Piala Dunia 2026: Penggemar Disabilitas Makin Terpinggirkan
17 April 2026
Penyandang disabilitas dinilai semakin tersisih dari Piala Dunia 2026, menurut para penggemar sepak bola dan aktivis hak disabilitas.
Berbeda dengan perhelatan sebelumnya, ajang tahun ini yang akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko tidak menyediakan tiket khusus bagi penyandang disabilitas. Selain harga tiket, ada biaya tambahan bagi pendamping yang biasanya gratis serta tidak ada parkir aksesibel yang gratis bagi penyandang disabilitas.
“Awalnya saya sangat antusias dan berpikir Piala Dunia di Amerika, Kanada, dan Meksiko akan menyenangkan. Saya sudah sering ke sana. Saya tahu mobilitasnya mudah, transportasi umum tertata, hotel, semuanya aksesibel, jadi saya tidak khawatir soal itu,” ujar penggemar Timnas Inggris, Jo McNicol, kepada DW.
“Namun, ada persoalan sistem tiket… benar-benar mustahil mendapatkan tiket,” tambahnya.
“Saya rasa harga yang ditetapkan terlalu tinggi. Tidak ada pembatasan khusus sehingga siapa pun bisa membeli tiket kursi roda atau tiket aksesibel. Tidak perlu bukti kebutuhan khusus, padahal biasanya selalu diminta.”
Keuntungan di atas kemanusiaan
McNicol telah lama rutin menghadiri pertandingan klub dan turnamen internasional, termasuk Piala Dunia terakhir di Qatar, yang menurutnya memiliki aksesibilitas “luar biasa”. Di Qatar, penyandang disabilitas mendapat jatah tiket tertentu yang hanya bisa dibeli setelah menunjukkan bukti disabilitas, sistem yang lazim diterapkan dalam ajang olahraga di Eropa.
Berdasarkan pengalaman tersebut, McNicol telah memesan tiket pesawat dan menyewa kampervan untuk perjalanan Piala Dunia tahun ini. Namun, ia gagal mendapatkan tiket melalui sistem undian yang dikelola FIFA sebagai penyelenggara turnamen dan kini kecil kemungkinan akan datang langsung ke pertandingan.
FIFA sendiri mendapat banyak kritik karena dianggap terlalu berorientasi pada keuntungan. Di antaranya adalah harga dasar tiket yang sangat mahal hingga tidak adanya pemberitahuan penambahan harga untuk kategori tiket tertentu. Pemindahan kursi penonton juga bisa terjadi setelah tiket dibeli. Belum lagi kenaikan biaya transportasi dan parkir, serta pungutan sebesar 15% yang dikenakan kepada penjual dan pembeli melalui portal penjualan tiket yang baru diluncurkan.
Tiket kategori 4, yang termurah, tampaknya tidak tersedia bagi penyandang disabilitas. Kemungkinan karena lokasinya yang berada di sudut stadion paling tinggi dan jauh. Akibatnya, McNicol dan penggemar lain dengan kebutuhan khusus hanya bisa mengakses tiket kategori 3 ke atas, FIFA juga belum mengumumkan pertandingan mana yang tiketnya sudah terjual habis.
BBC melaporkan awal bulan ini bahwa harga termurah tiket kategori 3 untuk laga pembuka Inggris mencapai 898 USD (sekitar Rp15 juta), naik jauh dari harga awalnya sebesar 265 USD (sekitar Rp4,5 juta).
Penyandang disabilitas harus membayar dua kali lipat
James Flanagan dari kelompok advokasi Football Supporters Europe (FSE) mengatakan bahwa di Piala Dunia Qatar, tiket bagi penyandang disabilitas tersedia dengan harga sekitar 10 USD (sekitar Rp148 ribu). Ia menilai kebijakan FIFA saat ini sebagai sebuah “kemunduran” yang “meniadakan penyandang disabilitas untuk menikmati turnamen."
Karena banyak penyandang disabilitas membutuhkan bantuan selama menonton pertandingan, Flanagan menilai kebijakan pungutan biaya bagi pendamping sebagai beban tambahan.
“Mengenakan biaya untuk tiket pendamping, yang kini dimasukkan dalam kebijakan FIFA, membuat biaya keluar dua kali lipat,” kata Flanagan kepada DW. “Parkir aksesibel juga tidak mendapatkan potongan harga. Semua ini jelas menyulitkan penyandang disabilitas, waktu untuk memperbaiki hal tersebut semakin sempit.”
FIFA belum menanggapi sejumlah pertanyaan dari DW maupun FSE. Namun, situs resmi FIFA mengonfirmasi berbagai persoalan yang dikeluhkan oleh penggemar dan FSE.
“Tidak ada jaminan bahwa tiket pendamping akan duduk di sebelah Anda,” kata McNicol, yang menggunakan kursi roda. “Padahal saya membutuhkan mereka. Jika saya menjatuhkan sesuatu ke lantai, saya tidak bisa memungutnya. Jika saya ingin ke toilet, saya butuh bantuan. Selain itu, secara manusiawi kita ingin duduk bersama orang yang dikenal, bukan di antara orang asing. Seharusnya kita punya pilihan itu.”
Suara penggemar tidak didengar FIFA
Kebijakan FIFA menyebutkan bahwa “pendamping akan ditempatkan sedekat mungkin, tetapi lokasi kursinya tidak dapat dijamin. Lalu FIFA Ticketing juga tidak bisa memastikan bahwa kursi tersebut berada tepat di samping kita.”
Flanagan menilai kebijakan ini tidak dapat diterima.
“Memiliki pendamping bukanlah pilihan bagi sebagian orang, melainkan kebutuhan. Ini menjadi beban finansial yang tidak adil bagi penyandang disabilitas. Kami percaya kebijakan ini bertentangan dengan komitmen FIFA sendiri terhadap inklusi dan hak asasi manusia,” ujarnya.
“FIFA perlu mendengarkan penyandang disabilitas, dan saat ini saya tidak melihat adanya konsultasi dengan para penggemar.”
Dengan keterbatasan transportasi umum di banyak lokasi pertandingan, persoalan parkir juga menjadi sumber keluhan. Meskipun dalam kebijakan fasilitas umum FIFA menyebutkan bahwa parkir disabilitas “harus disediakan dan berlokasi dekat stadion atau di sekitarnya”, tidak ada ketentuan mengenai biaya parkir yang gratis atau bersubsidi.
“Saat ini penggemar diminta merogoh kocek sangat dalam, tidak hanya untuk tiket pertandingan, tetapi juga untuk parkir aksesibel. Biayanya berkisar anatara 150 hingga 300 USD (sekitar Rp2,5 hingga 5 juta), tergantung lokasi,” tambah Flanagan. “Beban biaya yang harus ditanggung para penggemar ini sungguh tidak dapat diterima.”
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Athif Aiman
Editor: Hani Anggraini