1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perundingan Program Nuklir Iran

3 September 2007

Setelah Korea Utara dalam perundingan di Wina menyatakan akan menghentikan program nuklirnya akhir tahun ini, pandangan sekarang diarahkan ke Iran.

Presiden Iran Ahmadinejad menyatakan negaranya berpegang pada kekuatan nuklir
Presiden Iran Ahmadinejad menyatakan negaranya berpegang pada kekuatan nuklirFoto: AP

Konsultasi dengan Iran dalam sengketa Atom sampai kini belum membuahkan hasil. Harian Italia La Reppublica menulis:

„Bahaya nuklir dari Korea Utara mulai mereda, bahaya dari Iran makin meningkat. Dalam kedua krisis itu, yang mereda justru krisis yang tidak terlalu serius. Sedangkan yang meningkat adalah krisis yang memang sangat berbahaya. Bom nuklir di tangan para Ayatullah adidaya minyak, sebuah negara dengan 70 juta penduduk, di bawah kekuasaan politik relijius berbahaya dengan daya musnah massal, yang punya pengaruh dari Palestina sampai Libanon. Ini adalah sebuah rejim,y ang mengancam akan menggunakan senjata nuklir melawan Israel. Sedangkan Korea Utara adalah sebuah negara dengan 20 juta penduduk yang hampir selalu mengalami bencana kelaparan, tidak punya sumber daya alam dan sudah hampir tak berdaya setelah diperas oleh rejim komunis militan.“

Mengenai program nuklir Iran, harian Austria Der Standard berkomentar:

„Dalam sengketa program nuklir, Iran mempertahankan taktik yang sudah sering digunakannya. Begitu tercapai kompromi kecil, langsung dikeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang membuat semuanya jadi tanda tanya lagi. Reaksi terbaru Teheran ini terutama menunjukkan satu hal: Tidak ada terobosan baru dalam sengketa program nuklir ini. Apalagi Amerika Serikat juga tetap berpegang pada logika eskalasinya. Presiden Amerika Serikat George W Bush, dengan peringatannya tentang bahaya ‚Holocaust nuklir’ minggu lalu kembali menempatkan Iran dalam poros kejahatan. Washington juga melanjutkan lobby agar PBB menjatuhkan sanksi lebih keras lagi. Tapi kenyataannya, semua sanksi dalam upaya menyelesaikan sengketa ini sampai sekarang tidak menunjukkan hasil. Jadi ada baiknya mencoba melanjutkan konsultasi dan untuk sementara tidak memberlakukan sanksi sambil menunggu perkembangan selanjutnya.“

Harian Inggris Independent menyoroti penarikan pasukan Inggris dari kota Basra di Irak. Harian ini menulis:

“Realitas yang menyedihkan adalah, baik kita maupun Amerika Serikat tidak meninggalkan Irak dengan citra baik. Semua upaya menumpahkan kesalahan pada pihak lain tidak ada gunanya. Pertengkaran yang tidak ada guna ini malah bisa mengalihkan perhatian dari hal yang benar-benar penting. Yaitu, apa yang bisa kita lakukan dalam situasi makin memburuk ini bagi warga Irak yang menderita?”

Hal lain yang jadi sorotan media Eropa adalah politik perlindungan iklim. Minggu lalu, para ahli melakukan pertemuan di Wina untuk membicarakan cara menurunkan emisi gas rumah kaca dan mempersiapkan agenda konferensi iklim internasional di Bali Desember mendatang. Mengenai politik perlindungan iklim, harian Spanyol El Pais menulis:

„Sasaran yang telah ditetapkan dalam Protokol Kyoto tidak mencukupi. Kebanyakan ilmuwan sepakat, pemanasan bumi sampai 2 derajat Celcius akan punya dampak fatal. Tapi beberapa negara masih tetap mempertahankan sikap keras, sehingga kelihatannya tak mungkin dicapai kesepakatan baru. Pertemuan di Wina memberi alasan untuk jadi pesimis.“