mencemari lautan dengan sampah dan limbahnya. Kini industri pelayaran minta bantuan. Untuk itu ada syaratnya, yakni mereka juga harus mengubah perilakunya.