Pidato Bush Tentang Iran
15 Februari 2007
Harian Italia „La Repubblica“ berkomentar:
„George W. Bush tidak ingin mengikuti contoh para pendahulunya pada masa perang dingin dan ia tidak ingin mengadakan pertemuan dengan musuh nomor satunya, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Pada konfrensi pers pertamanya tahun ini Bush mengumumkan, bahwa hal itu tidak akan ada artinya. Pada saat yang bersamaan ia mencoba menanggalkan gambaran seorang laki-laki terisolasi dan merasa rendah diri karena kegagalannya, yang akan mengalami kemerosotan. Tetapi presiden Amerika Serikat ini terutama ingin meredam konflik dengan Teheran. Ia tidak ingin mempermalukan pimpinan di Teheran dan mengkritik secara terang-terangan bahwa hal ini berhubungan langsung dengan pengiriman bahan peledak ke Irak, yang sekarang ini menghancurkan penser-panser dari Pentagon.“
Sementara harian Luxemburg „Luxemburger Wort“ mengomentari serangan yang di Baluchistan, Iran. Harian ini menulis:
„Ditengah-tengah persaingan diplomatis antara Republik Islam Iran dan dunia Barat dalam uji coba atom Teheran, serangan di Baluchistan menunjukkan, mengapa hubungan dengan rezim para Mullah merupakan hal yang sangat peka bagi Amerika Serikat dan Uni Eropa. Di satu sisi, Eropa dan Amerika Serikat pasti terpengaruh, jika Presiden Iran Ahmadinejad menuntut dihilangkannya Israel dari peta dunia. Sementara pendahulunya, Khatami, menampilkan diri di dunia barat sebagai seorang pembaharu yang dapat diperhitungkan. Ahmadinejad menyerukan tuntutan untuk mengadakan intervensi dengan peryataan-peryataannya di Yerusalem dan Washington, agar Timur Tengah dapat melindungi diri dari bahaya Hitler ke-2. Dalam situasi sekarang ini melemahnya Iran bisa berbahaya bagi stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah. Serangan di Baluchistan menunjukkan, bahwa, terlepas dari Ahmadinejad, dunia barat harus selalu mengingat konsekuensinya jika mereka campur tangan di Iran.“
Tema lain yang menjadi sorotan berbagai harian internasional adalah situasi perusahaan mobil DaimlerChrysler. Harian Swiss „Neue Zürcher Zeitung“ menulis:
„Perpisahan dengan Chrysler – setelah perpisahan dengan Mitsubishi tahun 2005 – dapat berarti pembongkaran total mantan perusahaan dunia. Tetapi hal ini tidak akan disesali. Seperti gabungan perusahaan lain, DaimlerChrysler belum membuktikan, bahwa gabungan perusahaan dapat dipimpin dengan sukses. Hal ini terlihat sangat sulit, jika gabungan perusahaan yang mempunyai spesialisasi pasar kelas atas juga ingin mengatur produk-produk tambahan di pasar masal. Contoh BMW menunjukkan, sejauh apa sebuah gabungan perusahaan, yang memang lebih kecil tetapi lebih terfokus dan terorganisir, dapat melakukannya.“
Sementara itu harian Jerman „Süddeutsche Zeitung“ berkomentar:
„Drama DaimlerChrysler adalah salah satu dari banyak drama perusahaan lainnya. Walaupun ini menyangkut perusahaan besar. Hal ini khas kesombongan, dorongan untuk bermain dan keangkuhan banyak manajer, juga orang Jerman. Ini adalah sebuah monopoli luar biasa yang membuat orang murka. Seharusnya pengalaman sudah mengajarkan, bahwa perubahan yang dilakukan hanya karena ingin berubah saja tidak ada gunanya. Dua per tiga atau bahkan tiga per empat gabungan perusahaan pada akhirnya gagal.”