1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pertanian Jerman Hadapi Tekanan Cuaca Ekstrem

31 Juli 2026

Gelombang panas, kekeringan, hujan lebat, dan embun beku makin membebani petani Jerman. Mereka perlu mengembangkan varietas tanaman baru, melakukan teknik pengembangan tanaman unggul, dan cocok tanam yang lebih sesuai.

Foto menampilkan tanaman anggur yang tumbuh di bawah instalasi Vino-Fotovoltaik. Dengan sistem Vino-Fotovoltaik, lahan perkebunan anggur dapat dimanfaatkan secara ganda. Dengan memasang modul fotovoltaik di atasnya, tanaman anggur dapat terlindungi dari dampak perubahan iklim, seperti hujan lebat atau sinar matahari yang terlalu terik
Petani mulai mencoba lapisan fotovoltaik semi-transparan yang dapat menghasilkan listrik sekaligus melindungi tanaman dari paparan sinar matahari berlebih tanpa menghambat pertumbuhanFoto: Philipp von Ditfurth/dpa/picture alliance

Bagi banyak petani di Jerman, gelombang panas pada akhir Juni 2026 datang pada waktu yang paling tidak tepat. Saat tumbuhan barli di sebagian besar wilayah Jerman sudah siap dipanen, kekeringan justru melanda tanaman lain yang sedang berada pada fase pertumbuhan yang sangat rentan.

"Tahun ini kembali menjadi tahun yang sulit bagi para petani," kata Horst Gömann dari Kamar Pertanian (Chamber of Agriculture) Nordrhein-Westfalen kepada DW.

Menurut Gömann, jagung menjadi tanaman yang paling terdampak gelombang panas ini karena suhu ekstrem terjadi bertepatan dengan masa pembungaan.

"Kami sudah mulai melihat beberapa tanaman jagung yang gagal membentuk tongkol. Itu berarti panennya gagal total," ujarnya.

Pada tanaman jagung, sebagian besar energi tersimpan di tongkol. Tanpa tongkol, hasil panen akan turun drastis.

Gelombang panas pada Juni 2026 dengan suhu puncak melampaui 40 derajat Celsius, turut menghantam wilayah pertanian lain di Eropa dengan dampak yang lebih besar. Berdasarkan analisis terbaru dari Coceral, asosiasi pedagang biji-bijian Eropa, kondisi tersebut memangkas nilai panen biji-bijian di Eropa lebih dari €2 miliar (sekitar Rp40 triliun). Prancis dan Hungaria menjadi pihak yang mengalami kerugian paling besar.

Akibat gelombang panas tersebut, Coceral menurunkan proyeksi produksi biji-bijian di Uni Eropa (UE) dan Inggris hampir 9 juta ton metrik atau turun sekitar 3%. Sementara itu, lembaga riset berbasis di London, Unit Intelijen Energi dan Iklim (Energy and Climate Intelligence Unit/ECIU), bahkan memperkirakan penurunan mencapai 5%. 

Gelombang panas pada akhir Juni berdampak negatif terhadap panen tahun ini di JermanFoto: Boris Roessler/dpa/picture alliance

Petani Jerman perlu melakukan diversifikasi

Cuaca ekstrem juga berdampak pada gandum dan barli. Di sejumlah wilayah, panen barli bahkan dilakukan beberapa pekan lebih awal dari biasanya.

Menurut Gömann, hasil panen barli tahun 2026 kemungkinan sedikit berada di bawah rata-rata. Sementara untuk gandum, ia memperkirakan kerugian sekitar 10%.

Oleh karena itu, diversifikasi risiko menjadi salah satu strategi adaptasi yang penting. Daripada hanya menanam satu jenis biji-bijian, banyak petani kini memilih beberapa varietas dengan waktu matang yang berbeda-beda.

"Anda tidak pernah tahu kapan gelombang panas ekstrem seperti ini akan datang," kata Gömann.

Menurutnya, petani yang menanam berbagai varietas dapat mendiversifikasi risiko karena setiap tanaman berada pada tahap pertumbuhan yang berbeda.

Barli memiliki keunggulan alami dalam hal ini. Tanaman tersebut matang lebih cepat dibandingkan gandum dan umumnya telah menyelesaikan pembentukan biji sebelum kekeringan besar pada awal musim panas terjadi. 

Para ahli mengatakan bahwa irigasi hanya bermanfaat untuk tanaman pangan, tapi tidak untuk semua buah-buahanFoto: Julian Stratenschulte/dpa/picture alliance

Ancaman embun beku dan panas ekstrem

Jika kekeringan menjadi ancaman bagi tanaman pangan di lahan pertanian, embun beku yang datang terlambat menjadi masalah besar bagi budidaya buah. Perubahan iklim dan suhu musim dingin yang lebih hangat membuat kuncup bunga, yaitu bagian yang nantinya berkembang menjadi buah, muncul lebih awal.

Namun, embun beku masih dapat terjadi hingga musim semi. Karena itu, banyak petani buah melindungi bunganya menggunakan penyemprot anti embun beku. Air disemprotkan ke bunga hingga membentuk lapisan es.

