Perundingan Program Atom Iran
22 Desember 2005
Dilanjutkannya lagi perundingan antara trio Uni Eropa dan perwakilan Teheran menyangkut program atom Iran, menjadi tema hangat yang dikomentari sejumlah harian Eropa. Harian Inggris Financial Times yang terbit di London menulis, diplomasi tidak akan mampu mencegah program atom Iran.
"Pada saat masyarakat internasional masih terguncang akibat pernyataan anti-Israel dari presiden Iran Ahmadinedjad, usaha penengahan diplomasi terus berlanjut. Setelah jeda cukup lama, Jerman, Prancis dan Inggris kembali melanjutkan perundingan dengan Iran menyangkut program atom negara itu. Namun sejak terpilihnya Ahmadinedjad menjadi presiden, Teheran mengubah strateginya. Juga program atom, kini dijadikan sarana untuk semakin menonjolkan kepentingan nasional Iran. Pemerintah di Teheran sudah kebal terhadap ancaman internasional. Perundingan terbaru diperkirakan akan berakhir tanpa hasil, seperti juga perundingan-perundingan sebelumnya."
Harian Jerman Stuttgarter Zeitung yang terbit di Stuttgart menulis, sikap Iran menjadi semakin mencemaskan.
"Jika Presiden Ahmadinedjad bertindak, ia bukan hanya semakin radikal, melainkan juga semakin sulit diperhitungkan. Karena itu, sasaran negara-negara barat seharusnya mengisolir Ahmadinedjad dan kelompoknya, bukannya seluruh rakyat Iran. Karena tindakan seperti itu, hanya akan memicu gelombang solidaritas rakyat di negara tersebut. Juga jangan sampai negara barat menyerang Ahmadinedjad, hanya gara-gara agama yang dianutnya. Sebab politik seperti itu, akan mendorong negara-negara Arab untuk mendukung Iran yang tidak disenangi barat. Akan tetapi juga harus dihindarkan dengan segala cara, Ahmadinedjad dapat menyandarkan kekuatannya pada bom atom, yang diperkirakan masih memerlukan pengembangan satu dekade lagi. "
Sementara harian Jerman lainnya Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis, trio Eropa harus berhati-hati dalam perundingan lanjutan dengan Iran.
"Perundingan sengketa atom dengan Iran, bukanlah perundingan resmi. Tapi cuma sekedar omong kosong yang disambung dengan omong kosong lainnya. Sementara itu, suara dari Teheran juga semakin agresif. Para tokoh politik Iran semakin ngotot, mempertahankan haknya untuk memiliki instalasi nuklir. Mereka juga mengancam barat dengan pemutusan hubungan dagang, antara lain dengan menghentikan pemasokan minyak. Karena itu, menghadapi Iran saat ini Eropa tetap harus berhati-hati. "
Tema lainnya yang disoroti harian-harian internasional adalah situasi di Irak setelah pemilu parlemen. Harian Italia Corrierre Della Sera yang terbit di Milano menulis komentar, terdapat pembaruan yang positif di Irak. :
"Barang siapa bertanya, apakah perang Irak yang dilancarkan Amerika itu logis dan wajar, kini mendapat jawabannya. Kalau berpikir dengan kepala dingin, strategi yang dijalankan Amerika di Irak sudah tepat. Rezim kejam Saddam Hussein kini sudah tumbang. Untuk pertama kalinya Irak mengenal kebebasan berserikat dan kebebasan pers. Pemilu bebas dapat digelar dan kaum wanita kini juga ikut serta dalam pemilihan. Semua itu, merupakan pembaruan besar yang positif yang jauh lebih berharga ketimbang aksi ribuan teroris, yang melancarkan serangan berdarah untuk mencegah digelarnya pemilu."
Akan tetapi, harian Swiss Neue Zürcher Zeitung yang terbit di Zürich menilainya dari sisi yang berbeda.
"Kelompok Suni tetap merasa tidak puas dengan hasil sementara pemilu parlemen, yang kelihatannya dimenangkan kelompok Syiah. Karena itu, dari Bagdad kelompok Suni melancarkan ancaman akan kembali melakukan boikot politik. Kelompok minoritas Suni kini melancarkan tekanan menanggapi laporan komisi pemilu di Bagdad. Dan itu bukan sebuah pertanda yang bagus."