1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pertemuan di London Tanpa Jerman

8 Desember 2008

Menurunkan pajak atau menunggu? Eropa tidak sepakat, bagaimana menangani krisis keuangan. Hari Senin (08/12) presiden Perancis dan PM Inggris bertemu di London. Kanselir Jerman tidak diundang.

der französische Präsident Nicolas Sarkozy Armutsbekämpfung
Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy.Foto: AP

Bila Gordon Brown dan Nicolas Sarkozy mempersiapkan KTT UE mendatang, Angela Merkel sebagai kepala pemerintahan dari negara terbesar di UE tidak hadir. Dia tidak diundang. Pernyataan resmi pihak Jerman berbunyi, bahwa pertemuan pendahuluan secara bilateral adalah hal yang lumrah, dan Jerman tidak merasa jengkel. Tetapi tidak perlu diragukan, pertemuan di London tanpa Kanselir Merkel merupakan pertanda semakin meningkatnya kritik terhadap kanselir Jerman. Apalagi karena Ketua Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso diundang untuk menghadiri pertemuan itu. PM Inggris Gordon Brown kembali berusaha untuk menampilkan diri sebagai penyelamat perekonomian.

"Kami ingin melakukan, apa yang belum pernah dilakukan oleh negara mana pun". Kalimat seperti itu berulangkali terdengar dari mulut Gordon Brown. Ditandaskannya, dia menyusun rencana penyelamatan perbankan, dia menurunkan pajak pertambahan nilai, dia membuat paket konjungtur terbesar. Dalam soal upaya penanggulangan krisis ekonomi, Inggris berada di front terdepan. Itu adalah pandangan pemerintah di London. Sekutu terdekatnya adalah presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang saat ini memimpin UE. Sarkozy menjauhi Merkel dengan ucapan yang agak kurang diplomatis, yaitu bahwa Perancis mengambil tindakan, sementara Jerman masih berpikir. Memang hari Minggu malam Merkel dan Sarkozy mengadakan pembicaraan telepon dalam suasana bersahabat dan cukup lama, tetapi tetap ada perasaan tidak enak.

Dalam soal pemberian bantuan untuk menggiatkan konjungtur, Brown dan Sarkozy lebih menganggap Merkel sebagai faktor penghalang. Kini mereka kuatir, bahwa paket konjungtur yang mereka rencanakan, juga akan menguntungkan konsumen di Jerman, tanpa Berlin perlu menyuntikkan dana bagi perputaran roda ekonomi, yang di Eropa kenyataannya memang terjalin erat.

Mengapa pemerintah Jerman enggan mengeluarkan uang, banyak alasannya. Pertama, struktur perekonomian Jerman yang lebih didominasi oleh golongan menengah, jelas berbeda dengan di Perancis. Sedangkan Inggris lebih terpaku pada sektor keuangan dan properti daripada di Jerman. Kedua, bila selain langkah penanganan di tingkat nasional, juga ada paket konjungtur untuk UE, maka Jerman akan harus membayar bagian yang paling besar. Ketiga, Berlin tidak berniat mengambil hutang sedemikian banyak seperti London. Tahun depan hutang Inggris mencapai delapan persen dari Produk Domestik Bruto nya. Hal itu juga sudah diperingatkan oleh ketua partai konservatif, David Cameron: "Kita hidup di sebuah negara dengan hutang yang mendorong kita ke pinggir jurang kebangkrutan finansial."

Siapa yang pada akhirnya keluar sebagai pengambil jalan yang benar, baru akan terlihat bertahun-tahun sesudahnya. Kanselir Jerman yang bersikap hati-hati, atau PM Inggris yang mengeluarkan uang dengan mudah? Kalau paket konjungtur dari Gordon Brown berjalan baik, nantinya dia bisa berkata, hutang yang besar itu ada manfaatnya. Tetapi bila langkah-langkah tsb lenyap begitu saja, Kanselir Merkel lah yang akan merasa benar. Yang sekarang ini dapat disimpulkan adalah, bahwa jarak antara Brown dan Merkel semakin besar. (dgl)