"Lapisan ini mampu mempertahankan panas sehingga suhu di dalamnya tidak turun serendah jika tanpa sistem tersebut," jelas Gömann.

Sistem yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi saat musim kemarau panjang di musim panas.

Ada pula solusi teknologi untuk menghadapi panas ekstrem. Saat ini, jaring pelindung hujan es tidak hanya berfungsi untuk melindungi tanaman dari cuaca buruk, tapi juga memberikan naungan bagi buah serta mencegah terjadinya sengatan matahari pada tanaman.

Selain itu, berbagai percobaan sudah dilakukan dalam budidaya buah dan anggur dengan menggunakan lapisan fotovoltaik semi-transparan. Teknologi ini mampu menghasilkan listrik sekaligus melindungi tanaman dari paparan sinar matahari berlebihan, sambil tetap memungkinkan cahaya yang cukup untuk masuk. 

Pertanian Modern: Digital dan Gunakan AI

04:00

This browser does not support the video element.

Meski irigasi menjadi salah satu solusi menghadapi kekeringan, Gömann mengatakan metode ini tidak selalu menguntungkan secara ekonomi. Menurutnya, investasi irigasi lebih masuk akal untuk tanaman bernilai tinggi seperti sayuran, kentang, dan buah-buahan. Sementara untuk tanaman seperti gandum atau jagung, biaya yang dikeluarkan sering kali tidak sebanding dengan peningkatan hasil panen.

"Biayanya terlalu tinggi," katanya.

Air untuk irigasi terutama berasal dari air tanah. Meskipun periode kekeringan semakin sering terjadi, Jerman bukanlah negara yang kekurangan air.

"Pada dasarnya, kita masih punya cukup air di Jerman," tegas Gömann.

Menurutnya, masalah utamanya adalah distribusi air yang tidak merata. Curah hujan tinggi terjadi pada musim dingin, sementara periode kering semakin sering muncul pada musim panas. 

Para ilmuwan sedang melakukan percobaan dengan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap panas dan kekeringanFoto: picture-alliance/dpa/F. Rumpenhorst

Varietas baru sesuai iklim yang lebih hangat

Pengembangan varietas tanaman baru menjadi salah satu kunci menghadapi perubahan iklim. Di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen, petani mulai menanam varietas yang berasal dari wilayah Eropa dengan kondisi iklim lebih hangat karena dianggap lebih mampu beradaptasi dengan suhu yang meningkat.

"Untuk gandum, misalnya, kami sudah banyak menggunakan materi genetik dari Prancis," kata Gömann.

Menurutnya, kondisi iklim di wilayah tersebut dalam beberapa hal sudah bergeser mendekati kondisi yang sekarang terjadi di Jerman.

Tanaman rumput yang menghasilkan biji (serealia) dengan batang yang lebih pendek, yang dikenal sebagai varietas semi-kerdil (semi-dwarfs), sebenarnya sudah dikembangkan selama bertahun-tahun. Batang pendek mampu menopang bulir yang jauh lebih berat, lebih tahan terhadap patah akibat hujan lebat, hujan es, atau angin kencang, serta membutuhkan lebih sedikit air.

Selain itu, penelitian juga terus dilakukan untuk mengembangkan varietas gandum dengan akar yang lebih dalam. Penelitian terbaru di Institut Julius Kühn Jerman, pusat penelitian federal untuk tanaman budidaya, bertujuan mengembangkan gandum yang akarnya dapat merespons kekeringan secara dinamis dengan tumbuh lebih dalam ketika cadangan air di lapisan tanah atas mulai menipis. 

Petani melindungi bakal bunga persik dari suhu beku pada malam musim semi dengan menyemprotkan air hingga membentuk lapisan es tipis sebagai pelindungFoto: Sebastian Willnow/dpa/picture alliance

Pertanian modern beradaptasi dengan perubahan iklim

Gömann mengatakan bahwa petani sebenarnya harus selalu beradaptasi dengan kondisi yang berubah. Namun, hal yang berbeda saat ini adalah kecepatannya. Jika sebelumnya perubahan iklim berlangsung dalam rentang beberapa generasi, sekarang dampaknya sudah dapat dirasakan hanya dalam beberapa dekade.

"Semuanya sekarang terjadi dengan sangat cepat," ujarnya.

Di sisi lain, pertanian modern punya pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Varietas baru dapat dikembangkan hanya dalam beberapa tahun. Menurut Gömann, satu hal yang sudah jelas adalah meningkatnya kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir bukanlah sebuah kebetulan. Ia melihat kekeringan parah pada 2018 dan 2019, serta gelombang panas terbaru, sebagai bagian dari sebuah tren.

"Hal ini tentu dapat dikaitkan dengan perubahan iklim yang mulai terjadi," kata Gömann kepada DW.

Karena itu, pertanian harus terus beradaptasi, sebagaimana yang telah dilakukan selama berabad-abad. Namun, menurutnya, proses adaptasi tersebut saat ini harus berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Prita Kusumaputri

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait