Perundingan progam atom Iran
25 November 2004
Sesaat sebelum sidang yang menentukan Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) hari Kamis (25/11) , Iran menarik sebagian persetujuannya untuk membekukan pengayaan uranium. Teheran hendak terus mengoperasikan sekitar 20 instalasi sentrifugal , demikian kata direktur-jendral Badan Tenaga Atom Internasional IAEA, Mohamed el Baradei , di Wina. Iran menawarkan, IAEA dapat mengawasi instalasi sentrifugal tsb , dan berjanji tidak akan menggunakan bahan nuklir untuk mengoperasikan fasilitas nuklir tsb. Dewan Gubernur IAEA dalam sidangnya akan memutuskan apakah konflik program atom Iran itu akan dibawa ke Dewan Keamanan PBB , yang dapat menjatuhkan sanksi terhadap Iran.
Harian Inggris The Times mengomentari perundingan tentang program nuklir Iran sebagai peluang terakhir bagi negara itu.
Ketiga menteri luar negeri Eropa yang senantiasa mendukung diplomasi lembut dengan Iran, hendaknya jangan terlalu cepat berbicara tentang sukses. Apa bila Iran menyangka lebih mudah bernegosiasi dengan Eropa, karena bersikap lebih luwes terhadap rejim di Teheran, maka itu anggapan yang salah. Para menteri luar negeri UE telah belajar, janji-janji dari Teheran seringkali tidak diikuti dengan perbuatan. Karena itu, mereka sama kerasnya seperti AS, bila terjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Nonproliferasi Nuklir.
Sementara harian liberal kiri Inggris The Guardian mengenai pembekuan program nuklir Iran berkomentar:
Terdapat perbedaan yang jelas antara situasi sekarang di Iran , dan kondisi menjelang perang Irak tahun lalu. Dan juga reaksi internasional berbeda-beda. Pertama, adalah baik bahwa Iran memenuhi tuntutan IAEA. Selain itu pemerintahan di Paris, Berlin dan London berargumentasi, kubu neo-konservatif Amerika yang mendesak invasi ke Irak, sekarang tidak berada dalam kondisi untuk melakukan invasi ke Iran. Ekspansi berlebih-lebihan Amerika merupakan peluang bagi Eropa. Dan Inggris, kali ini mendukung Benua Lama, dan tidak mendukung AS.
Mengenai kebijakan politik AS terhadap Iran suratkabar Perancis Le Figaro mengulas:
Tiga tahun setelah runtuhnya menara kembar di New York, tampaknya politik dunia hanya mengenal dua hukum. Hukum pihak yang kuat dan yang kaya. Namun prinsip ini dapat berubah, apabila lawan yang dipilih belum cukup lemah bagi AS. Contohnya Iran. Iran jauh lebih maju dalam program nuklirnya ketimbang Irak sebelum perang. Namun Bush tidak berani menyerang Iran. Negara ini dengan hampir 70 juta penduduk, dan yang berpotensi memobilisasikan kubu Syiah di Irak, Libanon dan Teluk Persia untuk melawan AS, merupakan lawan yang terlalu besar untuk ditelan begitu saja. Contoh lain adalah Korea Utara. Mengingat istilah Poros Kejahatan , George W Bush adalah satu-satunya hakim yang dapat menghukum dan memaafkan.
Akhirnya komentar harian Austria Der Standard yang menyoroti pertemuan antara Menlu AS Powell dan Menlu Iran Charrasi.
Pertemuan antara kedua menlu tidak boleh dianggap terlalu penting. Kedua menteri luar negeri itu dalam waktu dekat akan diganti. AS akan kehilangan menlunya yang moderat, sementara di Iran di bulan Mei mendatang pemerintahan yang moderat tidak akan dipilih lagi. Jadi pencairan hubungan untuk sementara , tidak punya arti untuk masa depan.