1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Persaingan Peroleh Tempat Kuliah Program Master

Jennifer Fraczek12 April 2013

Terlalu banyak calon mahasiswa, terlalu sedikit tempat kuliah. Demikian hasil penelitian mengenai kuota tempat bagi studi Master di Jerman. Kondisi ini dapat merusak citra baik universitas Jerman di luar negeri.

Ein Absolvent der Rheinischen Friedrich-Wilhelms-Universtät in Bonn trägt am Samstag (18.07.2009) auf dem Campus eine Talar und ein Barett. Rund 1000 Studenten nahmen an der Abschlussfeier teil. Foto: Rolf Vennenbernd dpa/lnw +++(c) dpa - Report+++
Foto: picture alliance / dpa

Hörsaal (ruang kuliah) yang penuh di universitas Jerman jadi gambaran sehari-hari. Kaum muda menyerbu perguruan tinggi guna meraih gelar Bachelor dan kebanyakan ingin melanjutkan sampai program Master. Ini ke depan akan sulit, setidaknya menurut studi terbaru Centrums für Hochschulentwicklung (CHE).

CHE sebuah think tank yang mendapat tugas Yayasan Bertelsmann dan Stiftung zur Förderung der Hochschulkonferenz mengamati angka statistik mahasiswa Bachelor dan membuat prognosa, seberapa besar permintaan jurusan program Master di masa depan. "Taksiran terburuk, tiga tahun ke depan akan kurang 36 ribu tempat kuliah Master", kata pimpinan CHE Frank Ziegele kepada DW.

Menurut Ziegele, ini akan terjadi jika 85 persen mahasiswa lulusan Bachelor ingin meraih gelar Master. Kuota yang realistis. Di sejumlah universitas seperti RWTH Aachen, pada beberapa jurusan kuota itu sudah terlewati. "Di jurusan Teknik Mesin, beberapa tahun ini kami sudah melewati kuota 90 persen," kata ketua perwakilan mahasiswa RWTH Aachen, Mathias Nick.
Tapi menurutnya, situasi di Aachen masih relatif tenang. Karena untuk kebanyakan tempat kuliah jurusan program Master tidak diberlakukan pembatasan, kira-kira seperti Numerus Clausus.

Berdampak citra buruk

Penuhnya ruang kuliah membuat mahasiswa harus duduk di lantaiFoto: dapd

Di Freie Universität Berlin situasinya berbeda. "Sejak beberapa tahun terjadi kekurangan tempat untuk program Master", kata Sina Prasse, wakil mahasiswa FU Berlin kepada DW. "Banyak sekali pelamar yang ditolak. Kami melihat itu dari besarnya pertanyaan kepada kami, bagaimana mereka dapat menyikapi penolakan."

Sesuai tabel Numerus Clausus (NC) FU Berlin untuk perkuliahan semester musim dingin lalu, mahasiswa jurusan Filsafat misalnya perlu nilai kelulusan rata-rata 1,4 untuk bisa melanjutkan ke jenjang studi Master. Untuk jurusan Politik nilainya 1,5.

Bagi mahasiswa asing lebih sulit lagi, kata Prasse lebih lanjut. Mereka harus menyerahkan banyak bukti dan dokumen, yang hanya bisa diperoleh dengan menghabiskan waktu dan biaya besar. "Jika ke depan lebih banyak pelamar untuk jurusan Master, kemungkinan usaha mempermudah prosedur tidak akan ditingkatkan". Diperkirakan dampaknya kuliah di Jerman akan jadi kurang menarik.
Ini juga kekhawatiran Frank Ziegele dari CHE. Memang kasus konkrit mahasiswa asing tidak diamati lebih jauh dalam studi CHE, atau jurusan-jurusan yang mungkin akan paling banyak kekurangan tempat kuliah. "Tapi jika persaingan mendapat tempat kuliah program Master makin meningkat, tentu akan lebih sulit bagi mahasiswa asing memperoleh tempat," demikian Ziegele.

 

Kampus Universitas Johann Wolfgang von Goethe di FrankfurtFoto: picture-alliance/dpa

Kelulusan setahun 2 kali

Naiknya permintaan tempat kuliah program Master a.l. disebabkan keputusan politik mempersingkat masa sekolah dari 13 menjadi 12 tahun. Karenanya di banyak negara bagian Jerman, pada tahun yang sama ada lulusan Abitur (SMU) dari dua angkatan sekaligus. Ditambah lagi dengan dihapusnya wajib militer dan kerja sosial, makin banyak kaum muda memperebutkan tempat kuliah.
Politik sudah bereaksi dan mensahkan sebuah program yang menyediakan dana lebih besar bagi universitas, senilai miliaran Euro (Hochschulpakt 2020). Ini diharap menciptakan ratusan ribu tempat kuliah baru. Namun menurut Ziegele, jangka waktu program itu terlalu singkat dan terlalu berfokus pada program Bachelor, jadi masih kurang dana untuk program Master.

Pemerintah federal dan negara-negara bagian Jerman dalam konferensi bersama Jumat (12/04), kembali membahas usaha-usaha guna mengatasi meningkatnya permintaan tempat kuliah di Jerman.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait