1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
OlahragaAmerika Serikat

Piala Dunia 2026: Trump, FIFA, dan Kontroversi Balogun

7 Juli 2026

Salah satu aturan paling baku di Piala Dunia justru goyah setelah Trump melobi FIFA agar membatalkan sanksi kartu merah pemain AS. Keputusan itu memicu kemarahan, meski bukan tanpa preseden.

Presiden Donald Trump (kanan) mengangkat kartu merah dalam pertemuan dengan Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) di Ruang Oval (Oval Office), Gedung Putih pada tahun 2018.
Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden AS Donald Trump menjalin hubungan yang hangatFoto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance

Untuk sementara waktu, sepak bola tampak berhasil mengalahkan hiruk-pikuk politik di Piala Dunia 2026. Cape Verde memaksa juara dunia Argentina bermain hingga menit-menit akhir, Paraguay menyingkirkan Jerman, dan Lionel Messi, Erling Haaland, Harry Kane, serta Kylian Mbappe bersaing ketat memperebutkan gelar top skor. Semua perhatian tertuju ke lapangan.

Namun, tak lama sebelum Norwegia mengejutkan Brasil dan Inggris menyingkirkan co-hosts atau salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, Meksiko, dalam salah satu laga terbaik turnamen ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump justru ikut campur dan mengubah arah Piala Dunia. Dalam pernyataan di Gedung Putih hari Senin (06/07) waktu setempat, Presiden ke-47 AS tersebut membenarkan kabar yang sudah beredar luas bahwa dirinya meminta FIFA meninjau ulang sanksi terhadap penyerang AS, Folarin Balogun, yang menerima kartu merah dalam kemenangan babak 32 besar atas Bosnia dan Herzegovina. Alasannya sederhana, dia "tidak menganggap itu sebagai pelanggaran."

"Menurut saya, itu adalah dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling terjerat," kata lelaki berusia 80 tahun itu.

"Saya rasa (sanksi) itu akan meninggalkan noda besar. Saya tidak bisa mendikte keputusan mereka. Saya percaya bukan mereka yang memutuskan, saya yakin keputusan itu diambil oleh komisi disiplin. Itu keputusan yang tepat."

Apakah Amerika Siap Menyambut Suporter Sepak Bola Dunia?

03:02

This browser does not support the video element.

Campur tangan Trump tampaknya telah membuat FIFA mencabut peraturan yang melarang pengajuan banding atas kartu merah dan menyatakan bahwa "skorsing otomatis bagi pemain AS Folarin Balogun ditangguhkan selama masa percobaan satu (1) tahun." FIFA mengacu pada Pasal 27, sebuah ketentuan yang luas yang memungkinkan mereka untuk "menangguhkan penerapan sanksi disiplin secara penuh atau sebagian."

Keputusan itu keluar kurang dari 48 jam sebelum AS menghadapi Belgia di perempat final. Trump merayakannya lewat unggahan di media sosial miliknya, Truth Social. "Terima kasih kepada FIFA yang telah melakukan hal yang benar dan membalikkan ketidakadilan besar!"

Kedekatan Trump dengan Presiden FIFA Gianni Infantino sudah lama disorot menjelang turnamen ini, apalagi setelah Infantino menciptakan FIFA Peace Prize yang dianugerahkan kepada Trump pada Desember 2025. Sorotan itu kini kembali jadi sasaran kritik.

Pemain AS Folarin Balogun diusir dari lapangan setelah tinjauan VAR atas pelanggaran yang dia lakukan terhadap pemain Bosnia, Tarik MuharemovicFoto: Phil Noble/REUTERS

Respons AS dan Belgia atas keputusan soal Balogun

Belgia, seperti bisa diduga, tidak terima. Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) langsung mengeluarkan pernyataan keras pada hari Minggu (05/06), dengan menyebut bahwa mereka "tercengang" dengan keputusan itu.

"Saya tidak tahu kalau 5 Juli itu sama dengan 1 April (Hari April Mop) di FIFA," sindir pelatih Belgia Rudi Garcia yang tampak geram dalam konferensi pers jelang laga.

Dikutip The Athletic, pada Senin (06/07) RBFA sempat diberi hak untuk mengajukan banding ke anggota komite banding FIFA yang tidak berafiliasi dengan UEFA maupun CONCACAF. Namun, banding itu ditolak FIFA hanya beberapa jam sebelum laga Senin (06/07) melawan AS untuk memperebutkan tempat di perempat final.

Pada hari yang sama, RBFA merilis pernyataan pedas. Mereka menuding FIFA "menolak merespons permintaan sah RBFA" untuk mendapat penjelasan atas keputusan itu dan bahwa "meskipun RBFA hanya meminta penjelasan yang sah, FIFA sendiri yang membuat mekanisme banding lalu langsung memastikan bahwa banding itu dinyatakan tidak dapat diterima." Federasi itu juga berjanji akan "terus berjuang dalam beberapa jam, hari, dan bulan ke depan demi membela prinsip etika, kompetisi yang adil, dan kepentingan sepak bola secara keseluruhan."

Pelatih AS, Mauricio Pochettino, menilai persoalan ini "dicampuradukkan" oleh pihak-pihak yang memiliki "agenda" tertentu yang tidak dia sebutkan secara spesifik.

"Kalau ada yang dirugikan dalam situasi ini, justru itu adalah Amerika Serikat. Adakah yang bisa membenarkan anggapan bahwa kami tidak dihukum? Maksud saya, bermain 30 sampai 35 menit dengan sepuluh pemain di laga knockout Piala Dunia? Itu bukan keuntungan buat kami. Pada akhirnya, kami bukan korban, tapi kami juga bukan penjahat dalam cerita ini."

Reaksi dunia sepak bola terhadap keputusan FIFA

Pihak-pihak yang tak punya kepentingan langsung dalam persoalan ini, nyaris seluruhnya berpihak pada Belgia. AS jelas bukan satu-satunya tim yang kecewa dengan keputusan yang mereka anggap keliru. UEFA, yang belakangan semakin berseberangan dengan FIFA, menyebut keputusan itu "melewati garis merah" dalam pernyataan resmi hari Senin (06/07).

Pelatih Norwegia Stale Solbakken sudah mengkritik FIFA, bahkan sebelum keterlibatan Trump terungkap.

"Ini kesalahan besar dari FIFA. Bukan kesimpulan yang tepat. Dia mendapat kartu merah dan VAR memastikan itu kartu merah. Artinya dia harus absen satu laga," katanya. "Menurut saya, hal yang sangat buruk dari situasi ini adalah, jika AS mengalahkan Belgia, mereka akan selalu memiliki beban tambahan terkait hal itu. Para pemain Belgia pasti akan sangat marah."

Norwegia kalahkan Brasil, tetapi pelatih mereka tetap mengkritik FIFAFoto: Vincent Carchietta/IMAGN IMAGES/REUTERS

Federasi Sepak Bola Jerman, lewat Presiden DFB Bernd Neuendorf juga meminta agar segera ada klarifikasi.

"Kesan bahwa ada intervensi politik aktif dalam olahraga harus segera dihilangkan secara tuntas. Integritas kompetisi dan kredibilitas FIFA jadi taruhannya," katanya, sambil mendesak FIFA menjelaskan keterlibatan Trump.

Sesama warga Jerman, pelatih Inggris Thomas Tuchel, mempertanyakan apakah kasus ini akan jadi preseden.

"Di mana batasnya dan di mana ini berakhir? Bisa dibatalkan atau tidak? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana garis batasnya, itu pertanyaan saya. Saya tidak punya jawabannya," katanya.

Kasus Balogun berpotensi jadi preseden?

Sambil menunggu hasil banding Belgia, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Tuchel tersebut pasti akan menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan oleh setiap federasi yang masih tersisa di turnamen ini dan mungkin bahkan beberapa yang sudah tersingkir. Jika kartu merah ini tiba-tiba bisa dibatalkan, pikir mereka, mengapa tidak yang lain? Atau gol yang dianulir? Atau kartu kuning yang mengakibatkan skorsing untuk pertandingan penting?

