1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pertemuan Merz-Trump di Tengah Krisis Timur Tengah

2 Maret 2026

Kanselir Jerman Friedrich Merz menuju Washington untuk menemui Presiden Donald Trump. Pertemuan yang telah direncanakan sebelumnya ini dibayangi konflik Timur Tengah pascapenyerangan AS-Israel atas Iran.

Washington DC 2025 I Trump menyambut kedatangan Merz di depan Gedung Putih pada bulan Juni 2025.
Kunjungan perdana Friedrich Merz-Donald Trump di Gedung Putih, Juni 2025Foto: Celal Gunes/Anadolu Agency/IMAGO

Pada hari Senin (2/3) Kanselir Jerman Friedrich Merz  berangkat ke Washington untuk melakukan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump. Sebenarnya kunjungan Merz ke Washington ini telah direncakan dari jauh hari dan memiliki tujuan yang berbeda.

Awalnya Merz ingin membahas sengketa tarif AS, namun pertemuan yang dilakukan tepat di tengah ekskalasi situasi Iran dan Timur Tengah ini turut mengubah isu yang akan dibahas. Kini Merz pun harus menjelaskan kepada presiden AS tersebut perspektif Jerman beserta Eropa atas serangan AS dan Israel terhadap Iran serta reaksi keras Iran.

Merz: "Dilema” Jerman dalam perang di Timur Tengah

Pada hari Minggu(1/3) di Berlin, Merz menegaskan bahwa Jerman jelas mendukung AS dan Israel. Ia mengecam serangan Iran terhadap beberapa negara-negara Teluk, pangkalan militer AS, dan Israel. Menurut Kanselir, jika dilihat dari perspektif hukum internasional mengenai serangan awal Israel dan AS, Jerman mengalami dilema.

Dengan kata lain, serangan tersebut tidak berada di bawah naungan hukum internasional. Namun, lanjut Merz, pemerintah Jerman turut merasakan "kelegaan banyak warga Iran bahwa rezim di negeri para Mullah tersebut telah berakhir.”

Menghadapi gagalnya upaya bertahun-tahun untuk membuat Teheran menahan program nuklir dan rudal mereka, ini bukan saat yang tepat untuk "menggurui mitra dan sekutu kami.” Meski begitu, tambah sang kanselir, serangan ini tetap membawa risiko.

Puluhan Orang Tewas akibat Serangan Udara di Iran

01:41

This browser does not support the video element.

Jerman, Perancis, dan Inggris: "Tindakan defensif militer”

Lalu Merz bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengeluarkan pernyataan bersama bahwa negara-negara tersebut siap mengambil "tindakan defensif militer.”

Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menjelaskan pada hari Senin dalam siaran Deutschlandfunk bahwa Jerman tidak memiliki niat untuk terlibat dalam serangan lebih lanjut.

"Jika kami tidak memiliki niat, kami tidak akan melakukannya. Kami tidak terlibat,” tegas Wadephul ketika ditanya soal keterlibatan Jerman. Ia menambahkan: "Bagi kami, itu  berarti jika tentara Bundeswehr diserang, kami akan membela diri secara defensif.”  Menurut laporan terakhir terdapat sekitar 288 tentara Jerman ditempatkan di pangkalan militer Yordania dan Irak.

Trump Umumkan "Operasi Tempur Besar" terhadap Iran

00:33

This browser does not support the video element.

Koresponden utama DW Michaela Küfner yang mendampingi kunjungan Merz ke AS merangkumkan beberapa hal yang akan dihadapi sang kanselir dalam pertemuan tersebut: "Merz mengatakan ia tidak akan menggurui AS dan Israel soal Iran. Ini hampir setara dengan meninggalkan hukum internasional sebagai kerangka acuan. Sebuah perpecahan historis.” Trump pun diprediksi akan memberi tahu Merz apa yang diharapkan AS  dari Eropa saat ini.

Merz harus mencoba menghubungkan ini dengan isu penting lainnya. "Tantangan terbesarnya adalah memastikan keprihatinan utama Jerman didengar oleh Donald Trump: bahwa Eropa ingin kembali duduk di meja negosiasi Ukraina. Karena saat ini masa depan Eropa sedang dinegosiasikan melewati kepala orang Eropa.”

Berharap untuk kebijakan tarif yang berbeda

Jika memiliki cukup waktu, Merz kemungkinan juga ingin membahas kebijakan tarif AS di Washington. Baru-baru ini, Presiden Trump mengalami ‘pukulan telak' ketika Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar kebijakan tarif Trump yang menyulitkan banyak negara termasuk Jerman dan Uni Eropa.

Sebelumnya Merz merespon putusan MA tersebut pada siaran ARD sebagai "Keputusan menarik, yang dinantikan banyak orang, bahwa Mahkamah Agung di Washington memberi batasan pada kekuasaan pemerintah.”

Namun, ia menekankan bahwa putusan Mahkamah Agung hanya menyangkut tarif umum yang diperkenalkan Trump, bukan tarif sektoral penting. Pemerintah AS kemudian menetapkan tarif baru 10% untuk sebagian besar negara dengan landasan hukum yang berbeda dan mengancam tarif hingga 15%.

Tarif Trump Dibatalkan, Bagaimana Kesepakatan Dagang RI-AS?

01:56

This browser does not support the video element.

Pendekatan tegas membuahkan hasil

Kebijakan perdagangan tetap menjadi fokus pembicaraan Merz dengan Trump. Juru bicara pemerintah Stefan Kornelius menegaskan sebelum konferensi pers di Berlin: "Mungkin perjalanan ini tepat waktu untuk membahas langkah berikutnya secara langsung dengan presiden, dengan posisi Uni Eropa yang terkoordinasi.”

Tahun lalu, setelah menjabat pada Mei, Merz tampil berhati-hati saat berhadapan dengan Trump. Ia menganggap kunjungan pertamanya ke Gedung Putih sebagai keberhasilan karena berjalan harmonis. Kemudian, Merz juga mendukung Ukraina bersama tokoh Eropa penting lainnya dalam pertemuan di AS.

Diplomat atau pemimpin Eropa cenderung bersikap hati-hati dan diplomatis saat berhadapan langsung dengan Presiden AS karena reputasinya yang tidak terduga.

Namun pengalaman awal tahun 2026 menunjukkan saat Eropa mengambil sikap lebih tegas atau lebih "ofensif”, Eropa bisa mendapatkan hasil yang lebih nyata dalam negosiasi atau pembicaraan dengan AS. Hal ini nampak dalam isu Ukraina, perdagangan, atau kebijakan internasional lainnya.

Solidaritas UE redam isu Greenland

Ketika Trump mengancam ingin mengambil alih Greenland, yang termasuk wilayah Denmark, nada Merz berubah.

Jerman dan sekutu NATO Eropa lainnya menegaskan solidaritas mereka kepada Denmark dan penduduk Greenland. Akibatnya, Trump menghentikan sementara isu Greenland.

Situasi di Ukraina tetap dramatis

Isu Ukraina tetap menjadi prioritas Merz. Presiden Volodymyr Zelenskyi pun mengakui negaranya mungkin harus menyerahkan sebagian wilayah untuk meredakan konflik.

Namun, Ukraina menolak tegas menyerahkan wilayah lain miliknya yang belum dikuasai Rusia. Perang Rusia-Ukraina kini telah berjalan empat tahun. Namun masih diragukan apakah Merz bisa mendapat perhatian Trump terkait isu ini mengingat perkembangan terbaru di Timur Tengah.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Jens Thurau Jens Thurau adalah koresponden politik senior yang meliput kebijakan lingkungan dan iklim Jerman.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait