1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pimpinan Baru Goethe Institut Indonesia

Dyan Kostermans10 November 2007

Goethe Institut adalah Institut Budaya Jerman. Sejak Agustus lalu Goethe Institut Indonesia memiliki seorang pimpinan baru, Franz Xaver Augustin.

Setelah sebelumnya mengepalai Goethe Institut di Hanoi, Vietnam, Franz Xaver Augustin menjadi pimpinan Institut Kebudayaan Jerman, Goethe Institut Indonesia. Tapi tanggungjawabnya bukan semata memimpin Goethe Institut di Jakarta, Bandung dan Surabaya tapi juga di 10 Goethe Institut di kawasan Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, karena Goethe Institut Indonesia merupakan Regionalinstitut. Kepada Deutsche Welle Augustin menuturkan

“Sebagai pimpinan dari 10 Goethe Institut tersebut, saya mengorganisir kegiatan bersama, mengelola urusan administrasi dan anggaran belanja masing-masing institut. Sekaligus saya juga pimpinan Goethe Institut di Jakarta. Saya memiliki tim regional yang baik, seorang kolega kepala bagian program budaya di Jakarta dan Indonesia, seorang rekan yang mengepalai program bahasa, pendidikan guru-guru kursus bahasa Jerman, dan seorang kolega yang bertanggungjawab untuk bidang informasi dan perpustakaan, dan seorang kolega sebagai kepala bidang administrasi regional. Itulah anggota tim yang berasal dari Jerman di samping semua kolega dan karyawan Indonesia yang ramah dan baik.”

Meskipun dalam tiga bulan pertama masa tugasnya belum berkesempatan mengunjungi Goethe Institut di Australia tapi Augustin, sudah mengadakan perjalanan ke Goethe Institut di negara yang menjadi lingkup tugasnya.

“Kawasan ini memang bukan hal baru bagi saya. Goethe Institut di kawasan ini meliputi Hanoi, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapur, satu institut baru di Saigon, untuk selanjutnya cabang di Pnom Penh dan mungkin juga di Yangun dan Manila. Dua institut di Indonesia, Jakarta dan Bandung, serta satu lembaga budaya di Surabaya. Dan dua institut di Australia, Sydney dan Melbourne. Serta Wellington di Selandia Baru.

Bahasa dan Budaya merupakan program utama Goethe Institut. Lebih lanjut Franz Xaver Augustin, menjelaskan perbedaan lingkup kegiatan program bahasa dan budaya

“Seperti bisa dilihat dari namanya, yang satu mengkonsentrasikan diri pada tawaran menguasai bahasa Jerman bagi mitra Indonesia dan mitra di kawasan tersebut yang berminat mempelajarinya. Dan yang lainnya adalah kerjasama budaya. Kami lebih sedikit mengekspor program budaya Jerman ke sini atau produk murni budaya Jerman, melainkan mencoba melakukan interaksi budaya, yakni mengkonsentrasikan diri pada produksi bersama, dan bekerja sama dengan seniman di sini apakah itu seni musik, seni tari atau teater. Kami jarang sekali mendatangkan grup seni dari Jerman hanya sekedar untuk tampil sini untuk kemudian pulang lagi. Kami selalu mencoba mengorganisir jalinan kerjasama antara para seniman Jerman dengan seniman pribumi.”

Dengan tugas sebelumnya sebagai pimpinan Goethe Institut di Hanoi dan jabatan regionalnya sekarang Franz Xaver Augustin harus sering mengadakan perjalanan ke negara lainnya. Augustin melihat keistimewaan yang dimiliki Indonesia

“Sebelumnya saya bertugas lima tahun di Vietnam. Terdapat kesamaan antara Vietnam dan Indonesia. Keduanya memiliki hubungan yang intensif dengan Jerman. Banyak orang terutama yang bergerak di sektor budaya mengenyam pendidikan di Jerman. Selian itu banyak juga yang menguasai bahasa kami, mengenal sifat budaya kami dan mengenal kualitas kinerja yang kami tawarkan di bidang budaya di Jerman. Itu situasi yang istimewa, yang tidak kami temui misalnya di Thailand atau Malaysia. Sudah menjadi tradisi bahwa pemuda-pemuda Indonesia pergi ke Jerman untuk menempuh pendidikan. Kami baru saja menerima tamu gubernur baru Jakarta Fauzi Bowo di Goethe Institut. Ia adalah selebriti, alumni universitas Jerman. Ia menempuh program doktornya di Braunschweig dan Kaiserslautern. Dan pendidikan di Jerman ini menjadi bekal yang membentuk kepribadiannya, yang tentunya berpengaruh pada cara kerjanya. Dan ia adalah gubernur Jakarta pertama yang dipilih secara demokratis.”