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas kartu kuning kontroversial yang diterima gelandang Bayern München, Michael Olise, dalam pertandingan babak 16 besar Prancis melawan Paraguay, menurut laporan media lokal. Dua kartu kuning dalam pertandingan yang berbeda di turnamen ini berarti skorsing satu pertandingan, hukuman yang sama dengan yang dijatuhkan kepada Balogun.

Presiden FIFA Gianni Infantino membantah bahwa keputusan soal Balogun dipengaruhi Trump dan menyatakan keputusan itu sepenuhnya berasal dari komite disiplin FIFA.

"Dalam percakapan kami, saya jelaskan bahwa ada proses hukum yang sedang berjalan," kata Infantino dalam pernyataan resminya, menambahkan bahwa badan-badan yudisial FIFA bersifat independen. "Begitulah cara kerja sistem FIFA dan ini prinsip yang akan selalu saya pegang," ujarnya.

Trump pun menegaskan bahwa dia hanya meminta agar kartu merah itu ditinjau ulang, bukan meminta pembatalan sanksi secara langsung.

Namun, laga di lapangan berkata lain bagi AS. Belgia memastikan tempat di perempat final setelah menang 4-1 atas AS di Seattle. Penyerang Atalanta, Charles De Ketelaere, mencetak dua gol untuk Belgia, disusul gol ketiga Hans Vanaken setelah kesalahan kiper AS Matt Freese. Romelu Lukaku menambah gol keempat di masa injury time, lagi-lagi memanfaatkan blunder pertahanan AS. Malik Tillman, yang lahir di Jerman, sempat menyamakan kedudukan untuk AS pada menit ke-31.

Belgia kalahkan AS dalam laga kontroversialFoto: Jamie Squire/Getty Images/AFP

Kekalahan ini menandai akhir perjalanan AS di Piala Dunia 2026, sekaligus menjadikan mereka negara tuan rumah terakhir yang tersingkir dari turnamen. Belgia selanjutnya akan menghadapi Spanyol di Los Angeles pada Jumat, 10 Juli.

Keputusan FIFA soal Balogun tetap menuai kritik luas dari dunia sepak bola, termasuk UEFA dan sejumlah asosiasi nasional serta tokoh-tokoh terkemuka di dunia sepak bola. Masih belum jelas apakah kepala negara atau pemerintahan lain akan ikut turun tangan seperti Trump, atau apakah mereka punya akses sedekat itu ke telinga Infantino.

FIFA mungkin akan menghadapi gelombang keluhan dan banding. Namun, masih harus dilihat apakah ada kepala negara atau pemerintahan lain yang akan ikut campur, atau apakah mereka akan mendapat perhatian Infantino seperti halnya Infantino.

Di tengah ketidakpuasan yang sudah tinggi terhadap FIFA, wajar bila muncul pertanyaan terkait dampak jangka panjang dari keputusan ini terhadap Infantino dan organisasinya.

Apakah pernah ada kartu merah Piala Dunia yang dibatalkan sebelumnya?

Tidak persis sama. Garrincha dari Brasil pernah dikartu merah saat melawan Chile di semifinal Piala Dunia 1962, tetapi dia tetap bermain saat Brasil menjuarai final. Bedanya, di masa itu sanksi ditentukan oleh komite, bukan skorsing otomatis satu pertandingan.

Preseden yang lebih dekat justru muncul tak lama sebelum turnamen ini dimulai. Cristiano Ronaldo sempat dijatuhi sanksi larangan bermain tiga laga akibat kartu merah di laga kualifikasi Piala Dunia. Namun, beberapa hari setelah makan malam bersama Trump di Gedung Putih pada November 2025, sanksinya dipangkas dari tiga laga menjadi satu, dengan dua laga sisanya ditangguhkan untuk masa percobaan satu tahun, mirip dengan kasus Balogun. Ronaldo akhirnya hanya absen satu laga saat melawan Armenia dan tidak melewatkan satu pun laga Portugal di Piala Dunia.

Artikel pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Alfi Milano Anadri

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait